Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Hari ini, entah bagaimana, saya baru sadar: ini adalah hari ulang tahun cancel culture saya. Setahun lalu, tepat di tanggal ini, sebuah kehebohan di platform X meledak seperti bom kembang api—indah bagi yang menonton, tapi membakar habis hidup saya dalam hitungan hari. Rasanya aneh, lucu sekaligus getir, mengingat bagaimana dunia maya bisa begitu cepat mengubah peta hidup seseorang. Tapi tidak, saya tidak ingin membahas detail peristiwa itu. Sudahlah. Itu bab lama yang sudah saya lipat dan simpan di laci paling bawah.
Sekarang, saya menjalani kehidupan yang sama sekali baru. Kehidupan yang, sejujurnya, tidak sepenuhnya damai—terutama karena dijalani bersama pasangan saya. Kami sering bertengkar. Sering sekali. Kadang saya heran, bagaimana bisa dua orang yang begitu sering saling adu argumen masih memutuskan untuk sama-sama setiap harinya. Tapi nyatanya, kami tetap bertahan sejak memutuskan untuk bersama sekitar Desember 2024… atau mungkin September? Entahlah, saya bahkan lupa tanda pastinya. Yang saya ingat, setelah itu hidup saya tak pernah lagi sama.
Meski partner saya ini merepotkan (sungguh merepotkan), dia adalah orang yang paling banyak menolong saya melewati masa-masa sulit cancel culture. Bukan dengan cara dramatis seperti di film—bukan dengan pidato panjang, pelukan berjam-jam, atau rencana penyelamatan yang rumit. Dia tidak selalu mendampingi dengan cara textbook “support system”. Tapi dia ada. Dia menemani. Kadang dengan diam, kadang dengan ocehan yang membuat saya jengkel, tapi entah kenapa, justru itu yang menahan saya agar tidak jatuh lebih dalam.
Merawat relasi yang merepotkan ini membuat saya sadar satu hal: inilah problem terbesar saya. Dan anehnya, justru itu yang membuat problem-problem lain terasa kecil. Seolah dunia memberi saya satu “bos terakhir” dalam hidup, dan selama saya sibuk menghadapinya, rintangan lain jadi sekadar latihan.
Saya bahkan membayangkan, kalau dia tidak ada, mungkin masalah-masalah lain akan terasa jauh lebih besar dan menakutkan. Jadi, saya sudah memutuskan: biarlah dia saja problem terbesar saya. Problem yang setiap hari saya hadapi, saya perbaiki, saya mengerti, dengan sukacita dan cinta yang besar. Karena kalau harus memilih, saya lebih rela pusing memikirkan dia, daripada pusing memikirkan hidup yang kosong.
.png)
Comments
Post a Comment