Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
27 Ramadhan 1434 H
Malcolm X (1992) adalah film yang menceritakan tentang biografi pejuang orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat bernama Malcolm X. Film yang disutradarai oleh Spike Lee tersebut menampilkan akting Denzel Washington yang sangat baik dalam memerankan tokoh yang lahir di tahun 1925 ini. Film Malcolm X, yang berdurasi lebih dari tiga jam, cukup lengkap dalam menceritakan kejadian-kejadian penting dalam kehidupan orang yang bernama asli Malcolm Little tersebut.
Film dimulai dari bagaimana Malcolm Little digambarkan mempunyai masa kecil yang traumatik karena keluarganya yang berkulit hitam kerapkali diteror oleh kelompok rasialis bernama Ku Klux Klan. Ayah Malcolm digambarkan sebagai pendeta yang mengajak jemaatnya untuk kembali ke tanah kelahirannya di Afrika. Katanya, Amerika Serikat bukanlah tempat yang aman bagi kita semua. Rupanya rasialisme yang diterima Malcolm sejak kecil ini membentuk kepribadiannya ketika beranjak dewasa. Ia berkarir di Nation of Islam dan bersama Elijah Muhammad, ia menjadi orator ulung dalam menyebarkan keyakinan bahwa seyogianya orang kulit hitam dipisahkan dari orang kulit putih -alih-alih dileburkan-. Malcolm Little kemudian mengganti namanya menjadi Malcolm X. Katanya, "X" menggantikan nama budak kami sebelumnya. Nanti suatu saat ketika kami sudah merdeka dan hidup di tanah Afrika, "X" akan kami ganti dengan nama baru yang menunjukkan kemerdekaan kami.
Rupanya tidak mudah untuk menggambarkan potret seorang Malcolm X di tengah kehidupannya yang cukup kontroversial. Ketika dirilis filmnya, Spike dan Denzel konon sudah mengantongi paspor untuk bersiap jika suatu hari mereka harus keluar dari Amerika Serikat karena mendapat tekanan dari film tersebut. Film Malcolm X tentu saja harus dilengkapi pengetahuan sejarah yang lebih komprehensif agar bisa dinikmati secara menyeluruh. Namun kita bisa melupakan itu semua ketika melihat bagaimana akting Denzel yang sempurna, seolah-olah menjadi Malcolm yang sebenarnya.
Rekomendasi: Bintang Empat
Comments
Post a Comment