Skip to main content

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

30hari30film: Searching for Sugar Man (2012)

1 Ramadhan 1434 H



Bayangkan apa perasaan seorang musisi yang albumnya hanya terjual enam kopi saja? Bayangkan ketika dia sudah yakin betul bahwa karirnya sudah mati dan akhirnya menjalani masa tua dengan bekerja apa saja demi menghidupi ketiga anaknya, ternyata ada seseorang yang menghubungi untuk memberitahu bahwa dalam puluhan tahun belakangan, sesungguhnya albumnya laku keras di Afrika Selatan -melebihi popularitas Elvis Presley dan The Rolling Stones-?

Meski sekilas terdengar seperti dongeng, namun film dokumenter Searching for Sugar Man benar-benar menemukan musisi bernama Sixto Rodriguez tersebut. Film yang disutradarai oleh Malik Bendjelloul ini berpusat pada dua orang penggemar berat Rodriguez di Afrika Selatan yakni Stephen "Sugar" Segerman dan Craig Bartholomew Strydom. Mereka berdua menceritakan pengaruh musik-musik Rodriguez di Afrika Selatan. Dua albumnya, Cold Fact (1970) dan Coming from Reality (1971) benar-benar merasuki seluruh negeri hingga pemerintah sempat melarang lagunya yang berjudul Sugar Man karena dianggap punya pengaruh terhadap konsumsi obat-obatan di kalangan anak muda. Lagu-lagu Rodriguez juga, menurut Segerman, punya pengaruh kuat dalam gerakan revolusi anti-apartheid di negaranya. 

Rodriguez kemudian tidak diketahui rimbanya. Kabar terakhir tentangnya hanyalah sebuah mitos yang mengerikan, yakni tentang kematiannya di atas panggung dengan cara membakar diri. Jika bertanya pada orang-orang di Amerika Serikat pun -tempatnya tinggal dan membuat album- ternyata tak ada yang pernah mendengar namanya. Namun Segerman dan Strydom tak lantas begitu saja menyerah. Mereka melakukan segala cara untuk menemukan sang legenda. Mereka mengumumkan sayembara di internet hingga menelusuri label-label yang pernah memproduksi albumnya. 

Searching for Sugar Man adalah film dokumenter yang amat penting dan tidak terbatas bagi mereka pecinta musik saja. Film tersebut menunjukkan bahwa musik berkualitas tetap akan hidup meski ia tidak dikatrol oleh industri. Posmodernisme telah menciptakan mitos bahwa sesungguhnya kebenaran hanyalah tergantung siapa yang berkuasa. Namun ternyata hal tersebut tidak selamanya benar. Kebenaran masih ada yang absolut selama memang kebenaran tersebut jujur tanpa pretensi. Rodriguez mencipta musiknya dari hati, sehingga sampai pada pendengarnya meski jauh di ujung sana. 

Rekomendasi: Bintang Lima


Comments