Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Jakarta


Sembilan bulan sudah kami tinggal di Jakarta. Sepanjang hidup, memang sudah cukup sering saya pergi ke Jakarta, tapi tidak untuk tinggal dalam waktu yang lumayan lama. Ini adalah kali pertama saya tinggal agak lama di luar kota kelahiran dan tempat saya bertumbuh, Bandung. Saya memilih untuk mengiyakan pindah ke Jakarta karena istri diterima kerja di sana. Oke lah, kenapa enggak untuk nyoba tinggal di luar Bandung? Di Jakarta, saya lebih banyak berdiam di apartemen atau nongkrong di kafe untuk menulis. Sepanjang itu, saya memang ingin lebih fokus menulis sembari mengajar atau mengisi forum di beberapa kesempatan (umumnya masih online). Karena tidak punya kegiatan yang dikatakan rutin (meski menulis itu ya termasuk rutin), saya punya cukup waktu luang untuk bertemu beberapa kawan. 

Apa yang bisa dikatakan tentang Jakarta? Dibandingkan dengan umumnya orang-orang yang saya temui di Bandung, orang-orang di sekitaran apartemen tempat kami tinggal bukanlah orang yang terlalu senang beramah tamah. Mereka tampak fokus pada kesibukannya dan kelihatannya malas berurusan dengan orang yang berada di luar kepentingannya. Tempat kerja istri saya berada dalam sebuah mal dan saya cukup sering nongkrong di sekitar sana sambil menungguinya pulang. Kesan saya tentang orang-orang di tempat itu ya sama: mereka kelihatan begitu sibuk. Memang banyak di antara mereka juga bersantai, tetapi bersantai dalam kesibukannya. Mereka nongkrong, hang out, dalam tempo yang bagi kami orang-orang Bandung, terasa begitu cepat dan agak terburu-buru. 

Namun istilah saya - mereka, kami - mereka, dalam arti tertentu, agak terdengar aneh. Pembagian semacam itu mensyaratkan adanya keterpisahan antara saya, kami, dan mereka, dalam suatu kategori entah apa. Secara eksistensi tentu cukup jelas, bahwa saya, dia, si itu, si ini, orang-orang itu, adalah individu-individu yang berbeda satu sama lain. Tetapi letak permasalahannya adalah ini: jika individu-individu itu berbeda satu sama lain, mengapa saya berani menyatakan individu-individu tersebut dalam himpunan "mereka"? Artinya, kurang lebih, saya menyamakan individu-individu itu, dan individu-individu yang saya anggap "sama" tersebut, adalah berbeda dari saya. Pertanyaannya, apakah "saya" dan apakah "mereka"? 

Saya mengatakan di atas, bahwa "mereka" adalah "sekumpulan orang yang fokus pada kesibukannya dan kelihatannya malas berurusan dengan orang yang berada di luar kepentingannya", "mereka" adalah "sekumpulan orang yang bersantai, tapi bersantai dalam kesibukannya". Namun bagaimana kemungkinan "mereka" melihat "saya"? Mungkin sama saja: "Mereka" (yang di dalamnya ada "saya"), adalah "sekumpulan orang yang fokus pada kesibukannya dan kelihatannya malas berurusan dengan orang yang berada di luar kepentingannya" and so on and so on. Apa artinya? Penilaian saya tentang mereka, bisa jadi sama dengan penilaian mereka tentang saya, yang memang ada di dalam himpunan yang sama, ada-bersama-mereka. 

Poinnya, saya datang ke Jakarta, pada mulanya, dengan dibekali sejumlah teori tentang budaya urban, anti-kapitalisme, dan macam-macam amunisi kritis lainnya, berharap tetap waras dan terbebaskan di tengah kehidupan kota besar yang mengalienasi. Hal semacam itu bisa saja diterapkan, tetapi akan jatuh pada masalah lain: saya justru yang terasing dari sekitar, dengan menjadi "si paling sadar", "si paling kritis", dan lain-lain seolah-olah saya bukanlah seperti "mereka" yang tenggelam dalam rutinitas. Pada akhirnya, sikap solipsis semacam itu tidak melulu dibutuhkan dalam menjalani keseharian yang saya lalui di Jakarta. Saat berada di tengah-tengah orang-orang, letakkan sejenak praduga-praduga tentang masyarakat kontemporer, karena sebelum pikiran kita memikirkannya, kita telah, dan selalu menjadi bagian dari orang-orang itu. Kita adalah orang-orang itu

Jakarta, dengan segala pengalaman teralienasinya, sangat menantang untuk saya. Tapi kelihatannya kami tidak akan berlama-lama di sini. Bandung memanggil, kami mesti pulang. Dari pengalaman teralienasi satu, ke pengalaman teralienasi lainnya. Dalam terang kehidupan kota, kadang hidup berkesadaran hanyalah ilusi. Kehendak bebas hanyalah angan-angan.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...