Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
24 Ramadhan 1434 H
Metal: A Headbanger's Journey adalah film dokumenter yang bercerita tentang musik metal. Segala tetek bengek tentang musik yang konon dipelopori oleh Black Sabbath tersebut, dibahas oleh Sam Dunn dari aspek keilmuannya sebagai seorang antropolog. Sam, yang menyukai musik metal sejak usia dua belas tahun, mengajak penonton untuk mengenali bahwa metal adalah sebentuk identitas kultural -yang dalam konteks urban bisa dianggap sebagai sebuah kebudayaan tersendiri-.
Metal: A Headbanger's Journey adalah film dokumenter yang bercerita tentang musik metal. Segala tetek bengek tentang musik yang konon dipelopori oleh Black Sabbath tersebut, dibahas oleh Sam Dunn dari aspek keilmuannya sebagai seorang antropolog. Sam, yang menyukai musik metal sejak usia dua belas tahun, mengajak penonton untuk mengenali bahwa metal adalah sebentuk identitas kultural -yang dalam konteks urban bisa dianggap sebagai sebuah kebudayaan tersendiri-.
Dalam Metal: A Headbanger's Journey, kita diajak untuk terlebih dahulu mencari akar paling keras dari musik metal. Setelah melalui wawancara disana-sini, maka Sam mendapatkan kesimpulannya: Black Sabbath adalah pelopornya. Suara gitar yang katanya mempunyai interval tritonus -konon interval tersebut "dekat dengan iblis"- menjadi fundamen dasar musik metal yang mula-mula diletakkan oleh band asal Birmingham tersebut. Kemudian Sam berkeliling ke berbagai negara untuk mendapatkan fakta-fakta lebih lanjut. Ia pergi ke salah satu festival metal terbesar di dunia yakni di Wacken, Jerman, serta bertemu dengan musisi metal ternama seperti Bruce Dickinson (Iron Maiden), Tom Araya (Slayer), Lemmy (Motorhead), dan George "Corpsegrinder" Fisher (Cannibal Corpse). Mereka diwawancara secara bergantian untuk menjawab apapun tentang musik metal agar kata Sam, "Orang lebih mengenal tentang musik ini sehingga tidak ada lagi yang mispersepsi."
Sesuai apa yang diutarakan oleh Sam, film tersebut memang berhasil memberikan berbagai sudut pandang tentang musik metal. Antropolog tersebut berupaya menjawab stereotip-stereotip yang kadung melekat pada musik metal mulai dari tentang kultur, sensor lirik, isu-isu kematian, hingga pemujaan terhadap setan. Meski beberapa stereotip yang melekat tersebut memang ada benarnya setelah dikonfirmasi via wawancara (seperti Gaahl dari band Gorgoroth yang ia mengaku terinspirasi oleh setan), tapi juga tidak sedikit yang mengatakan bahwa citra seram yang ditampilkan sesungguhnya tidak lebh dari aksi panggung dan luapan sensasi semata. Film dokumenter Metal: A Headbanger's Journey adalah film yang cukup penting bukan saja bagi mereka penggemar musik metal, tapi juga bagi mereka yang hendak bersentuhan untuk pertama kalinya sehingga tidak mispersepsi terhadap kondisi sosio-kulturalnya yang cukup kompleks.
Rekomendasi: Bintang Empat

Comments
Post a Comment