Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

30hari30film: The Doors (1991)

13 Ramadhan 1434 H



Jim Morrison adalah ikon musik rock yang masuk dalam jajaran Klub 27 -adalah mereka yang meninggal di usia 27 tahun semacam Jimi Hendrix, Janis Joplin, dan Kurt Cobain-. Tidak hanya kematiannya di usia muda dan masa jaya yang membuat ia dikenang, melainkan juga karya-karya puitiknya yang diekspresikan melalui kelompok musik The Doors. Morrison adalah seseorang yang dipuja sekaligus dibenci. Ia dipuja karena kejeniusan dalam merangkai kata plus aksi panggung yang memikat, tapi ia juga dibenci karena ketidakmampuannya mengontrol diri akibat ketergantungan pada alkohol maupun obat-obatan. Hal yang terakhir ini yang menjadi titik berat film The Doors yang disutradari oleh Oliver Stone. Ia ingin menunjukkan sisi kehidupan Morrison yang menjadi pesakitan -yang membuat film tersebut justru kurang disukai oleh para personil The Doors seperti Manzarek, Krieger, dan Densmore-.

Film The Doors berpusat pada kehidupan Morrison (Val Kilmer) dari mulai ia mendirikan band The Doors hingga kematiannya. Dalam film berdurasi 2 jam 20 menit tersebut, yang dominan disorot adalah bagaimana ketergantungan Morrison pada alkohol dan obat-obatan membuat reputasi ia dan bandnya merosot perlahan-lahan. Morrison lebih banyak digambarkan sebagai pembuat onar -seperti misalnya kala di atas panggung, beberapa kali penampilan bandnya harus diakhiri sebelum waktunya karena sang vokalis terlalu mabuk-. Hubungannya dengan pacarnya, Pamela Courson (Meg Ryan), rekan-rekan satu band, produser rekaman, hingga polisi menjadi runyam akibat ketidakmampuan Morrison dalam mengendalikan diri.

Meski seperti lebih banyak menyoroti citra negatif dari Morrison -fakta yang ditolak oleh rekan-rekan bandnya-, namun film The Doors tetap merupakan karya Stone yang menarik. Pertama, akting dari Kilmer sangat baik dalam mengimitasi sang bintang. Kedua, adalah bagaimana Stone tampak asyik bermain dengan sorotan kamera yang goyang dan tidak stabil. Agaknya hal tersebut ditujukan untuk memberikan efek psikedelik agar sesuai dengan musik The Doors dan juga perasaan Morrison yang selalu berada di bawah pengaruh alkohol dan obat-obatan. Namun bagi mereka yang tidak mengenal Morrison dan The Doors, mungkin film ini akan kurang berkesan.

Rekomendasi: Bintang Tiga

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...