Skip to main content

Piala Dunia Kali Ini

Piala Dunia 2026 sudah separuh jalan dan saya baru bisa menuliskan ini. Piala Dunia selalu menjadi warna dari kehidupan saya. Saya ingat pengalaman paling pertama adalah ketika diajak Papap nonton final Piala Dunia 1994 yang ditayangkan di TVRI. Bukan nobar rame-rame, karena saya tahu Papap juga tidak suka-suka amat dengan sepakbola. Hanya nonton depan televisi dan kami berdua terlelap, bangun-bangun, Brazil dikabarkan juara, gara-gara penalti Roberto Baggio melambung ke angkasa. Saya tidak mengerti sepakbola saat itu, sampai mulai menggandrungi dua tahun kemudian, tepatnya Euro '96 dan entah kenapa, menjatuhkan pilihan tim favorit pada Itali. Dari sejak itu, hingga hari ini (bukankah tidak benar-benar ada alasan rasional di balik kenapa kita menjadi fanatik terhadap suatu tim sepakbola?). Piala Dunia 2006 tentu menjadi yang paling berkesan, karena Itali menjadi juara di sana, di Jerman. Pertandingan semifinal melawan tuan rumah lebih berkesan ketimbang finalnya sendiri melawan Pra...

Sebab Akibat dalam Hidup


Dalam suatu forum yang isinya ada Pidi Baiq, sudah lama sekali, mungkin lebih dari sepuluh tahun lalu di Gedung Indonesia Menggugat, saya ingat si Ayah mengatakan sesuatu yang kira-kira begini, "Gimana kita mau berharap dibagi rejeki sama orang, kalau kita sendiri gak pernah berbagi?" Klise dan moralis sih, tapi makin kemari, hal-hal demikian semakin relate bagi saya. 

Anda sopan, kami segan. Begitulah prinsip yang sering saya dengar khususnya di kalangan ormas atau kelompok serupa penganut machoisme. Artinya, sopan adalah prasyarat dari segan. Saya hanya mau bersikap segan (pada Anda) jika Anda terlebih dahulu sopan (pada saya). Jika Anda tidak sopan (pada saya), tentu saya tidak perlu bersikap segan (pada Anda). Begitulah kira-kira hubungan sebab akibat yang termuat dalam kalimat tersebut. 

Ini adalah hal yang mudah sekali kita temukan dalam percakapan sehari-hari: "Ngapain saya baik ke dia? Dia aja begitu sama saya," "Saya terpaksa begini, karena orang-orang juga jahat sama saya," atau dalam versi lain, "Saya baru mau menjadi orang baik, setelah banyak uang," "Kalau nanti saya sehat, saya mau lebih banyak peduli pada dia." Logika ini adalah logika ormas serupa "Anda sopan, kami segan" atau logika penjudi seperti "Kalau saya menang, saya akan stop". Ada syarat yang kita bayangkan harus terpenuhi dulu, baru mau berbuat sesuatu.

Padahal syarat itu adalah syarat yang sangat rentan. Pertama, hanya bisa dibayang-bayangkan saja (kalau nanti saya kaya, kalau nanti saya sehat, kalau nanti saya menang). "Kalau nanti saya sehat" (memangnya kapan sehatnya? pasti sehat gitu?) "Kalau nanti saya menang" (memangnya bakal menang? Gimana kalau kalah terus?). Kedua, syarat itu seringnya ditinjau dari kepuasan kita sendiri saja. "Anda sopan" itu ukuran sopannya kaya gimana? Cukup bilang "punten a" kalau papasan atau sampe ngasih japrem? "Orang-orang juga jahat sama saya" itu sejahat apa? Bikin kelean punya justifikasi untuk jadi Joker kah? 

Logika ormas atau penjudi ini dipatahkan oleh celetukan Pidi Baiq yang menganggap bahwa kita tidak usah menunggu syarat apapun itu terpenuhi. Justru lakukan sesuatu saja, supaya syarat itu jadi terpenuhi. Segala sesuatunya bisa dibalik: saya bersikap segan, supaya Anda sopan; saya stop judi, supaya menang (dalam keuangan dan kesehatan mental); saya sebisa mungkin mesti sehat, supaya bisa lebih banyak peduli pada dia. Kebiasaan saya baru mau Y kalau X terpenuhi ini, dalam kehidupan, tak selalu berjalan seperti itu. Justru kehidupan kadang berjalan aneh dan tak linear: ketika saya melakukan Y, justru X jadi terpenuhi. 

Itu sebabnya ada hal-hal yang mesti kita lakukan dan jalani terlebih dahulu, sebelum akhirnya mendapat pemahaman tentangnya. Saya lama sekali berusaha membuat sholat menjadi masuk akal sebagai prasyarat untuk melakukannya. Tapi kalau nunggu sampai masuk akal, kapan sholatnya? Mungkin setelah menjalani sholat itu sendiri, baru ada hal-hal yang menjadi masuk akal. Atau mungkin juga tidak, menurut saya: tidak apa-apa. Kita melakukan Y saja, mungkin tidak membuat X terpenuhi, tapi bisa juga malah A, B, C, D, E yang jadi terpenuhi, yang kita tidak sangka-sangka. 

Saya ingat bagaimana almarhumah Mamah kerap memberi pada orang yang justru menurutnya tidak sopan kepadanya, bahkan melukai perasaannya. Saya sempat bertanya, "Kenapa Mamah memberi pada orang itu? Bukannya dia bikin Mamah sedih?" Ibu saya waktu itu mungkin kurang bisa memberi jawaban memuaskan, atau mungkin saya lupa, tapi saya bisa menafsirkannya hari ini: apa poinnya memberi pada orang yang kita sukai? Hal demikian tidaklah aneh, karena kita hanya memenuhi logika penjudi atau ormas yang mensyaratkan X (hati saya senang) untuk Y (memberi kepadanya). 

Mungkin Mamah waktu itu berpikir, kalau mau memberi ya memberi saja, bahkan pada orang jahat sekalipun, karena balasan itu tidak transaksional 1vs1 dari orang yang bersangkutan, melainkan bisa juga dari apapun, dari hal-hal yang kita tidak duga. Orang yang kita beri mungkin tak bisa membalas perbuatan tersebut dengan kebahagiaan yang kita harapkan, tapi siapa tahu, ada jenis kebahagiaan lain yang disediakan oleh kehidupan. Siapa tahu, tapi kalaupun tidak ada kebahagiaan sama sekali yang kita dapatkan, so what? Karena bisakah kita melupakan konsekuensi apapun dari berbuat Y? Alias memberi demi memberi itu sendiri, menjadi sehat demi sehat itu sendiri, atau menjadi baik karena memang ingin menjadi baik. 

Jika itu bisa, maka kita tidak hanya mematahkan logika ormas dan penjudi, tapi juga melampaui logika celetukan Pidi Baiq. 

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...