Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
21 Ramadhan 1434 H
Jackie Brown adalah film ketiga yang disutradarai oleh Quentin Tarantino. Tarantino, seperti biasa, menyukai tema kriminal dan kekerasan yang ditampilkan dengan visualisasi a la film "kelas B". Meski terkesan murahan, film-film Tarantino tidak lantas kehilangan pengakuan baik dari penggemar maupun kritikus. Terbukti Jackie Brown meraih keuntungan besar secara finansial dan salah satu aktornya, Robert Forster, dinominasikan meraih Piala Oscar tahun 1998 untuk Aktor Pendukung Terbaik.
Jackie Brown bercerita tentang Jackie Brown (Pam Grier), perempuan yang berupaya untuk menyelundupkan uang pada pedagang senjata bernama Ordell Robbie (Samuel L. Jackson). Kemudian situasi menjadi pelik ketika Jackie tertangkap oleh detektif bernama Ray Nicolet (Michael Keaton) dan Mark Dargus (Michael Bowen). Ia menjadi bagian dari permainan besar antara Ordell, Ray dan Mark sendiri, plus Max Cherry (Robert Forster) dan Louis Gara (Robert de Niro). Upaya transaksi antara Jackie dan Ordell yang harusnya sederhana dan cepat, menjadi rumit dan berdarah.
Jackie Brown, sebagaimana film Tarantino, punya kekuatan salah satunya pada dialog. Dialog yang dimaksud bukan dialog yang penuh makna, melainkan justru dialog yang seolah-olah spontan dan terjadi dalam keseharian -istilah gampangnya, Tarantino lancar sekali menampilkan bagaimana orang saling mengobrol itu apa adanya-. Jackie Brown juga merupakan bukti kelihaian Tarantino tidak hanya dalam urusan penyutradaraan tapi juga penulisan skenario. Melihat estetikanya di awal film yang terkesan murahan, kita mungkin akan mengira Jackie Brown adalah film simpel yang tidak jauh dari urusan kriminal dan kekerasan. Mungkin sisi itu ada benarnya, tapi nilai seni yang ditawarkan Tarantino pun tidak kalah tingginya -secara visual, akting, dan pengembangan cerita yang menjadi rumit-.
Rekomendasi: Bintang Tiga

Comments
Post a Comment