Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Monogami Inklusif


Saya dan NK menjalani sebuah bentuk relasi yang kami sebut sebagai monogami inklusif. Pada dasarnya, hubungan kami berakar pada komitmen monogami—saling mengasihi, merawat hidup satu sama lain, dan menempatkan pasangan sebagai rumah utama dalam perjalanan kehidupan. Namun, kami memberi ruang tertentu di mana masing-masing diperbolehkan untuk berkencan dengan orang lain. Ruang ini bukan berarti membuka ikatan begitu saja, melainkan dirancang dengan kesadaran, aturan, dan saling pengertian.

Dalam praktiknya, ada sejumlah syarat yang menjadi pegangan kami. Prinsip pertama adalah keterbukaan: setiap orang yang terlibat dalam relasi ini harus mengetahui keberadaan pihak lain. Tidak ada ruang untuk sembunyi-sembunyi, karena justru kejujuran adalah fondasi yang membuat relasi ini sehat. Kedua, kami menjaga batas-batas. Artinya, meski diperbolehkan berkencan, ada garis yang tidak boleh dilanggar, baik secara emosional maupun fisik, sesuai dengan kesepakatan yang kami bangun bersama. Ketiga, kami saling mengingatkan dan memberi alarm waspada ketika ada situasi yang berpotensi mengancam inti hubungan ini—misalnya ketika ada kemungkinan jatuh hati lebih dalam kepada orang lain. Hingga saat ini, alarm itu belum pernah berbunyi, dan kami justru menikmati dinamika yang ditawarkan oleh tipe hubungan semacam ini. 

Konsep ini berbeda dari poliamori. Dalam poliamori, seseorang bisa membangun lebih dari satu hubungan romantis sekaligus dengan kadar komitmen dan keterikatan yang relatif setara. Poliamori memandang cinta tidak harus eksklusif pada satu orang, dan memungkinkan terbentuknya jaringan relasi yang kompleks. Sementara dalam monogami inklusif, meski ada ruang untuk interaksi romantis dengan orang lain, rumah utama tetap satu: pasangan inti. Relasi dengan orang lain bersifat sekunder, tidak dimaksudkan untuk menggantikan ataupun menyetarakan ikatan inti yang telah ada. 

Bagi kami, monogami inklusif adalah cara untuk merayakan kebebasan sekaligus meneguhkan keterikatan. Ia bukan sekadar kompromi antara monogami dan poliamori, melainkan sebuah pilihan sadar yang sesuai dengan nilai dan kebutuhan kami. Kami percaya bahwa apapun tipe hubungannya—monogami konvensional, poliamori, atau monogami inklusif seperti yang kami jalani—yang terpenting adalah keberlanjutan (lestari) dari hubungan itu sendiri. Relasi yang lestari adalah relasi yang terus memberi ruang bagi tumbuhnya cinta, kejujuran, dan rasa aman, apa pun bentuk strukturnya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...