Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
1 Ramadhan 1434 H
Bayangkan apa perasaan seorang musisi yang albumnya hanya terjual enam kopi saja? Bayangkan ketika dia sudah yakin betul bahwa karirnya sudah mati dan akhirnya menjalani masa tua dengan bekerja apa saja demi menghidupi ketiga anaknya, ternyata ada seseorang yang menghubungi untuk memberitahu bahwa dalam puluhan tahun belakangan, sesungguhnya albumnya laku keras di Afrika Selatan -melebihi popularitas Elvis Presley dan The Rolling Stones-?
Meski sekilas terdengar seperti dongeng, namun film dokumenter Searching for Sugar Man benar-benar menemukan musisi bernama Sixto Rodriguez tersebut. Film yang disutradarai oleh Malik Bendjelloul ini berpusat pada dua orang penggemar berat Rodriguez di Afrika Selatan yakni Stephen "Sugar" Segerman dan Craig Bartholomew Strydom. Mereka berdua menceritakan pengaruh musik-musik Rodriguez di Afrika Selatan. Dua albumnya, Cold Fact (1970) dan Coming from Reality (1971) benar-benar merasuki seluruh negeri hingga pemerintah sempat melarang lagunya yang berjudul Sugar Man karena dianggap punya pengaruh terhadap konsumsi obat-obatan di kalangan anak muda. Lagu-lagu Rodriguez juga, menurut Segerman, punya pengaruh kuat dalam gerakan revolusi anti-apartheid di negaranya.
Rodriguez kemudian tidak diketahui rimbanya. Kabar terakhir tentangnya hanyalah sebuah mitos yang mengerikan, yakni tentang kematiannya di atas panggung dengan cara membakar diri. Jika bertanya pada orang-orang di Amerika Serikat pun -tempatnya tinggal dan membuat album- ternyata tak ada yang pernah mendengar namanya. Namun Segerman dan Strydom tak lantas begitu saja menyerah. Mereka melakukan segala cara untuk menemukan sang legenda. Mereka mengumumkan sayembara di internet hingga menelusuri label-label yang pernah memproduksi albumnya.
Searching for Sugar Man adalah film dokumenter yang amat penting dan tidak terbatas bagi mereka pecinta musik saja. Film tersebut menunjukkan bahwa musik berkualitas tetap akan hidup meski ia tidak dikatrol oleh industri. Posmodernisme telah menciptakan mitos bahwa sesungguhnya kebenaran hanyalah tergantung siapa yang berkuasa. Namun ternyata hal tersebut tidak selamanya benar. Kebenaran masih ada yang absolut selama memang kebenaran tersebut jujur tanpa pretensi. Rodriguez mencipta musiknya dari hati, sehingga sampai pada pendengarnya meski jauh di ujung sana.
Rekomendasi: Bintang Lima
Comments
Post a Comment