Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
27 Ramadhan 1434 H
Malcolm X (1992) adalah film yang menceritakan tentang biografi pejuang orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat bernama Malcolm X. Film yang disutradarai oleh Spike Lee tersebut menampilkan akting Denzel Washington yang sangat baik dalam memerankan tokoh yang lahir di tahun 1925 ini. Film Malcolm X, yang berdurasi lebih dari tiga jam, cukup lengkap dalam menceritakan kejadian-kejadian penting dalam kehidupan orang yang bernama asli Malcolm Little tersebut.
Film dimulai dari bagaimana Malcolm Little digambarkan mempunyai masa kecil yang traumatik karena keluarganya yang berkulit hitam kerapkali diteror oleh kelompok rasialis bernama Ku Klux Klan. Ayah Malcolm digambarkan sebagai pendeta yang mengajak jemaatnya untuk kembali ke tanah kelahirannya di Afrika. Katanya, Amerika Serikat bukanlah tempat yang aman bagi kita semua. Rupanya rasialisme yang diterima Malcolm sejak kecil ini membentuk kepribadiannya ketika beranjak dewasa. Ia berkarir di Nation of Islam dan bersama Elijah Muhammad, ia menjadi orator ulung dalam menyebarkan keyakinan bahwa seyogianya orang kulit hitam dipisahkan dari orang kulit putih -alih-alih dileburkan-. Malcolm Little kemudian mengganti namanya menjadi Malcolm X. Katanya, "X" menggantikan nama budak kami sebelumnya. Nanti suatu saat ketika kami sudah merdeka dan hidup di tanah Afrika, "X" akan kami ganti dengan nama baru yang menunjukkan kemerdekaan kami.
Rupanya tidak mudah untuk menggambarkan potret seorang Malcolm X di tengah kehidupannya yang cukup kontroversial. Ketika dirilis filmnya, Spike dan Denzel konon sudah mengantongi paspor untuk bersiap jika suatu hari mereka harus keluar dari Amerika Serikat karena mendapat tekanan dari film tersebut. Film Malcolm X tentu saja harus dilengkapi pengetahuan sejarah yang lebih komprehensif agar bisa dinikmati secara menyeluruh. Namun kita bisa melupakan itu semua ketika melihat bagaimana akting Denzel yang sempurna, seolah-olah menjadi Malcolm yang sebenarnya.
Rekomendasi: Bintang Empat
Comments
Post a Comment