Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

30hari30film: Spiklenci Slasti (1996)

16 Ramadhan 1434 H


Spiklenci Slasti (1996) atau Conspirators of Pleasure adalah film tanpa dialog yang disutradarai oleh seorang Ceko bernama Jan Å vankmajer. Film ini bercerita tentang beberapa orang yang mempunyai kebiasaan ganjil dalam memenuhi hasrat seksualnya. Meski demikian, Å vankmajer tidak sedang menampilkan pornografi. Tanpa pemandangan penis atau vagina, film Spiklenci Slasti sanggup menampilkan bagaimana orang-orang tersebut dipuaskan dengan benda-benda yang dikonstruksinya sendiri.

Pivonka, ia menikmati menjadi seseorang yang berkuasa di hadapan gadis yang disandera. Berkebalikan dengannya, Loubalová senang menjadi bos akan laki-laki yang tak berdaya di hadapan pecutnya. Sementara seorang detektif bernama Beltinsky punya cara tersendiri untuk memuaskannya, yakni dengan bulu dan benda-benda tajam. Malková, si perempuan tukang pos, senang memasukkan roti yang sudah ia comoti dan dibentuk menjadi bulatan kecil, ke telinga dan hidungnya. Penjual majalah bernama Kula diam-diam ia menyimpan hasrat pada pembaca berita bernama Beltinska. Setiap ia sedang membacakan majalah, Kula melakukan zoom-in agar wajahnya lebih jelas. Sementara Beltinska, si pembaca berita, mendapatkan kepuasan lewat ikan-ikan yang dibiarkan mengisap jari-jari kakinya. Keseluruhan tokoh dalam cerita ini punya keterkaitan satu sama lain.

Spiklenci Slasti adalah film yang cukup menarik karena sorotan yang cukup detail ketika orang-orang tersebut sedang membangun alat pemuat hasratnya. Å vankmajer tampak sepaham dengan Freud tentang bagaimana sesungguhnya alam bawah sadar manusia adalah semata-mata tentang hasrat. Bedanya, terdapat orang-orang tertentu yang begitu menikmati rangsangan-rangsangan seksual yang oleh orang kebanyakan dianggap menyakitkan -seringkali disebut dengan BDSM atau Bondage, Discipline, Sadism, Masochism-. Spiklenci Slasti mengajak kita untuk lebih dekat dan lebih ekstrim melihat bagaimana perilaku BDSM tersebut dengan gaya yang artistik dan jauh dari kesan menjijikkan.

Rekomendasi: Bintang Lima

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...