Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Sebelum saya memutuskan untuk menikah di tahun 2012, ada perasaan takut oleh sebab kehidupan yang tak lagi heroik. Heroik semacam apa yang saya maksudkan? Begini, ketika jomblo, saya rajin sekali berkomunitas dan melakukan segala-gala yang disenangi seperti main musik suka-suka, menulis suka-suka, dan ikut kegiatan filsafat suka-suka. Bagi saya, itulah heroisme: suatu sikap penuh pengorbanan demi sesuatu yang apa itu namanya, kehidupan, ataupun kebenaran. Saya takut, ketika saya menikah, jadinya saya hanya jadi mementingkan keluarga (rela melakukan apa yang tidak disukai, yang penting sejahtera), sehingga namanya bukan lagi heroik, melainkan pragmatik.
Namun seiring dengan usia pernikahan yang terus bertambah, makna heroik kemudian bagi saya turut bergerak. Begini, jika saya mengatakan bahwa menikah berarti meninggalkan jiwa kepahlawanan yang harusnya saya curahkan untuk kehidupan, demi istri dan anak yang konon lebih sempit dan pragmatik, saya sekarang mendebat: tidakkah mereka (istri dan anak itu), adalah kehidupan juga? Malah pikiran saya lama-lama berkebalikan, dari tadinya cari ilmu setinggi-tingginya agar dibagikan pada masyarakat seluas-luasnya, sekarang hanya berharap, agar ilmu tersebut khususnya bermanfaat untuk anak saya sendiri. Karena saya sekarang punya pikiran: Bahwa dunia bukan tentang yang membentang dari kutub utara ke kutub selatan. Dunia adalah segala pengalaman yang kita gauli beserta seluruh isinya.
Sekarang saya sudah merasa heroik, lebih dari ketika masa-masa sebelum menikah. Karena saya malah secara konkrit: menafkahi kehidupan.
Sumber gambar: https://mystrongmedicine.wordpress.com/2014/06/15/my-father-my-hero-2/

Comments
Post a Comment