Skip to main content

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Sebab Akibat dalam Hidup


Dalam suatu forum yang isinya ada Pidi Baiq, sudah lama sekali, mungkin lebih dari sepuluh tahun lalu di Gedung Indonesia Menggugat, saya ingat si Ayah mengatakan sesuatu yang kira-kira begini, "Gimana kita mau berharap dibagi rejeki sama orang, kalau kita sendiri gak pernah berbagi?" Klise dan moralis sih, tapi makin kemari, hal-hal demikian semakin relate bagi saya. 

Anda sopan, kami segan. Begitulah prinsip yang sering saya dengar khususnya di kalangan ormas atau kelompok serupa penganut machoisme. Artinya, sopan adalah prasyarat dari segan. Saya hanya mau bersikap segan (pada Anda) jika Anda terlebih dahulu sopan (pada saya). Jika Anda tidak sopan (pada saya), tentu saya tidak perlu bersikap segan (pada Anda). Begitulah kira-kira hubungan sebab akibat yang termuat dalam kalimat tersebut. 

Ini adalah hal yang mudah sekali kita temukan dalam percakapan sehari-hari: "Ngapain saya baik ke dia? Dia aja begitu sama saya," "Saya terpaksa begini, karena orang-orang juga jahat sama saya," atau dalam versi lain, "Saya baru mau menjadi orang baik, setelah banyak uang," "Kalau nanti saya sehat, saya mau lebih banyak peduli pada dia." Logika ini adalah logika ormas serupa "Anda sopan, kami segan" atau logika penjudi seperti "Kalau saya menang, saya akan stop". Ada syarat yang kita bayangkan harus terpenuhi dulu, baru mau berbuat sesuatu.

Padahal syarat itu adalah syarat yang sangat rentan. Pertama, hanya bisa dibayang-bayangkan saja (kalau nanti saya kaya, kalau nanti saya sehat, kalau nanti saya menang). "Kalau nanti saya sehat" (memangnya kapan sehatnya? pasti sehat gitu?) "Kalau nanti saya menang" (memangnya bakal menang? Gimana kalau kalah terus?). Kedua, syarat itu seringnya ditinjau dari kepuasan kita sendiri saja. "Anda sopan" itu ukuran sopannya kaya gimana? Cukup bilang "punten a" kalau papasan atau sampe ngasih japrem? "Orang-orang juga jahat sama saya" itu sejahat apa? Bikin kelean punya justifikasi untuk jadi Joker kah? 

Logika ormas atau penjudi ini dipatahkan oleh celetukan Pidi Baiq yang menganggap bahwa kita tidak usah menunggu syarat apapun itu terpenuhi. Justru lakukan sesuatu saja, supaya syarat itu jadi terpenuhi. Segala sesuatunya bisa dibalik: saya bersikap segan, supaya Anda sopan; saya stop judi, supaya menang (dalam keuangan dan kesehatan mental); saya sebisa mungkin mesti sehat, supaya bisa lebih banyak peduli pada dia. Kebiasaan saya baru mau Y kalau X terpenuhi ini, dalam kehidupan, tak selalu berjalan seperti itu. Justru kehidupan kadang berjalan aneh dan tak linear: ketika saya melakukan Y, justru X jadi terpenuhi. 

Itu sebabnya ada hal-hal yang mesti kita lakukan dan jalani terlebih dahulu, sebelum akhirnya mendapat pemahaman tentangnya. Saya lama sekali berusaha membuat sholat menjadi masuk akal sebagai prasyarat untuk melakukannya. Tapi kalau nunggu sampai masuk akal, kapan sholatnya? Mungkin setelah menjalani sholat itu sendiri, baru ada hal-hal yang menjadi masuk akal. Atau mungkin juga tidak, menurut saya: tidak apa-apa. Kita melakukan Y saja, mungkin tidak membuat X terpenuhi, tapi bisa juga malah A, B, C, D, E yang jadi terpenuhi, yang kita tidak sangka-sangka. 

Saya ingat bagaimana almarhumah Mamah kerap memberi pada orang yang justru menurutnya tidak sopan kepadanya, bahkan melukai perasaannya. Saya sempat bertanya, "Kenapa Mamah memberi pada orang itu? Bukannya dia bikin Mamah sedih?" Ibu saya waktu itu mungkin kurang bisa memberi jawaban memuaskan, atau mungkin saya lupa, tapi saya bisa menafsirkannya hari ini: apa poinnya memberi pada orang yang kita sukai? Hal demikian tidaklah aneh, karena kita hanya memenuhi logika penjudi atau ormas yang mensyaratkan X (hati saya senang) untuk Y (memberi kepadanya). 

Mungkin Mamah waktu itu berpikir, kalau mau memberi ya memberi saja, bahkan pada orang jahat sekalipun, karena balasan itu tidak transaksional 1vs1 dari orang yang bersangkutan, melainkan bisa juga dari apapun, dari hal-hal yang kita tidak duga. Orang yang kita beri mungkin tak bisa membalas perbuatan tersebut dengan kebahagiaan yang kita harapkan, tapi siapa tahu, ada jenis kebahagiaan lain yang disediakan oleh kehidupan. Siapa tahu, tapi kalaupun tidak ada kebahagiaan sama sekali yang kita dapatkan, so what? Karena bisakah kita melupakan konsekuensi apapun dari berbuat Y? Alias memberi demi memberi itu sendiri, menjadi sehat demi sehat itu sendiri, atau menjadi baik karena memang ingin menjadi baik. 

Jika itu bisa, maka kita tidak hanya mematahkan logika ormas dan penjudi, tapi juga melampaui logika celetukan Pidi Baiq. 

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Pembacaan Film Cast Away (2000)

Cast Away adalah film tahun 2000 yang disutradarai oleh Robert Zemeckis. Peran utama film ini diperankan oleh Tom Hanks sebagai Chuck Noland yang bekerja sebagai supervisor di jasa pengantaran FedEx. Pada suatu perjalanan menuju Malaysia, pesawat barang yang ditumpangi Chuck jatuh di Samudera Pasifik dan menyebabkan ia terdampar di suatu pulau. Di pulau tak berpenghuni tersebut, ia bertahan hidup selama empat tahun sebelum ditemukan oleh sebuah kapal besar lewat sebuah perjuangan membuat rakit hingga ke laut lepas. Selain kepandaian Zemeckis dalam mengambil gambar, film ini juga menyuguhkan beberapa makna yang bagi saya cukup filosofis, inilah dia poin-poinnya: Wilson si Bola Voli Pada momen ketika Chuck merasa kesepian, ia menemukan "teman" dalam diri bola voli yang kebetulan ikut terdampar di dalam bungkus paket FedEx. Ketika Chuck berusaha membuat api dengan menggesekkan kayu, tangannya terluka sehingga ia merasa kesal dan melampiaskannya dengan melemparkan bola ters...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...