Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

30hari30film: The Beach (2000)

25 Ramadhan 1434 H


The Beach (2000) adalah film yang disutradarai oleh Danny Boyle dan bercerita tentang kehidupan di sebuah pantai "rahasia". Di pantai tersebut, sebuah komunitas kecil hidup sebagai bentuk pelarian dari kehidupan perkotaan yang menjemukan. Film yang dibintangi oleh Leonardo di Caprio, Virginie Ledoyen dan Guillaime Canet ini mengambil latar di Pulau Phi-Phi di wilayah Phuket, Thailand. 

Motivasi Richard (Leonardo di Caprio) menyeberang ke pantai rahasia tersebut diawali dari keinginannya untuk bertualang di Thailand. Ia menginginkan sebuah petualangan yang benar-benar menantang dan tidak ditopang oleh rasa aman. Keinginannya ini terjawab lewat peta yang diberikan oleh Daffy (Robert Carlyle). Setelah memberikan peta, Daffy bunuh diri dan meninggalkan rasa penasaran dalam diri Richard untuk benar-benar menemukan pulau yang tertera dalam peta tersebut. Ia mengajak kedua turis lainnya, Françoise (Virginie Ledoyen) dan Étienne (Guillaime Canet) untuk ikut menyeberang bersamanya. Ternyata pantai yang diidam-idamkan tidak sesepi yang mereka kira. Ada komunitas yang sudah terlebih dahulu bermukim. Mereka bertiga kemudian mencoba tinggal, beradaptasi, hingga akhirnya merasakan sejumlah keganjilan.

Film ini adalah film yang cukup bermuatan filosofis. Kita diajak untuk merenungkan apa sesungguhnya hakikat dari berkumpul bersama sesama manusia. Komunitas yang tinggal di pantai tersebut pada mulanya bertujuan untuk lepas dari kejenuhan hidup di perkotaan. Namun pelarian tersebut ternyata menciptakan suatu kecenderungan-kecenderungan sosial yang tidak baru sama sekali. Mereka, sebagaimana orang modern di perkotaan pada umumnya, pada akhirnya tetap tumbuh menjadi pribadi yang individualistik dan seperti kata Hobbes, menjadi homo homini lupus (manusia sebagai serigala bagi yang lainnya). Meski punya bahan untuk direnungkan, The Beach bukanlah film yang spesial.

Rekomendasi: Bintang Dua

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...