Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Hari ini, entah bagaimana, saya baru sadar: ini adalah hari ulang tahun cancel culture saya. Setahun lalu, tepat di tanggal ini, sebuah kehebohan di platform X meledak seperti bom kembang api—indah bagi yang menonton, tapi membakar habis hidup saya dalam hitungan hari. Rasanya aneh, lucu sekaligus getir, mengingat bagaimana dunia maya bisa begitu cepat mengubah peta hidup seseorang. Tapi tidak, saya tidak ingin membahas detail peristiwa itu. Sudahlah. Itu bab lama yang sudah saya lipat dan simpan di laci paling bawah.
Sekarang, saya menjalani kehidupan yang sama sekali baru. Kehidupan yang, sejujurnya, tidak sepenuhnya damai—terutama karena dijalani bersama pasangan saya. Kami sering bertengkar. Sering sekali. Kadang saya heran, bagaimana bisa dua orang yang begitu sering saling adu argumen masih memutuskan untuk sama-sama setiap harinya. Tapi nyatanya, kami tetap bertahan sejak memutuskan untuk bersama sekitar Desember 2024… atau mungkin September? Entahlah, saya bahkan lupa tanda pastinya. Yang saya ingat, setelah itu hidup saya tak pernah lagi sama.
Meski partner saya ini merepotkan (sungguh merepotkan), dia adalah orang yang paling banyak menolong saya melewati masa-masa sulit cancel culture. Bukan dengan cara dramatis seperti di film—bukan dengan pidato panjang, pelukan berjam-jam, atau rencana penyelamatan yang rumit. Dia tidak selalu mendampingi dengan cara textbook “support system”. Tapi dia ada. Dia menemani. Kadang dengan diam, kadang dengan ocehan yang membuat saya jengkel, tapi entah kenapa, justru itu yang menahan saya agar tidak jatuh lebih dalam.
Merawat relasi yang merepotkan ini membuat saya sadar satu hal: inilah problem terbesar saya. Dan anehnya, justru itu yang membuat problem-problem lain terasa kecil. Seolah dunia memberi saya satu “bos terakhir” dalam hidup, dan selama saya sibuk menghadapinya, rintangan lain jadi sekadar latihan.
Saya bahkan membayangkan, kalau dia tidak ada, mungkin masalah-masalah lain akan terasa jauh lebih besar dan menakutkan. Jadi, saya sudah memutuskan: biarlah dia saja problem terbesar saya. Problem yang setiap hari saya hadapi, saya perbaiki, saya mengerti, dengan sukacita dan cinta yang besar. Karena kalau harus memilih, saya lebih rela pusing memikirkan dia, daripada pusing memikirkan hidup yang kosong.
.png)
Comments
Post a Comment