Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu. Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...
Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel, buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi, untuk tak pernah meratapi masa lalu.
Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai saya tidak menikah dengan si A (X), saya tidak akan mengalami kesengsaraan ini (Y). Tapi belum tentu juga, jika saya menikah dengan si B, atau tidak menikah, saya tidak akan mengalami kesengsaraan. Karena jangan-jangan penyebabnya bukan perkara saya menikah dengan si A, si B, atau tidak menikah. Penyebabnya mungkin hal lain, entahlah.
Namun kita bisa mengonversi hal terkait masa lalu yang katakanlah "buruk", sebagai jalan menuju masa kini yang kita maknai sebagai sesuatu yang lebih baik. Misalnya, coba saja dulu saya tidak kena cancel, mungkin saya tidak akan bertemu Nadya, mungkin saya tidak akan belajar kehidupan lebih dalam dan selamanya tinggal nyaman di menara gading sebagai akademisi. Dengan demikian, saya berhenti berandai-andai "coba dulu saya tidak kena cancel", tetapi malah berterima kasih "untung saya kena cancel".
Demikian halnya dengan cara memandang masa depan. Soal nanti gimana nanti gimana itu perkara yang kadang begitu mengerikan. Lihat penghasilan kita belum stabil, lalu membayangkan nanti hidup bagaimana, adalah hal yang absurd dibayangkan dari titik pandang kita sekarang. Cara saya mengatasi ini adalah dengan membayangkan posisi hari ini, ditinjau dari misalnya setahun, dua tahun, atau lima tahun lalu. Pernahkah kita menganggap diri begitu sengsara hingga gak mampu mencapai tahun yang kita hidupi ini? Waktu saya kena cancel Mei 2024, jujur, saya gak tahu hidup saya besok pun akan bagaimana. Nyatanya, saya tiba di Agustus 2026 sambil tetap merokok dan ngopi. Artinya, untuk apa kita membayangkan hal-hal jauh di masa yang akan datang? toh hidup kita hari ini pun bukan sesuatu yang sesuai dengan bayangan kita di masa lampau.
Memang tidak mudah untuk bisa mengatakan: aku hidup di masa sekarang, dengan kopi dan rokok di hadapanku dan aku menikmati itu. Sementara masalah bertubi-tubi datang perkara tagihan yang harus dibayarkan, serba cicilan yang menggerogoti, dan tenggat-tenggat yang tak bisa ditawar. Memang hal-hal di masa depan dan konsekuensi dari perbuatan kita di masa lalu itu pada akhirnya harus dibayar, itu adalah kewajiban yang tak terelakkan, tetapi state of mind kita akan sesuatu yang present juga bukan sesuatu yang mesti diabaikan demi segala keruwetan itu. Seruputlah kopi itu, nikmati pekatnya, meski ada yang harus dibayar hari itu dan kamu belum punya uangnya, toh nanti juga teratasi, bagaimanapun caranya, sebagaimana hari-hari yang juga telah engkau lalui puluhan tahun terakhir ini. Jangan sampai waktu-waktu untuk mengatasi kesulitan, kemudian membuat nikmat kopimu terabaikan.
Karena nikmat kopimu, mungkin adalah hal yang tak pernah terbayangkan di tahun-tahun sebelumnya dan kelak, di tahun-tahun yang akan datang, akan jadi masa lalu yang juga bisa dikenang.

Comments
Post a Comment