Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Bos Terakhir



Hari ini, entah bagaimana, saya baru sadar: ini adalah hari ulang tahun cancel culture saya. Setahun lalu, tepat di tanggal ini, sebuah kehebohan di platform X meledak seperti bom kembang api—indah bagi yang menonton, tapi membakar habis hidup saya dalam hitungan hari. Rasanya aneh, lucu sekaligus getir, mengingat bagaimana dunia maya bisa begitu cepat mengubah peta hidup seseorang. Tapi tidak, saya tidak ingin membahas detail peristiwa itu. Sudahlah. Itu bab lama yang sudah saya lipat dan simpan di laci paling bawah. 

Sekarang, saya menjalani kehidupan yang sama sekali baru. Kehidupan yang, sejujurnya, tidak sepenuhnya damai—terutama karena dijalani bersama pasangan saya. Kami sering bertengkar. Sering sekali. Kadang saya heran, bagaimana bisa dua orang yang begitu sering saling adu argumen masih memutuskan untuk sama-sama setiap harinya. Tapi nyatanya, kami tetap bertahan sejak memutuskan untuk bersama sekitar Desember 2024… atau mungkin September? Entahlah, saya bahkan lupa tanda pastinya. Yang saya ingat, setelah itu hidup saya tak pernah lagi sama. 

Meski partner saya ini merepotkan (sungguh merepotkan), dia adalah orang yang paling banyak menolong saya melewati masa-masa sulit cancel culture. Bukan dengan cara dramatis seperti di film—bukan dengan pidato panjang, pelukan berjam-jam, atau rencana penyelamatan yang rumit. Dia tidak selalu mendampingi dengan cara textbook “support system”. Tapi dia ada. Dia menemani. Kadang dengan diam, kadang dengan ocehan yang membuat saya jengkel, tapi entah kenapa, justru itu yang menahan saya agar tidak jatuh lebih dalam. 

Merawat relasi yang merepotkan ini membuat saya sadar satu hal: inilah problem terbesar saya. Dan anehnya, justru itu yang membuat problem-problem lain terasa kecil. Seolah dunia memberi saya satu “bos terakhir” dalam hidup, dan selama saya sibuk menghadapinya, rintangan lain jadi sekadar latihan.

Saya bahkan membayangkan, kalau dia tidak ada, mungkin masalah-masalah lain akan terasa jauh lebih besar dan menakutkan. Jadi, saya sudah memutuskan: biarlah dia saja problem terbesar saya. Problem yang setiap hari saya hadapi, saya perbaiki, saya mengerti, dengan sukacita dan cinta yang besar. Karena kalau harus memilih, saya lebih rela pusing memikirkan dia, daripada pusing memikirkan hidup yang kosong.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...