Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Dari mulai tanggal 23 Desember 2015 hingga 2 Januari 2016 kemarin, saya ditinggal sendirian di rumah. Istri dan anak berlibur ke Jakarta. Meski demikian, tinggal sendiri ini bukan semata-mata karena keterpaksaan. Saya pribadi memilih untuk sendirian, alih-alih tidur di rumah orangtua yang jelas lebih nyaman dan tak perlu memikirkan kebersihan, kunci-kunci, lampu-lampu, makan pagi hingga malam, dan sebagainya. Mengapa saya memilih untuk sendirian? Alasannya sederhana -tapi bisa juga dikatakan rumit-: Saya ingin merasakan mengurus rumah seorang diri. Semoga dengan demikian, bisa timbul empati pada istri yang sehari-hari memang memfokuskan kegiatannya pada pekerjaan rumah tangga.
Ternyata memang saya rasakan pekerjaan rumah ini sungguh tidak ada habisnya. Sebelum tidur harus menutup korden, menyalakan lampu, dan memastikan pintu terkunci. Bangun tidur, saya harus melakukan hal yang sebaliknya. Perut lapar, hidangan tidak langsung terhidang. Saya harus menanak nasi, menyiapkan wajan untuk memasak (yang dimasak rata-rata tidak jauh dari kombinasi tahu dan telur), mengecek sisa air di dispenser, sampai yang terpenting: memperhitungkan berapa piring, gelas, dan sendok garpu kotor yang nanti harus saya cuci. Ada juga hal-hal yang di luar kapasitas tangan saya, seperti pel, sapu-sapu, sampai membereskan seprai bekas tidur dan juga memasukkan baju yang habis dicuci laundry ke dalam lemari.
Walhasil, rencana untuk lebih produktif membaca dan menulis karena tinggal sendiri malah gagal total. Waktu dan tenaga saya terkuras habis untuk pekerjaan rumah -tadinya saya pikir, jika waktu produktif saya sekitar sepuluh jam per hari, mau disisakan lima jam untuk beres-beres dan lima jam sisanya untuk membaca dan menulis-. Tapi saya tidak menyesal oleh sebab pelajaran hidup yang lebih berharga dari sekadar membaca dan menulis: Oh, ternyata mengerjakan pekerjaan rumah itu filosofis. Filosofis karena kita berurusan dengan hidup yang lebih konkrit. Kita tidak sedang membicarakan filsafat eksistensialisme yang katanya paling konkrit padahal tetap saja mengabstrakkan diri pada hal-hal terkait kegelisahan dan kecemasan. Tidakkah para tokoh eksistensialis yang didewakan macam Nietzsche, Kierkegaard, Camus, Dostoevsky, hingga Marcel, punya orang-orang yang membersihkan piring mereka sesudah makan, merapikan baju agar bisa difoto dengan epik, sampai menyiapkan kertas untuk mereka menulis? Mungkin saja, tapi orang-orang dengan pekerjaan "kecil" itu tidak pantas dituliskan dalam sejarah. Karena isi sejarah mungkin saja hanya tentang orang-orang yang tidak punya waktu untuk berkutat dengan pekerjaan rumah. Seperti para pemikir Yunani Kuno yang hanya bisa mentereng karena pekerjaan rumahnya sudah selesai oleh para budak.
Walhasil, rencana untuk lebih produktif membaca dan menulis karena tinggal sendiri malah gagal total. Waktu dan tenaga saya terkuras habis untuk pekerjaan rumah -tadinya saya pikir, jika waktu produktif saya sekitar sepuluh jam per hari, mau disisakan lima jam untuk beres-beres dan lima jam sisanya untuk membaca dan menulis-. Tapi saya tidak menyesal oleh sebab pelajaran hidup yang lebih berharga dari sekadar membaca dan menulis: Oh, ternyata mengerjakan pekerjaan rumah itu filosofis. Filosofis karena kita berurusan dengan hidup yang lebih konkrit. Kita tidak sedang membicarakan filsafat eksistensialisme yang katanya paling konkrit padahal tetap saja mengabstrakkan diri pada hal-hal terkait kegelisahan dan kecemasan. Tidakkah para tokoh eksistensialis yang didewakan macam Nietzsche, Kierkegaard, Camus, Dostoevsky, hingga Marcel, punya orang-orang yang membersihkan piring mereka sesudah makan, merapikan baju agar bisa difoto dengan epik, sampai menyiapkan kertas untuk mereka menulis? Mungkin saja, tapi orang-orang dengan pekerjaan "kecil" itu tidak pantas dituliskan dalam sejarah. Karena isi sejarah mungkin saja hanya tentang orang-orang yang tidak punya waktu untuk berkutat dengan pekerjaan rumah. Seperti para pemikir Yunani Kuno yang hanya bisa mentereng karena pekerjaan rumahnya sudah selesai oleh para budak.
.png)
Begitulah kehidupan, banyak proses yang sudah dilalui melalui orang lain, yang nantinya bakal berhubungan dengan proses yang akan atau ingin kita lalui, syukurlah masih ingat untuk merawat diri sendiri , engke deui mah jadi rajin nyeuseuh hahaha...
ReplyDeletePercuma nya urang bermusik di hotel bintang lima mun tara nyeuseuh! haha..
ReplyDeleteDibalik pemikiran yang besar dan brilian, aya nu keur nyeuseuh...
ReplyDelete