Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
15 Ramadhan 1434 H
Christopher Nolan adalah sutradara yang sukses membuat tiga film Batman terakhir (Batman Begins, The Dark Knight, dan The Dark Knight Rises) menjadi lebih psikologis ketimbang laga-sentris. Yang demikian ternyata memang merupakan ciri khas Nolan dari sejak sebelum menggarap Batman. Dari sejak tiga film pertamanya yakni Following, Memento, dan Insomnia, Nolan memang akrab dengan gaya psychological thriller yang membuat penonton lebih tertarik pada apa yang ada di dalam alam pikiran para pemain ketimbang apa yang dilakukannya.
Memento (2000) adalah film yang berpusat pada Leonard Shelby (Guy Pearce), seorang pria yang bermasalah dengan memorinya -kerap mengalami kelupaan akan apa-apa yang sudah ia lakukan di hari sebelumnya-. Leonard, dengan keterbatasan ingatannya, berupaya membalas dendam pada orang yang membunuh istrinya. Untuk mengatasi penyakitnya tersebut, Leonard mencatat segala hal yang perlu ia ingat dari mulai dengan foto, nota, hingga tato di tubuhnya.
Dengan gaya penceritaan yang melompat-lompat, Nolan menciptakan suatu efek psikologis yang serius tentang memory loss. Ia ingin agar tidak hanya Leonard yang mengalami keterbatasan ingatan tersebut, melainkan penonton juga ikut diajaknya. Di film Memento, kita akan menyaksikan betapa cepatnya Nolan mengalihkan satu adegan ke adegan lain di ruang dan waktu yang berbeda. Lompatan demi lompatan ini sama sekali tidak menimbulkan efek gembira. Justru kita diajak menyelami palung kejiwaan yang terdalam dari sang protagonis. Film-film Nolan mungkin tidak akan mudah dipahami kebanyakan orang, tapi -sebagaimana sutradara berkarakter lainnya- jelas ia mempunyai penggemar fanatiknya sendiri.
Rekomendasi: Bintang Tiga
Comments
Post a Comment