Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
5 Ramadhan 1434 H
Setelah Midnight in Paris (2011), ini adalah film kedua Woody Allen yang saya tonton. Film berjudul Annie Hall (1977) ini barangkali adalah salah satu yang paling terkenal yang pernah disutradarai Allen. Dibintangi oleh dirinya sendiri dan Diane Keaton, Annie Hall bercerita tentang kisah cinta Alvy Singers dan Annie Hall dengan latar kota New York. Dari dua film yang sudah saya tonton tersebut, ada satu kesamaan yang mungkin bisa jadi itulah salah satu karakteristik dari film-film Allen: Percakapan yang berbobot dan komedi yang cerdas.
Dalam film Annie Hall misalnya, meski ceritanya sederhana tentang jalinan asmara biasa-biasa, namun dalam sejumlah percakapan, dilibatkan nama-nama pemikir dan seniman mulai dari Marshall McLuhan, Henry Kissinger, Franz Kafka, Federico Fellini, Ingmar Bergmann, Groucho Marx, hingga Sigmund Freud. Ini membuat Annie Hall, meski kita bisa golongkan ia sebagai romantic comedy, namun tidak bisa dikatakan sebagai sebuah film yang mudah untuk diserap. Misalnya, ketika Alvy merasa kesal dengan seorang penonton bioskop yang terus menerus membicarakan tentang pemikiran McLuhan, Alvy berkelakar dengan menanyai pada McLuhan yang sebenarnya (betul-betul McLuhan yang sebenarnya!) tentang apakah penonton tersebut berkata benar soal pemikirannya? McLuhan menjawab, "Tidak, dia tidak tahu apa-apa tentang pemikiranku." Bisakah kita tertawa oleh komedi yang amat kontekstual semacam ini?
Selain oleh kecerdasan percakapannya, Annie Hall juga menarik karena Woody Allen disini melakukan apa yang disebut dengan breaking the fourth wall. Ia, sebagai sekaligus pemeran Alvy Singers, sering sekali bertindak sebagai narator yang berbicara pada penonton. Tidak hanya di awal penampilannya ketika ia membuka film, melainkan ketika di tengah percakapan dengan siapapun, Alvy kerap berbicara pada penonton sehingga Annie Hall terkesan agak sureal. Annie Hall sungguh sebuah karya yang menarik dari Allen. Ia tidak takut sama sekali untuk mempertahankan percakapan yang mungkin hanya bisa dipahami oleh sebagian penonton saja. Dialog terlampau cerdas itu ia kebumikan dengan akting-akting memikat dari para aktornya. Buktinya, Allen mendapatkan penghargaan Oscar tahun 1978 untuk sutradara terbaik dan Keaton untuk artis terbaik.
Rekomendasi: Bintang Empat
Comments
Post a Comment