Skip to main content

Melewatkan Final Piala Dunia

Saya melewatkan final Piala Dunia 1994. Masih kecil. Baru masuk SD. Waktu itu saya diajak Papap tiduran depan televisi, tak ingat apa-apa kecuali ekspresi kecewa pemain berkucir berkostum biru. Iya, kami lebih banyak tertidur daripada nonton. Mungkin bagi Papap sendiri, Piala Dunia adalah peristiwa yang gak penting-penting amat. Beliau mengajak saya nonton karena ya ikut hype saja. Mungkin supaya Papap ada bahan obrolan di tengah tongkrongan teman-temannya yang hobi nonton sepakbola. Bagi Papap sepertinya masih lebih penting ngantor di pagi harinya. Waktu tidur lebih berharga daripada begadang nonton bola. Yang penting ada niat untuk setidaknya berada di depan televisi pas partai pemuncak.  Edisi Piala Dunia sesudah itu, saya tak pernah absen nonton final dari mulai 1998 sampai 2022. Saya ingat sundulan Zidane yang meruntuhkan mental tim Brasil; ingat betul Ronaldo yang dicukur seperti Gogon melesakkan dua gol ke gawang Oliver Khan; apalagi Itali pas juara dunia 2006, sampai sekar...

Melewatkan Final Piala Dunia


Saya melewatkan final Piala Dunia 1994. Masih kecil. Baru masuk SD. Waktu itu saya diajak Papap tiduran depan televisi, tak ingat apa-apa kecuali ekspresi kecewa pemain berkucir berkostum biru. Iya, kami lebih banyak tertidur daripada nonton. Mungkin bagi Papap sendiri, Piala Dunia adalah peristiwa yang gak penting-penting amat. Beliau mengajak saya nonton karena ya ikut hype saja. Mungkin supaya Papap ada bahan obrolan di tengah tongkrongan teman-temannya yang hobi nonton sepakbola. Bagi Papap sepertinya masih lebih penting ngantor di pagi harinya. Waktu tidur lebih berharga daripada begadang nonton bola. Yang penting ada niat untuk setidaknya berada di depan televisi pas partai pemuncak. 

Edisi Piala Dunia sesudah itu, saya tak pernah absen nonton final dari mulai 1998 sampai 2022. Saya ingat sundulan Zidane yang meruntuhkan mental tim Brasil; ingat betul Ronaldo yang dicukur seperti Gogon melesakkan dua gol ke gawang Oliver Khan; apalagi Itali pas juara dunia 2006, sampai sekarang pun masih saya ulang-ulang partai finalnya; lalu gol Iniesta di perpanjangan waktu; Mario Götze juga; dan seterusnya sampai final seru Prancis - Argentina di Qatar. Final Piala Dunia selalu menjadi momen sakral, yang memorinya disimpan untuk kelak diceritakan kembali.

Piala Dunia 2026 tentu saya ikuti hype-nya, meski sambil kecewa karena Itali tak berpartisipasi untuk ketiga kali. Anehnya, meski semangat nonton hingga semifinal dan bahkan perebutan juara tiga, saya memilih tidur pas partai final. Alasannya, keesokan harinya saya berdagang ayam dan mesti pergi pagi-pagi sekali karena jarak ke lapak lumayan jauh. Sempat setel alarm memang, tapi hanya untuk berbunyi sebentar sebelum langsung saya matikan. Saya pikir, untuk apa nonton aksi Messi dan Yamal, kalau nantinya saya terkantuk-kantuk ketika berjualan?

Lagipula, di zaman sekarang, tak usah khawatir ketinggalan berita/ cerita sepakbola. Hanya beberapa menit setelah pertandingan selesai, kita bisa langsung nonton tayangan ulangnya. Kalau malas menonton tayangan penuh, ada banyak versi highlight pertandingan dari mulai yang menampilkan gol-golnya saja sampai ada juga yang menayangkan sejumlah peluang atau peristiwa penting dalam pertandingan. Sekarang juga mudah sekali untuk mengakses pra dan pasca konferensi pertandingan. Saya senang melihat komentar-komentar cerdas Thomas Tuchel atau pelatih Mesir yang sangat marah dengan hasil pertandingan kontra Argentina. 

Intinya, tak ada urgensi bagi saya untuk nonton final secara real time karena selain tayangan ulang selalu tersedia dalam bentuk apapun sehingga saya tidak akan ketinggalan obrolan tentang partai puncak, juga saya pikir: kehidupan lebih besar dari final Piala Dunia. Momen final Piala Dunia memang cuma sekali dalam setahun, sementara saya berdagang setiap hari. Tapi berdagang juga adalah tentang momentum. Mungkin hari itu akan ada orang yang pengen makan ayam setelah begadang nonton final; mungkin ada ibu-ibu yang pengen makan ayam setelah antar anaknya sekolah; mungkin ada anak sekolah yang sudah dibekali uang jajan untuk beli ayam. 

Semua itu memang hanya kemungkinan, tetapi jika ternyata benar dan terlewatkan, rasanya tak bisa diulang seperti kita menonton rekaman final di Youtube. Mungkin saya berpikir seperti Papap ketika tertidur pas final 1994: tak apa terlewatkan, yang penting tetap fit untuk ngantor, untuk menjalani kehidupan yang lebih besar ketimbang Romario atau Baggio yang kalaupun aksinya terlewatkan, so what

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...