Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Ambiguitas Syukur


Ketika sebuah kebakaran melanda lingkungan sekitar rumah, pertanyaan yang kerap muncul dari orang lain biasanya sederhana: “Bagaimana keadaanmu?” Jawaban yang spontan keluar sering kali adalah, “Alhamdulillah, tidak terdampak.” Kalimat syukur ini terdengar tulus, seolah hanya bentuk pengakuan akan keselamatan diri sendiri. Namun, jika direnungkan lebih jauh, ucapan itu juga mengandung dimensi lain yang jarang disadari: “Alhamdulillah, bukan saya yang terdampak, tetapi orang lain.” Artinya, rasa syukur yang kita lafalkan dalam situasi tersebut tidak pernah sepenuhnya murni; ia selalu parsial, terkait dengan perbedaan nasib antara kita dan orang lain. 

Dalam titik ini, syukur menjadi cermin yang memperlihatkan sisi egosentris manusia—kita lega karena selamat, tetapi sekaligus menyinggung bahwa ada orang lain yang harus menanggung derita. 

Lalu, apakah memang demikian cara kerja konsep syukur? Jika syukur selalu lahir dari perbandingan, bukankah itu menandakan adanya bias moral dalam diri kita? Kita merasa perlu bersyukur justru karena ada orang lain yang tidak seberuntung kita. Tetapi apakah ini tidak bertentangan dengan gagasan tentang keadilan Tuhan? Jika keselamatan kita harus “dibayar” dengan penderitaan orang lain, di manakah letak kebijaksanaan ilahi yang diyakini adil bagi semua makhluk? Apakah keadilan Tuhan berarti memberikan ujian kepada sebagian orang, agar sebagian yang lain bisa belajar bersyukur?

Pertanyaan ini menimbulkan dilema etis. Jika kita bersyukur, bagaimana dengan posisi orang lain yang mengalami kerugian atau musibah? Apakah mereka juga dituntut untuk bersyukur dalam ketidakberuntungan mereka? Dalam tradisi keagamaan, sering ada ajaran bahwa orang yang ditimpa musibah harus tetap bersyukur karena “di balik cobaan pasti ada hikmah.” Namun, dari sudut pandang manusia yang sedang menderita, tuntutan itu terdengar berat, bahkan tidak adil. Bagaimana mungkin seseorang yang kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang terdekatnya dipaksa untuk memaknai penderitaannya sebagai sesuatu yang patut disyukuri? 

Di sisi lain, ada kecenderungan lain yang lebih problematis: menyederhanakan musibah orang lain sebagai ganjaran atas kesalahan atau dosa-dosa mereka. Dengan cara ini, kita membebaskan diri dari beban empati. Kita merasa tidak perlu terlalu peduli karena nasib buruk yang menimpa orang lain dianggap sebagai konsekuensi yang pantas. Pandangan semacam ini bukan hanya menutup ruang solidaritas, melainkan juga menggeser makna syukur menjadi alat pembenaran bagi rasa lega kita sendiri. Kita bersyukur bukan lagi karena kesadaran spiritual, tetapi karena merasa lebih “beruntung” dibandingkan mereka yang ditimpa malapetaka. 

Maka, barangkali yang perlu ditinjau ulang adalah bagaimana kita memaknai syukur. Apakah syukur hanya cukup berhenti pada dimensi personal—selamatnya diri sendiri dan keluarga—atau seharusnya ia diperluas ke arah sosial, sehingga melahirkan kepedulian terhadap mereka yang menderita? Jika syukur hanya berhenti di titik “untungnya saya selamat”, maka syukur menjadi sempit, bahkan bisa jatuh pada egoisme spiritual. Tetapi jika syukur dimaknai sebagai energi untuk menolong, maka kalimat “Alhamdulillah saya selamat” seharusnya diikuti dengan kesadaran: “Dan karena itu, saya punya kesempatan untuk membantu mereka yang tidak selamat.” 

Dengan demikian, syukur tidak lagi berdiri berhadap-hadapan dengan penderitaan orang lain, melainkan hadir sebagai jembatan. Kita bersyukur bukan karena orang lain menderita, melainkan karena kita masih diberi kemampuan untuk berbagi, menopang, dan meringankan beban mereka. Dalam kerangka inilah keadilan Tuhan bisa dipahami bukan sebagai distribusi nasib yang timpang, melainkan sebagai peluang bagi manusia untuk menjalankan solidaritas dan kasih sayang. Syukur pun berubah wajah: dari sekadar pernyataan lega individual menjadi panggilan etis untuk hadir bersama orang lain dalam suka maupun duka.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...