Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

30hari30film: Yojimbo (1961)

2 Ramadhan 1434 H


 
Pernah menyaksikan aksi Clint Eastwood sebagai Koboi Tanpa Nama yang sangat dingin menghadapi musuh-musuhnya dalam film A Fistful of Dollars (1964)? Ketika menonton film Yojimbo (1961) karya Akira Kurosawa, maka sangat jelas bahwa film tersebut adalah inspirasi bagi A Fistful of Dollars-nya Sergio Leone. Saking miripnya, film garapan Sergio Leone itu sempat ditahan selama tiga tahun untuk tidak rilis di Amerika atas tuduhan penjiplakan. 

Yojimbo menceritakan tentang seorang Samurai Tanpa Nama (diperankan oleh aktor langganan Kurosawa, Toshiro Mifune) yang datang ke sebuah kota yang tengah berada dalam ketegangan oleh sebab perang antara dua penguasa yakni Seibei dan Ushitora (di A Fistful of Dollars, perang geng ini berlangsung antara Bersaudara Rojo dan keluarga sheriff John Baxter). Samurai Tanpa Nama ini kemudian menawarkan dirinya ke kedua penguasa tersebut siapa yang mau merekrutnya sebagai yojimbo alias pengawal. Samurai Tanpa Nama yang sangat kuat tersebut tentu saja diperebutkan baik oleh Seibei dan Ushitora. Mereka berpendapat bahwa siapapun yang sanggup merekrutnya, maka bisa memenangkan pertarungan melawan penguasa lainnya. Meski demikian, sang samurai adalah orang yang tidak hanya pintar berkelahi, tapi juga cerdik. Ia berkelindan dari satu penguasa ke penguasa lainnya untuk kemudian menjalankan rencananya sendiri.

Agaknya memang mustahil bagi sutradara manapun untuk tidak terinspirasi teknik-teknik brilian dari Kurosawa. Tidak hanya teknik montage dan mise-en-scène-nya yang sempurna dan menciptakan sejumlah adegan yang bisa dikatakan puitik, melainkan juga bagaimana Kurosawa sanggup mendorong aktor-aktornya untuk beraksi lebih teatrikal -Kita bisa bayangkan jika film-film Kurosawa dihadirkan dalam panggung teater, maka tidak sulit untuk mengadaptasinya-. Film-film Kurosawa barangkali tidak ada yang bisa dikatakan gagal secara estetik. Dalam kesederhanaan teknologi pada masa itu, ia tetap sanggup menjadi pelopor sejumlah teknik yang lumrah digunakan hingga saat ini. Yojimbo hanyalah salah satu dari sekian banyak mahakarya sang maestro.

Rekomendasi: Bintang Lima


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...