Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Beberapa bulan terakhir, saya mulai berobat ke psikiater. Alasannya sederhana, tapi cukup mengganggu: tidur saya tidak lagi normal. Dalam semalam, saya hanya bisa terpejam dua atau tiga jam, dan selebihnya hanyalah rebahan dengan pikiran yang berkelana ke mana-mana. Kondisi itu perlahan menggerogoti stamina, membuat tubuh rapuh, dan emosi menjadi semakin tidak stabil.
Saya akhirnya memeriksakan diri ke psikiater di RS Imanuel. Setelah beberapa kali sesi, kesimpulannya adalah saya mengalami depresi, meskipun tidak sampai pada tahap akut. Dokter memberi saya obat, dan perlahan tidur saya mulai lebih teratur. Selain itu, saya juga memiliki kecenderungan gangguan kecemasan dan emosi yang meledak-ledak. Obat-obatan itu, yang sebelumnya saya pandang dengan was-was, ternyata benar-benar membantu saya lebih kalem, menurunkan intensitas badai kecil di kepala saya.
Dari pengalaman itu, saya mulai merenungkan sesuatu. Apa yang sering disebut sebagai “gejolak estetis” atau “inspirasi filosofis”—yang konon melahirkan karya-karya agung seniman dan filsuf—mungkin saja tidak lebih dari gejala gangguan jiwa yang diromantisasi. Ledakan emosi, mood swing, perasaan terasing, atau mendadak ingin menyendiri—semua itu dalam bahasa seni bisa disebut “momen inspirasi”, tapi dalam bahasa psikiatri bisa didiagnosis sebagai depresi, kecemasan, atau bahkan gangguan afektif.
Pertanyaan pun muncul: jika para filsuf atau seniman yang kita kenal itu diberi obat psikiatri, apakah karya-karya mereka masih akan lahir? Apakah Nietzsche, Kafka, atau Van Gogh, jika tidur mereka teratur dan emosinya tenang, akan tetap menuliskan ide-ide dan melahirkan karya seperti yang kita kenal sekarang? Ataukah justru mereka akan duduk kalem di pojokan, tidak lagi dirundung gejolak, dan akhirnya karya-karya itu tidak pernah ada?
Sebaliknya, mungkin justru dengan intervensi medis, karya mereka bisa lebih jernih, lebih terstruktur, dan lebih mudah diakses tanpa harus menanggung penderitaan berkepanjangan. Barangkali, tanpa luka batin pun, manusia tetap bisa menciptakan hal-hal indah—hanya dengan cara yang lebih sehat.
Psikiatri, dengan segala stigma yang masih melekat padanya, akhirnya bagi saya bukan hanya soal menyembuhkan. Ia juga menjadi cermin untuk meninjau ulang relasi antara sakit, kreativitas, dan romantisasi penderitaan. Apakah benar penderitaan adalah syarat lahirnya karya? Ataukah itu hanya mitos yang kita rawat terlalu lama?
.png)
Comments
Post a Comment