Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

30hari30film: Wedding Dress (2009)

23 Ramadhan 1434 H

Wedding Dress (2009) adalah film Korea (Selatan) lainnya yang bertema tragedi. Disutradarai oleh Kwon Hyeong-Jin, film ini bercerita tentang seorang anak bernama So-ra (Kim Hyang Gi) yang menghabiskan waktu bersama ibunya, Go-eun (Song Yun Ah), di hari-hari terakhir hidupnya. Sejak sang ibu divonis kanker rahim, hubungan keduanya berubah menjadi jauh lebih erat. Tadinya, Go-eun lebih banyak menghabiskan waktu di pekerjaannya sebagai perancang gaun sedangkan So-ra lebih sering diurus oleh bibinya. 

Wedding Dress adalah film yang menarik karena kita dimanjakan oleh akting Kim Hyang Gi yang sanggup menampilkan sisi jenaka dan memilukan sekaligus. Meski pemicu konflik sebenarnya terletak pada penyakit yang diderita oleh sang ibu, namun yang menjadi sentral film adalah bagaimana dinamika perasaan So-ra ditampilkan. Kita bisa jadi merasa sedih bukan disebabkan oleh kepergian Go-eun, melainkan bagaimana seorang So-ra, yang lugu, menyikapi tragedi ini dengan ketegaran. 

Film ini sedikit banyak mengingatkan pada Life is Beautiful karya sutradara Roberto Benigni. Keduanya punya kesamaan, yaitu sama-sama mempunyai tema "ketegangan" antara bagaimana seorang dewasa mengatasi ketragisan hidupnya, dengan kenyataan bahwa dalam waktu bersamaan ia harus menjelaskan problem tersebut pada anaknya dengan bahasa yang bijaksana. Ketegangan semacam ini bisa jadi merupakan "formula kesedihan" yang laku dijual. 

Rekomendasi: Bintang Tiga Setengah

Comments