Skip to main content

Brasil

Saya ingat pertama kali memutuskan suka sepakbola adalah pas Euro '96 dan memilih Itali sebagai tim favorit hingga hari ini. Namun saya baru sadar ada tim yang memainkan sepakbola indah itu ketika nonton pertandingan persahabatan Brasil lawan Denmark masih di tahun yang sama. Brasil menang 5-1 sebagai pemanasan menjelang Olimpiade Atlanta. Tadinya nonton sepakbola ya seru saja, bola ditendang ke sana ke mari, ada yang lari, ada yang mencetak gol. Tapi melihat Brasil, saya baru tahu: oh, main sepakbola ini bisa seperti menari-nari ya . Tim olimpiade Brasil waktu itu diperkuat pemain seperti Ronaldo, Rivaldo, Roberto Carlos, Juninho dan Bebeto. Brasil memang tidak meraih medali emas di Olimpiade Atlanta '96. Juaranya adalah Nigeria dengan tim muda yang brilian, mengalahkan Argentina yang di dalamnya ada Simeone, Crespo, dan Zanetti. Brasil sendiri tunduk dramatis di tangan tim Elang Super setelah sempat unggul 3-1, sebelum dibalikkan oleh gol-gol dari Ikpeba dan Kanu. Brasil tida...

Brasil



Saya ingat pertama kali memutuskan suka sepakbola adalah pas Euro '96 dan memilih Itali sebagai tim favorit hingga hari ini. Namun saya baru sadar ada tim yang memainkan sepakbola indah itu ketika nonton pertandingan persahabatan Brasil lawan Denmark masih di tahun yang sama. Brasil menang 5-1 sebagai pemanasan menjelang Olimpiade Atlanta. Tadinya nonton sepakbola ya seru saja, bola ditendang ke sana ke mari, ada yang lari, ada yang mencetak gol. Tapi melihat Brasil, saya baru tahu: oh, main sepakbola ini bisa seperti menari-nari ya. Tim olimpiade Brasil waktu itu diperkuat pemain seperti Ronaldo, Rivaldo, Roberto Carlos, Juninho dan Bebeto.

Brasil memang tidak meraih medali emas di Olimpiade Atlanta '96. Juaranya adalah Nigeria dengan tim muda yang brilian, mengalahkan Argentina yang di dalamnya ada Simeone, Crespo, dan Zanetti. Brasil sendiri tunduk dramatis di tangan tim Elang Super setelah sempat unggul 3-1, sebelum dibalikkan oleh gol-gol dari Ikpeba dan Kanu. Brasil tidak juara, tapi tim olimpiade itu adalah embrio yang melahirkan tim Samba yang mencapai final Piala Dunia 1998 dan kemudian menjuarai edisi Piala Dunia berikutnya tahun 2002. Ronaldo, Rivaldo, dan Roberto Carlos main di seluruh edisi itu. Bebeto dan Aldair di Piala Dunia Prancis '98, sementara Juninho ada di Piala Dunia Jepang-Korsel 2002 meski banyak di bangku cadangan.

Setelah menjuarai Piala Dunia 2002 lewat dua gol R9, kita tahu nasib Brasil di turnamen besar ini hingga edisi terkini 2026: boro-boro juara, paling bagus saja masuk semifinal tahun 2014, itupun dilumat Jerman 1-7 di kandang sendiri. Ada apa dengan Brasil? Tim ini lima kali juara dunia, tapi sejak angkat trofi tahun 2002, penampilannya makin tak lagi ditakuti. Bukan tim favorit saya, tapi harus diakui, tim inilah yang bikin saya jatuh cinta pada sepakbola di tahun 1996, karena sajian permainan memikat yang disebut jogo bonito

Padahal pasca Atlanta 1996, jogo bonito tampak tak lagi kental sebagai permainan kolektif. Dari turnamen ke turnamen setelah itu, Brasil tampak tidak tergiur untuk bermain penuh gaya dan fokus pada sistem yang lebih disiplin alias ke-Eropa-Eropa-an. Jogo bonito memang masih dipraktikkan, tapi pada tingkat individu lewat pemain seperti Kaka, Ronaldinho, dan terakhir Neymar, dan bukan sebagai strategi keseluruhan di mana pemain dibolehkan bergerak lebih bebas atau meliuk-liuk melewati satu dua pemain sebelum melepas operan. Jogo bonito versi kolektif ini pernah menjadi ciri khas Brasil terutama tahun 1970 kala Pele masih bermain dan tahun 1982 serta 1986 di bawah asuhan Tele Santana yang menerapkan taktik super ofensif dengan pemain seperti Zico, Socrates, Falcao, Cerezo, dan Careca. 

