Skip to main content

Tentang Menerima Kehidupan

Oh, selama saya masih membayangkan hal-hal menyenangkan di waktu kelak, atau berkubang dalam perandaian di masa lalu, kelihatannya susah untuk menjadi bahagia. Saya pernah bercita-cita: mulai usia empat puluh mau hidup santai, berharap uang dari menjadi pembicara atau royalti buku. Kenyataannya begini: usia empat puluh malah kena cancel , buku-buku ditarik semua, tidak ada lagi undangan menjadi pembicara. Namun soal masa lalu, memang saya tak pernah sering-sering menyesali. Ini saya pelajari dari buku Musashi , untuk tak pernah meratapi masa lalu.  Karena setelah dipikir-pikir, berandai soal masa lalu itu sungguh tak berguna. Kita menganggap kejadian yang kita alami sekarang (Y), adalah akibat dari suatu perbuatan (X) di masa lalu. Berandai-andai artinya, membayangkan bahwa jika X tak pernah terjadi, maka Y juga tidak akan pernah terjadi. Pertanyaannya, benarkah X adalah penyebab tunggal dalam terjadinya Y? Benarkah jika X tidak ada, Y benar-benar tidak ada? Sebagai contoh, andai s...

Susul Menyusul Teknologi


Di zaman AI ini, segala sesuatu tampak bisa lebih dipermudah. Seperti yang "curang" jika orang-orang dikit-dikit pake AI, bikin siapapun itu bisa nulis, desain, dan ngemenej apa-apa dengan bantuan AI. Saya sendiri menjalankan bisnis ayam crispy dengan banyak konsultasi pada AI yang sudah saya latih supaya bisa jadi Chief Finance Officer. Lebih murah? Jelas, lebih baik bayar GPT berlangganan ketimbang sewa jasa akuntan atau tambahan orang profesional lainnya. Apalagi ini cuma bisnis UMKM kecil-kecilan. Lebih praktis? Nah ini nanti dulu, AI memang pintar, tapi rentan juga melakukan kesalahan, terutama jika kita lepas begitu saja tanpa memberi batasan atau input informasi yang memadai. Kadang malah AI bisa berusaha meyakinkan kita bahwa dirinya benar, padahal ada itung-itungan yang bisa saja luput dan keliru. 

Tapi ini bukan perkara yang sungguh-sungguh hendak dibahas dalam tulisan ini (soal kelemahan AI), melainkan soal cara pandang kita terhadap perubahan teknologi itu sendiri. Teknologi merupakan alat yang merespons kebutuhan masyarakat. Sedari awal mulai manusia berburu, batu dan kayu sudah merupakan teknologi yang membuat manusia bisa membunuh hewan buruan dan membuat api untuk mematangkan daging. Dengan teknologi batu dan kayu, suatu masyarakat menjadi lebih unggul dalam satu hal ketimbang masyarakat lainnya (setidaknya soal mencari makan dengan cara berburu). Hal demikian berlanjut jika kita lompat jauh ke depan, ketika orang-orang menemukan komputer (menyingkirkan mesin tik), menemukan MS Word dan Excel (menyingkirkan cara mengetik atau membuat sheet manual), dan seterusnya sampai tiba di era AI yang ditopang oleh Large Language Model (menyingkirkan bahasa pemrograman sederhana). 

Neil Postman, filsuf teknologi yang nadanya pesimistik, melihat teknologi sebagai gagasan yang terus menerus menyingkirkan. Teknologi baru adalah selalu keuntungan bagi satu pihak (yang memiliki akses terhadap teknologi tersebut), dan kerugian bagi pihak yang lain (yang tidak memiliki akses kepadanya). Penemuan mesin cetak Gutenberg misalnya, adalah sekaligus petaka bagi mereka yang bergerak di jasa tulis menulis untuk menyalin manuskrip secara manual. Tapi apa mau dikata, penemuan mesin cetak Gutenberg juga adalah jawaban atas masalah dalam masyarakat yang mungkin menginginkan salinan manuskrip yang lebih cepat, massal, dan murah (misalnya: salinan kitab suci). Tentu keberadaan mesin cetak ini juga tidak selalu seratus persen menguntungkan. Mesin bisa bermasalah, salinan bisa tidak rapi (hingga sekarang pun kendala demikian masih bisa terjadi), dan di sisi lain, pada orang-orang yang menggunakan mesin cetak pun, ada mereka yang lebih ahli dan ada mereka yang lebih kurang ahli.

Artinya, teknologi memang memberikan kemudahan, tapi tidak sesederhana itu, terutama ketika makin "membudaya" dan tertanam dalam suatu masyarakat. MS Word dalam suatu masa bisa sangat membantu, tapi kenyataannya, ada mereka yang sangat ahli dalam MS Word, ada juga yang menggunakannya cuma untuk sekadar ngetik. AI sekarang menjadi teknologi terdepan dalam mereplikasi pikiran manusia, tapi tetap saja ada mereka yang lebih menguasai dan ada yang pake GPT untuk curhat-curhat saja. Dalam teknologi, petaka tidak hanya berlangsung bagi non pengguna, diantara pengguna pun petaka bisa terjadi. 

Tapi apa poinnya? Teknologi tidak menghilangkan kesenjangan, melainkan memindahkan letak kesenjangan. Sebagian orang pada hari ini mungkin akan ditertawakan jika tidak bisa menulis pesan WhatsApp di ponsel, tetapi kelak, mungkin tak lama lagi, sebagian orang akan ditertawakan karena minta dibuatkan skripsi oleh AI langsung lima bab tanpa mengawasi cara kerja dan penggunaan referensinya. Teknologi AI memang bisa semakin memperlebar jarak antara mereka yang menguasainya dan mereka yang tidak, tetapi di antara para penggunanya pun tercipta arena baru: siapa yang paling paham cara kerjanya, siapa yang paling tahu bagaimana menghasilkan uang darinya, siapa yang tahu kapan harus mengontrol dan mengawasinya, sampai mereka yang paling masa bodoh dengan semua itu: saya pakai untuk hiburan, mengatasi kesepian, mengerjakan tugas-tugas sederhana, so what

Tak bisa dipungkiri, secara filosofis maupun praktis, AI adalah tantangan bagi manusia itu sendiri. Namun sebagaimana perkembangan teknologi sejak batu dan kayu, mesin cetak Gutenberg, sampai Microsoft Excel yang pada masanya juga begitu digjaya, manusia selalu berusaha menyesuaikan diri dengan apa yang telah diciptakannya. Ada keterampilan yang hilang, ada keterampilan baru yang muncul, dan posisi manusia terhadap teknologi terus berubah. Manusia memang bisa berubah karena teknologi, tetapi teknologi juga tetap lestari karena manusia yang terus menemukan kebutuhan baru untuk memakainya. Ibarat kanon dalam musik, manusia dan teknologi akan terus susul-menyusul, dan komposisinya mungkin tak akan pernah selesai.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...