Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
21 Ramadhan 1434 H
Jackie Brown adalah film ketiga yang disutradarai oleh Quentin Tarantino. Tarantino, seperti biasa, menyukai tema kriminal dan kekerasan yang ditampilkan dengan visualisasi a la film "kelas B". Meski terkesan murahan, film-film Tarantino tidak lantas kehilangan pengakuan baik dari penggemar maupun kritikus. Terbukti Jackie Brown meraih keuntungan besar secara finansial dan salah satu aktornya, Robert Forster, dinominasikan meraih Piala Oscar tahun 1998 untuk Aktor Pendukung Terbaik.
Jackie Brown bercerita tentang Jackie Brown (Pam Grier), perempuan yang berupaya untuk menyelundupkan uang pada pedagang senjata bernama Ordell Robbie (Samuel L. Jackson). Kemudian situasi menjadi pelik ketika Jackie tertangkap oleh detektif bernama Ray Nicolet (Michael Keaton) dan Mark Dargus (Michael Bowen). Ia menjadi bagian dari permainan besar antara Ordell, Ray dan Mark sendiri, plus Max Cherry (Robert Forster) dan Louis Gara (Robert de Niro). Upaya transaksi antara Jackie dan Ordell yang harusnya sederhana dan cepat, menjadi rumit dan berdarah.
Jackie Brown, sebagaimana film Tarantino, punya kekuatan salah satunya pada dialog. Dialog yang dimaksud bukan dialog yang penuh makna, melainkan justru dialog yang seolah-olah spontan dan terjadi dalam keseharian -istilah gampangnya, Tarantino lancar sekali menampilkan bagaimana orang saling mengobrol itu apa adanya-. Jackie Brown juga merupakan bukti kelihaian Tarantino tidak hanya dalam urusan penyutradaraan tapi juga penulisan skenario. Melihat estetikanya di awal film yang terkesan murahan, kita mungkin akan mengira Jackie Brown adalah film simpel yang tidak jauh dari urusan kriminal dan kekerasan. Mungkin sisi itu ada benarnya, tapi nilai seni yang ditawarkan Tarantino pun tidak kalah tingginya -secara visual, akting, dan pengembangan cerita yang menjadi rumit-.
Rekomendasi: Bintang Tiga

Comments
Post a Comment