Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Puspasari


Saya bertemu Puspasari pada bulan Mei 2018 di kelas filsafat ilmu yang diadakan oleh Kaka Cafe. Momen itu bertepatan dengan meninggalnya ibu. Di pagi hari, kami memakamkan ibunda dan malam harinya, saya berangkat mengajar dengan suasana penuh kesedihan. Mengapa saya tetap berangkat? Entah, mungkin karena saya tidak tahu lagi harus berbuat apa di tengah kebingungan ditinggal ibu. Di kelas pertemuan pertama tersebut, saya sebenarnya tidak tahu ada Puspa karena ya itu, mungkin saya juga sedang tidak berkonsentrasi. 

Pada pertemuan-pertemuan berikutnya, saya mulai sadar ada Puspa di antara murid-murid kelas tersebut dan kami akhirnya mengobrol beberapa kali. Singkat cerita, kami menjadi sering berjumpa di luar kelas dan pada bulan Juli akhirnya memutuskan untuk saling berkomitmen. Sejak awal menjalani hubungan khusus ini, memang sudah ada pembicaraan tentang pernikahan. Saya tidak tahu kenapa Puspa tampak tertarik dengan ide tersebut, padahal di usianya yang waktu itu masih 23 tahun dan menjalani magang sebagai dokter, rasanya masih banyak yang bisa ia lakukan ketimbang mengurung diri di dalam institusi bernama pernikahan. 

Di sisi lain, saya baru saja menjalani masa-masa menjadi duda dalam waktu sekitar setahunan. Entah mengapa, saya juga tergolong berani untuk membicarakan pernikahan padahal sama sekali belum sembuh dari luka akibat kegagalan sebelumnya. Saya melihat Puspa benar-benar tidak keberatan dengan status saya, termasuk dalam memahami kesedihan beruntun yang saya alami akibat perceraian dan kematian ibunda. Ia juga tampak tidak mempunyai masalah dengan kenyataan bahwa saya sudah memiliki putri. Hal yang menurut saya agak mengherankan bagi usianya yang masih tergolong muda. 

Perjalanan menuju pernikahan ini ternyata sangat tidak mudah. Bisa dimaklumi, bahwa orangtua Puspa sempat agak meragukan profil saya yang pernah gagal menjalani pernikahan. Selain itu, usia saya juga terpaut jauh dengan Puspa, yaitu sekitar sembilan tahun. Khawatirnya, Puspa diajak untuk mengarungi pola pikir saya yang "terlampau dewasa", yang tampak terlalu realistis, sementara Puspa sendiri masih dalam kondisi mengejar cita-cita yang masih luas kemungkinannya. 

Dua tahun lebih kami menjalani hubungan sambil pelan-pelan meyakinkan orangtuanya bahwa kami memang berniat menikah. Akhirnya di pertengahan tahun 2020, restu tersebut datang. Berangkat dari izin kedua orangtuanya, akhirnya kami melangsungkan pernikahan tanggal 16 Agustus 2020 dengan undangan terbatas hanya untuk saudara-saudara saja karena pesta dilakukan masih di masa pandemi. 

Hari ini adalah setahun tepat pernikahan kami. Pernikahan yang tidak bisa dikatakan ideal, kalau yang ideal itu diukur dari standar-standar umum masyarakat seperti punya rumah atau punya anak. Kami berjuang setiap hari mengerjakan ini itu untuk sekadar hidup, sambil menikmati momen-momen kecil yang membuat sedih ataupun tertawa. Kami mempraktikkan hidup yang tanpa arah dan tujuan, tetapi dengan demikian justru kami merasa tidak pernah tersesat. 

Puspa bagi saya adalah sosok istri yang luar biasa. Ia mencoba terus-terusan memahami saya yang aneh dan kompleks ini. Ia tampak sabar (meski tidak jarang terlihat kesal) dan sering kali membuat saya malu karena saya merasa tidak pernah melakukan hal sebaliknya. Meski usianya jauh lebih muda, tetapi ia kelihatan siap menghadapi hari-hari penuh tantangan dan ketidakpastian, hal yang sudah dipikirkannya matang-matang sejak awal memutuskan untuk hidup bersama saya. Selamat hari ulang tahun pernikahan, Sayang, terima kasih sudah bertahan meski saya ini manusia yang penuh kelemahan.


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...