Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
9 Ramadhan 1434 H
Alfred Hitchcock adalah sutradara yang senang sekali menyiksa penontonnya. Menyiksa dalam arti membuat tegang sekaligus penasaran -dan yang terpenting, tetap merengut di tempat duduknya-. Rope (1948) yang merupakan film pertama Hitchcok yang dibuat berwarna, adalah salah satu filmnya yang paling mencekam.
Cerita dalam film Rope sesungguhnya sederhana saja. Ini adalah tentang pembunuhan terhadap David Kentley (Dick Hogan) yang dilakukan oleh kedua temannya, Brandon Shaw (John Dall) dan Philip Morgan (Farley Granger). Motif pembunuhannya adalah semata-mata karena Shaw dan Morgan ingin mempraktikkan apa yang disebutnya sebagai "perfect murder". Maksudnya, mereka ingin menciptakan kejahatan yang sempurna, yang tidak sanggup dilacak oleh siapapun juga. Yang menarik, Shaw dan Morgan seolah menantang diri mereka dengan cara menjadi tuan rumah untuk sebuah pesta yang diadakan dengan beberapa kolega. Tepat di tengah-tengah pesta tersebut, disembunyikan mayat David Kentley secara rapi.
Film Rope terinspirasi oleh kisah nyata pembunuhan Bobby Franks oleh Nathan Leopold dan Richard Loeb pada tahun 1924. Motifnya sama, Leopold dan Loeb ingin mempraktikkan kejeniusan mereka lewat pembunuhan. Sebelum diangkat ke layar sinema oleh Hitchcock, terlebih dahulu kisah pembunuhan Franks tersebut diadaptasi ke dalam bentuk teater oleh Patrick Hamilton dengan judul Rope juga. Hitchcock kelihatannya terpesona dengan Rope dalam versi teater sehingga ia memutuskan untuk mempertahankan gaya teater tersebut ke dalam filmnya. Ia hanya menggunakan satu setting saja dan kamera jarang sekali melakukan pemotongan gambar (cut). Tercatat Hitchcock hanya sepuluh kali melakukan cut dalam film berdurasi 70 menit tersebut. Meski tanpa akrobat montage, Hitchcock tetap sanggup menciptakan thriller lewat akting dan dialog yang kuat. Film ini adalah peragaan kejeniusan sang maestro.
Rekomendasi: Bintang Empat

Comments
Post a Comment