Skip to main content

Tentang Makan Malam Kami

Makan malam kami 9 April kemarin terasa spesial. Selain karena diadakan dalam rangka ulang tahun Nadya, juga karena restorannya istimewa. Namanya AOM Steak House di Pasirkaliki. Bukan tipe restoran dengan harga yang bisa kami jangkau sehari-hari. Saat kami masuk, kami disambut musik live dengan genre jazz. Ada kontrabas di sana, tapi ternyata cuma pajangan karena pemain basnya lebih memilih pake bas elektrik. Saya dan Nadya duduk persis di depan band nya, kami duduk sebelahan karena memang format duduknya seperti itu (hal yang sebenarnya Nadya jarang mau lakukan karena katanya suka kagok kalau makan). Cahayanya temaram, bikin tidak banyak hal yang harus dilihat di tempat itu kecuali antara kita sendiri, meja makan, dan band di hadapan.  Nadya memesankan makanan, dua menu pembuka, saya lupa namanya. Minumnya teh dan jus. Setelah itu menu utama, Nadya steak, saya spaghetti. Sebelum mulai makan menu utama, saya memberikannya rangkaian mawar merah. Dia tahu aku akan memberikan itu, tap...

Tentang Makan Malam Kami




Makan malam kami 9 April kemarin terasa spesial. Selain karena diadakan dalam rangka ulang tahun Nadya, juga karena restorannya istimewa. Namanya AOM Steak House di Pasirkaliki. Bukan tipe restoran dengan harga yang bisa kami jangkau sehari-hari. Saat kami masuk, kami disambut musik live dengan genre jazz. Ada kontrabas di sana, tapi ternyata cuma pajangan karena pemain basnya lebih memilih pake bas elektrik. Saya dan Nadya duduk persis di depan band nya, kami duduk sebelahan karena memang format duduknya seperti itu (hal yang sebenarnya Nadya jarang mau lakukan karena katanya suka kagok kalau makan). Cahayanya temaram, bikin tidak banyak hal yang harus dilihat di tempat itu kecuali antara kita sendiri, meja makan, dan band di hadapan. 

Nadya memesankan makanan, dua menu pembuka, saya lupa namanya. Minumnya teh dan jus. Setelah itu menu utama, Nadya steak, saya spaghetti. Sebelum mulai makan menu utama, saya memberikannya rangkaian mawar merah. Dia tahu aku akan memberikan itu, tapi aku tetap memberikannya, dan dia tetap senang menerimanya. Berikutnya aku berikan kue ulang tahun dengan diameter sedang, beli di Prima Rasa. Pelayan datang menegur dan mengatakan bahwa kue dari luar tidak boleh dimakan di sini. Kami bilang oh ini hanya untuk difoto saja. Lalu dia berkata oke seraya pergi meninggalkan meja kami. Nadya lebih banyak diam, menikmati momen, sambil matanya berkaca-kaca. Saya tanya, "Senang?" Dia hanya mengangguk sambil tersenyum lebar. 

The radio and the telephone 
And the movies that we know 

Kami harus menunggu pukul sembilan malam supaya bisa merokok. Entah kenapa, ketentuannya memang begitu. Pas masuk pukul sembilan, kami memesan bir masing-masing sebotol. Tidak banyak hal yang kami bicarakan. Kami lebih banyak ikut bernyanyi dengan lagu-lagu yang dibawakan band. Selain itu, kami pikir, kami sudah bersama-sama satu setengah tahun ini. Kami ngobrol setiap hari. Pergi makan malam spesial adalah saatnya menikmati momen makan malam itu sendiri: makanannya, suasananya, perjalanan menuju lokasinya, dan perasaan yang tertinggal setelahnya. Obrolan tentu penting, tetapi tak usah yang berat-berat. Komentari sesuatu secukupnya saja, lebih banyak mengenang masa lalu, pahit manisnya, dan kenyataan bahwa kita telah tiba di masa sekarang, hal yang mungkin tak terbayangkan sebelumnya. 

Sebenarnya kadang tak penting kami makan di mana. Di warung nasi goreng pinggir jalan pun tak masalah. Momen tak jadi turun nilainya karena harga makanan yang murah. Kami selalu punya cara untuk membuat waktu-waktu bersama menjadi menyenangkan. Hanya saja, sesekali pergi ke restoran fancy juga tidak ada salahnya. Manusia perlu jeda. Menusia perlu selebrasi. Seperti orang merayakan lebaran dengan hidangan yang tak biasa, untuk mengingatkan bahwa hari itu juga bukan hari biasa. Kita bisa kenyang dengan makan nasi dan ikan asin, tapi manusia punya kebudayaan, sehingga bisa kenyang dengan cara yang dianggap lebih bergaya, yakni dengan opor dan ketupat. 

May just be passing fancies 
And in time may go 

Begitupun kami. Kami tetap akan saling merawat dan mengasihi dengan makan nasi dan telur setiap hari, tapi kami perlu jeda dan selebrasi, bahwa makan malam istimewa yang kami santap malam itu, adalah sekaligus perayaan atas makan nasi dan telur kami di hari-hari sebelumnya. Pada hari-hari ke depannya, kami juga akan tetap makan nasi dan telur, tetapi mungkin dengan lebih bertenaga, ditopang oleh momen indah tentang makan malam nan fancy. Momen indah itulah, yang pada suatu hari nanti, ketika dunia sedang tak ramah, ketika hidup lagi kejam-kejamnya, tempat kami berlindung dan bersembunyi. Tempat kami menarik selimut di malam hari. Merayakan kehangatan yang pernah tinggal, yang meski sudah lewat di masa silam, hangatnya masih saja terasa. 

But oh, my dear 
Our love is here to stay


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...