Pasca 2002, Brasil selalu memasuki turnamen dengan beban besar sejarah. Bukan hanya sebagai pengoleksi trofi lima kali, melainkan sebagai pemangku tanggung jawab akan sepakbola yang memikat. Mereka tidak sekadar harus menang, tapi harus menang dengan gaya. Rasanya bukan Brasil banget jika mereka hanya menang 1-0 dengan cara parkir bus dan mengandalkan counter-attack. Thomas Müller, gelandang Jerman, pernah mengonfirmasi hal ini dalam potongan wawancara yang saya tonton di Youtube Shorts. Waktu Jerman menghancurkan Brasil 7-1 di kandang mereka sendiri tahun 2014, Müller merasakan bahwa tim lawan begitu tertekan secara mental sejak menit pertama. Brasil bukan takut oleh Jerman, melainkan takut oleh bayang-bayang masa lalunya sendiri. 

"Kita hidup di masa ketika nomor 9 Brasil bermain untuk Brentford". Saya baca komen netizen itu di konten berisi prediksi formasi Brasil dan tertawa geli. Dia sedang mengomentari Igor Thiago yang digadang menjadi penyerang utama untuk tim Piala Dunia 2026. Igor Thiago pada akhirnya tidak bernomor punggung 9, hanya bermain satu kali di partai pertama, dan mesti rela menyerahkan posisi striker utama (beserta nomor punggung sakti itu) untuk Matheus Cunha. Cunha lumayan melesakkan tiga gol, tapi tetap tak patut dikenang setelah Brasil tersingkir oleh Norwegia. Cunha, beserta pemilik nomor 9 tim Samba lain dari masa ke masa seperti Fred, Gabriel Jesus, dan Richarlison, tetap tidak bisa membuat fans Brasil move on dari Ronaldo fenomeno. Fred bahkan paling dicibir setelah kalah 1-7 di tahun 2014 setelah disebut-sebut "sepanjang pertandingan cuma nendang bola cuma buat kick-off".  Maka itu sindiran perkara Igor Thiago dan Brentford-nya adalah semacam romantisme sejarah yang membuat pemilik nomor 9 Brasil akan selalu dibandingkan dengan el phenomeno.

Begitulah, ketika skuad Brasil diumumkan untuk Piala Dunia 2026 oleh Don Carletto, kita hanya menganggap itu serem karena itu Brasil dengan segala masa lalunya. Tapi bobot pemainnya, sungguh tak terasa angker seperti kita mendengar nama-nama seperti Kaka, Ronaldinho, Ronaldo, Adriano, atau Cafu sebagai para eksponen jogo bonito. Vinicius Jr. memang jago, Raphinha juga dahsyat, tapi mereka hidup dalam iklim permainan yang mendewakan sistem di atas teknik, sehingga skill tak lagi menjadi ketimpangan serius, bahkan di hadapan tim seperti Maroko atau Jepang sekalipun, segalanya menjadi seperti murni adu fokus dan kedisiplinan. Kita tak bisa lagi berharap pada para pemain seperti Vini, Raphinha, atau Cunha, untuk mengoper cantik sambil tertawa-tawa seperti Ronaldinho dan mengubah arah permainan seorang diri. Neymar sebagai topskor Brasil sepanjang masa mungkin adalah orang terakhir yang bisa bermain demikian, tapi ya, dia sudah makin tua dan tampak tak bisa menjaga kebugarannya sebaik Messi dan Ronaldo. 

Jadi, entah kapan Brasil bisa berjaya lagi. Talenta tak pernah habis, tapi yah, cerita lama: sejak dini sudah diekspor ke Eropa, kemungkinannya dua, antara karirnya mentereng, atau tak bertahan lama akibat terlena gaya hidup (Adriano, Pato) atau pemberitaan berlebihan dari media (Kerlon, Anderson, Denilson). Belum apa-apa, sudah digadang-gadang "the next Pele", "the next Ronaldo", "the next Ronaldinho", dan the next-the next lainnya. Rayan atau Endrick punya masa depan cerah, tapi seberapa jauh mereka bisa melangkah, adalah persoalan bagaimana mereka mampu mengatasi beban dibanding-bandingkan dengan pemain besar di masa silam serta lampu sorot yang selalu mengarah pada Brasil sebagai tim yang "tidak boleh bermain jelek". 

Sisanya, mari menyaksikan kedigjayaan masa lalu Brasil di Youtube saja. Biarkan para pemain muda mereka hari ini menikmati permainannya berkembang sebagai dirinya sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...