Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
28 Ramadhan 1434 H
Pather Panchali dibuat dengan dana yang relatih rendah yakni US $ 3000. Tapi di tangan sutradara Satyajit Ray yang banyak terpengaruh oleh Neorealisme Italia, film yang berpusat pada seorang anak bernama Apu tersebut menjadi film yang berkualitas. Meski film tersebut adalah film pertamanya dan diperankan oleh aktor-aktor non-profesional, Pather Panchali -yang merupakan bagian pertama dari trilogi yang biasa disebut dengan Apu Trilogy-, meraup respon positif dan diakui oleh sutradara ternama Hollywood, Martin Scorsese, sebagai film favoritnya. Pather Panchali sering disebut-sebut sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa.
Dengan kualitas visual yang seadanya, Pather Panchali bercerita tentang kehidupan Apu (Subir Banerjee) dan keluarganya yang miskin. Apu, bungsu dari dua bersaudara (kakaknya bernama Durga), dibesarkan oleh ayah yang bekerja sebagai pendeta tapi juga masih menyimpan harapan untuk menjadi pujangga. Meski pendapatan ayahnya tersebut kecil untuk menghidupi keluarga, namun Apu dan Durga tetap menikmati masa kecilnya dengan bermain bersama. Film ini lambat laun menampakkan tragedinya ketika satu per satu anggota keluarga Apu meninggal. Apu dipaksa untuk mandiri menghadapi kenyataan demi kenyataan tersebut.
Pather Panchali adalah film dengan cerita yang relatif sederhana. Namun bagaimana Satyajit Ray menampilkan kesederhanaan tersebut, menjadi hal yang menarik untuk kita cermati. Gambar-gambar yang disajikan oleh Ray, meski hitam putih, dihadirkan sedemikian rupa sehingga tampak anggun dan puitik -Mengingatkan kita pada bagaimana teknik pengambilan gambar yang dilakukan oleh Akira Kurosawa-. Caranya melakukan montage, caranya melakukan mise en scène, menunjukkan bahwa Ray tidak terhambat oleh dana dan keamatiran pemainnya. Tidak dapat dipungkiri, film ini sangat penting untuk ditonton, terutama bagi mereka yang kadung mempunyai stereotip bahwa film India harus berisi tarian dan nyanyian.
Rekomendasi: Bintang Lima
Comments
Post a Comment