Karena sedang tak ada kendaraan dan alasan kesehatan, hampir dua tahun belakangan ini saya kemana-mana berjalan kaki. Diusahakan minimal empat kilometer. Rute tetap biasanya PP rumah saya dan rumah Nadya yang memang pas segitu jaraknya. Selain itu, akibat kena cancel dan banyak kehilangan kesibukan lama, saya gak merasa perlu kendaraan karena mobilitas pun menurun drastis. Sehari-hari paling cari kafe untuk nulis, ngopi-ngopi, di rumah dengerin musik dan tiduran, pergi kirim makanan buat Nadya, beli rokok dan ke warteg, nge-date. Repeat. Jalan kaki menjadi semacam aktivitas yang dibuat-buat, setidaknya supaya hidup tak sekadar boboan di kamar.
Lama kelamaan, kebiasaan jalan kaki menjadi tidak sekadar menyusuri rute yang itu-itu saja. Belakangan, saya mulai mencari jarak yang lebih jauh. Misalnya, ngafe nya tak lagi di sekitaran rumah, tapi coba ke kafe di toko roti Djie Seng di Astana Anyar yang jaraknya tiga kilometer lebih. Awalnya melelahkan, kadang di tengah-tengah saya menyerah dan memanggil gojek. Namun lama-lama, berangkat ke Djie Seng jadi kebiasaan. Bisa seminggu tiga kali saya ke kafe itu. Selain jaraknya menantang, kopi dan roti di sana memang murah-murah. Harga kopi sebelas ribu cukup banget daripada harus nangkring di kafe kekinian yang harga Americano-nya sudah tiga puluh ribu ke atas.
Seiring dengan habit yang makin terbentuk, jalan kaki tak lagi tentang ketiadaan kendaraan dan alasan kesehatan. Jalan kaki itu sendiri, lama-lama, menjadi satu kegiatan yang menyenangkan dan bikin ketagihan. Ketika kita jalan kaki, hal-hal yang biasanya tak terlihat saat berkendara pakai motor atau mobil, menjadi kelihatan dan bahkan bisa diamati lebih serius dengan berhenti sejenak. Misalnya melewati kafe yang sebelumnya tersembunyi, rumah yang dirasa unik, atau pohon di trotoar yang rindang. Saya ingat kata-kata Khalil Gibran dan sekarang makin relate: kura-kura dapat bercerita lebih banyak tentang jalan daripada kancil.
Saat berjalan kaki, memang kita tak selalu memperhatikan apa yang di sekeliling. Kadang pikiran kemana-mana, memikirkan masa depan, masa lalu, relasi, pekerjaan, hutang, tapi ada hal menarik: kita memikirkan semua itu, sambil terus bergerak. Menyeret kaki yang kadang bertujuan, kadang juga tidak. Membiarkan diri tersesat, mencoba jalan-jalan kecil penuh labirin, tapi poinnya satu: jangan hanya pikiran yang diajak jalan-jalan, tubuh pun mesti turut serta. Karena persoalan hidup tak bisa diselesaikan cuma dengan membayang-bayangkannya, melainkan juga dengan mengaktifkan seluruh indera. Daging, darah, tulang, semuanya adalah bagian dari dunia, mengapa hanya mengandalkan pikiran untuk menyelesaikan persoalan?
Jika sedang tak ada uang, berjalanlah. Jika sedang bingung dan gundah, berjalanlah. Jika sedang berantem sama pasangan, berjalanlah. Jika sedang ingin bicara dengan Tuhan, berjalanlah. Jika sedang bahagia, berjalanlah. Jika besok menghadapi hari penting, berjalanlah. Jika gula darah sedang melonjak, berjalanlah. Selangkah demi selangkah, hingga suatu ketika kita menoleh ke belakang dan sadar: ternyata kita sudah melangkah begitu jauh.

Comments
Post a Comment