23 Mei kemarin Persib juara liga untuk ketiga kalinya berturut-turut dan belum pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya di Indonesia. Saya tentu senang, tapi tidak segembira ketika Persib juara Liga Dunhill tahun 1995 tatkala menumbangkan Petrokimia Putra yang diperkuat Jacksen F. Tiago dan Widodo C. Putro. Tahun 1995 itu saya masih SD tapi euforianya masih terbayang. Mungkin karena skuad Maung Bandung diisi oleh pemain lokal 100 persen, juga karena Liga Dunhill adalah liga profesional pertama di Indonesia yang menggabungkan kompetisi Perserikatan dan Galatama, sehingga tampak begitu prestisius saat itu (meski saya gak tahu-tahu amat bagaimana jalannya kompetisi Perserikatan dan Galatama).
Mungkin saja terjebak pada romantisme kelokalan itu, sehingga agak asing dengan skuad Persib belakangan yang kelihatannya cukup glamor dan tak lagi terjebak pada latar belakang kedaerahan. Secara umum, saya memang kian asing dengan sepakbola kekinian, mungkin karena era kebintangan individu semakin pudar dan sepakbola hari ini lebih mengandalkan kolektivitas bermain tanpa keberanian menitikberatkan pada satu dua orang pemain bintang nan kreatif. Messi dan Ronaldo mungkin adalah individualis "terakhir", yang ke depannya tidak akan kita saksikan lagi yang serupa mereka karena definisi bintang sepakbola ke depan adalah mereka yang mampu bermain taktis alih-alih dengan nekat memporakporandakan pertahanan lawan dengan egois.
Oke, kita kembali ke Persib dan kemenangannya kemarin. Pemahaman saya belakangan sudah tak lagi masuk pada kedigjayaan Maung Bandung, melainkan lebih pada bagaimana orang-orang berkonvoi, berpesta di jalanan, bahkan dari sebelum Persib diresmikan juara pasca pertandingan terakhir melawan Persijap Jepara. Konvoi dan pesta di jalanan ini memang sudah menjadi semacam tradisi untuk setiap kemenangan Persib di masa manapun, tapi saya melihatnya seperti ini:
Terutama bagi kelas pekerja yang sehari-harinya hidup dalam disiplin waktu dan peraturan, momen juaranya Persib adalah semacam kesempatan untuk sesekali melanggar lalu lintas di jalan, untuk bisa bangun siang dan berkilah pada bosnya bahwa ia lelah merayakan kemenangan Persib semalaman (mungkin bosnya akan maklum, kalau sama-sama penggemar Persib). Jadi, lokasi kegembiraan bobotoh sebenarnya bukan semata-mata perkara prestasi tim kesayangannya, melainkan akibat "justifikasi etis" untuk barang sehari atau dua hari bisa merayakan kebebasan yang mungkin jarang sekali didapat di waktu-waktu reguler.
Saya melihat sendiri, ketika Persib menang di pertandingan sebelum pamungkas yang membuat mereka selangkah lagi menuju juara, orang-orang menyalakan flare di bawah flyover Cipaganti, rame-rame menaiki mobil bak terbuka dan berjingkrak menyanyikan yel-yel, dan kelihatannya bobotoh menikmati sekali ketidakberdayaan polisi yang hanya bisa memandangi (dan memaklumi) euforia ini. Bukankah hal-hal demikian adalah kenikmatan tersendiri, ketika "aturan" hanya berpihak pada mereka yang merayakan kemenangan Persib, dan segala kesibukan reguler malah dianggap "asing"?
.png)
Comments
Post a Comment