Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Beberapa bulan terakhir, saya mulai berobat ke psikiater. Alasannya sederhana, tapi cukup mengganggu: tidur saya tidak lagi normal. Dalam semalam, saya hanya bisa terpejam dua atau tiga jam, dan selebihnya hanyalah rebahan dengan pikiran yang berkelana ke mana-mana. Kondisi itu perlahan menggerogoti stamina, membuat tubuh rapuh, dan emosi menjadi semakin tidak stabil.
Saya akhirnya memeriksakan diri ke psikiater di RS Imanuel. Setelah beberapa kali sesi, kesimpulannya adalah saya mengalami depresi, meskipun tidak sampai pada tahap akut. Dokter memberi saya obat, dan perlahan tidur saya mulai lebih teratur. Selain itu, saya juga memiliki kecenderungan gangguan kecemasan dan emosi yang meledak-ledak. Obat-obatan itu, yang sebelumnya saya pandang dengan was-was, ternyata benar-benar membantu saya lebih kalem, menurunkan intensitas badai kecil di kepala saya.
Dari pengalaman itu, saya mulai merenungkan sesuatu. Apa yang sering disebut sebagai “gejolak estetis” atau “inspirasi filosofis”—yang konon melahirkan karya-karya agung seniman dan filsuf—mungkin saja tidak lebih dari gejala gangguan jiwa yang diromantisasi. Ledakan emosi, mood swing, perasaan terasing, atau mendadak ingin menyendiri—semua itu dalam bahasa seni bisa disebut “momen inspirasi”, tapi dalam bahasa psikiatri bisa didiagnosis sebagai depresi, kecemasan, atau bahkan gangguan afektif.
Pertanyaan pun muncul: jika para filsuf atau seniman yang kita kenal itu diberi obat psikiatri, apakah karya-karya mereka masih akan lahir? Apakah Nietzsche, Kafka, atau Van Gogh, jika tidur mereka teratur dan emosinya tenang, akan tetap menuliskan ide-ide dan melahirkan karya seperti yang kita kenal sekarang? Ataukah justru mereka akan duduk kalem di pojokan, tidak lagi dirundung gejolak, dan akhirnya karya-karya itu tidak pernah ada?
Sebaliknya, mungkin justru dengan intervensi medis, karya mereka bisa lebih jernih, lebih terstruktur, dan lebih mudah diakses tanpa harus menanggung penderitaan berkepanjangan. Barangkali, tanpa luka batin pun, manusia tetap bisa menciptakan hal-hal indah—hanya dengan cara yang lebih sehat.
Psikiatri, dengan segala stigma yang masih melekat padanya, akhirnya bagi saya bukan hanya soal menyembuhkan. Ia juga menjadi cermin untuk meninjau ulang relasi antara sakit, kreativitas, dan romantisasi penderitaan. Apakah benar penderitaan adalah syarat lahirnya karya? Ataukah itu hanya mitos yang kita rawat terlalu lama?
.png)
Comments
Post a Comment