Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
20 Ramadhan 1434 H
Terry Gilliam, sutradara film Brazil (1985), adalah anggota grup komedi terkenal asal Inggris bernama Monty Python. Kegilaannya tersebut tidak hanya disalurkan lewat Monty Python, melainkan juga melalui film-film yang ia sutradarai sejak tahun 1975. Hampir keseluruhan filmnya mengambil tema fantasi, futuristik, psikedelik, dan surealistik -tentu saja termasuk Brazil, filmnya yang keempat-. Film yang dibintangi oleh Jonathan Pryce, Robert de Niro, Kim Greist, dan Michael Palin ini mengambil tema masa depan yang distopis.
Film Brazil berpusat pada Sam Lowry (Jonathan Price) yang berupaya mencari perempuan yang kerap hadir dalam mimpinya. Mimpinya tersebut menjadi semacam pelarian dari hidupnya yang berat: Bekerja di pangkat rendah, keadaan rumah yang mengkhawatirkan, dan situasi kota yang kompleks. Lowry punya peluang untuk menemukan perempuan dalam mimpinya yang diketahui bernama Jill Layton (Kim Greist), dengan bekerja pada kantor informasi. Lowry, di tengah-tengah geliat perkotaan yang absurd, kemudian mengejar Jill hingga ke ke dunia nyata.
Brazil, meski terdengar sederhana ceritanya, namun sebenarnya tidak terlalu mudah dimengerti. Gilliam agaknya lebih banyak bermain dengan visualisasi yang sureal sambil memberikan tekanan pada dunia masa depan yang jauh dari kegemerlapan dan harapan. Meski punya unsur komedi, namun sebagaimana Monty Python, candaannya lebih bernuansa gelap dan satir. Kita tahu seorang Gilliam, seperti dalam film lainnya macam The Adventures of Baron Munchausen, Fear and Loathing in Las Vegas, atau The Imaginarium of Doctor Parnassus, punya gaya mise-en-scene yang unik sehingga apa yang ditampilkannya punya kesan halusinatif dan dream-like. Film ini istimewa karena gaya Gilliam yang spesial dan rasa humornya yang kelam.
Rekomendasi: Bintang Tiga

Comments
Post a Comment