Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
20 Ramadhan 1434 H
Terry Gilliam, sutradara film Brazil (1985), adalah anggota grup komedi terkenal asal Inggris bernama Monty Python. Kegilaannya tersebut tidak hanya disalurkan lewat Monty Python, melainkan juga melalui film-film yang ia sutradarai sejak tahun 1975. Hampir keseluruhan filmnya mengambil tema fantasi, futuristik, psikedelik, dan surealistik -tentu saja termasuk Brazil, filmnya yang keempat-. Film yang dibintangi oleh Jonathan Pryce, Robert de Niro, Kim Greist, dan Michael Palin ini mengambil tema masa depan yang distopis.
Film Brazil berpusat pada Sam Lowry (Jonathan Price) yang berupaya mencari perempuan yang kerap hadir dalam mimpinya. Mimpinya tersebut menjadi semacam pelarian dari hidupnya yang berat: Bekerja di pangkat rendah, keadaan rumah yang mengkhawatirkan, dan situasi kota yang kompleks. Lowry punya peluang untuk menemukan perempuan dalam mimpinya yang diketahui bernama Jill Layton (Kim Greist), dengan bekerja pada kantor informasi. Lowry, di tengah-tengah geliat perkotaan yang absurd, kemudian mengejar Jill hingga ke ke dunia nyata.
Brazil, meski terdengar sederhana ceritanya, namun sebenarnya tidak terlalu mudah dimengerti. Gilliam agaknya lebih banyak bermain dengan visualisasi yang sureal sambil memberikan tekanan pada dunia masa depan yang jauh dari kegemerlapan dan harapan. Meski punya unsur komedi, namun sebagaimana Monty Python, candaannya lebih bernuansa gelap dan satir. Kita tahu seorang Gilliam, seperti dalam film lainnya macam The Adventures of Baron Munchausen, Fear and Loathing in Las Vegas, atau The Imaginarium of Doctor Parnassus, punya gaya mise-en-scene yang unik sehingga apa yang ditampilkannya punya kesan halusinatif dan dream-like. Film ini istimewa karena gaya Gilliam yang spesial dan rasa humornya yang kelam.
Rekomendasi: Bintang Tiga

Comments
Post a Comment