Skip to main content

Ronaldo

Beberapa hari lalu, pasca tersingkirnya Portugal di tangan Spanyol pada babak perdelapan besar, Cristiano Ronaldo menyatakan diri pensiun dari sepakbola internasional. Usianya 41. Banyak pemain sudah gantung sepatu jauh sebelum mencapai angka itu. Sementara itu Ronaldo malah jadi striker utama di level dunia. Jika dihadap-hadapkan dengan Messi, saya bukanlah penggemar Ronaldo. Selain itu, saya juga kurang suka pemain ini karena apa ya, kelihatannya belagu aja wkwk Saya pertama lihat permainan Ronaldo itu ketika direkrut awal-awal oleh Manchester United dari Sporting Lisbon. Waktu itu dia masih diplot di sayap kanan dan penilaian saya: Ini orang footwork oke, trik dahsyat, terus? Iya, Ronaldo muda memang banyak gaya. Namun dari musim ke musim, ketika ia mulai digeser ke posisi sayap kiri supaya bisa cut-inside dan menendang dengan kaki kanan favoritnya, permainannya tampak lebih efektif. Berbeda dengan posisi pertamanya yang membuat Ronaldo mesti menari-nari untuk melewati bek sayap la...

Ronaldo


Beberapa hari lalu, pasca tersingkirnya Portugal di tangan Spanyol pada babak perdelapan besar, Cristiano Ronaldo menyatakan diri pensiun dari sepakbola internasional. Usianya 41. Banyak pemain sudah gantung sepatu jauh sebelum mencapai angka itu. Sementara itu Ronaldo malah jadi striker utama di level dunia. Jika dihadap-hadapkan dengan Messi, saya bukanlah penggemar Ronaldo. Selain itu, saya juga kurang suka pemain ini karena apa ya, kelihatannya belagu aja wkwk

Saya pertama lihat permainan Ronaldo itu ketika direkrut awal-awal oleh Manchester United dari Sporting Lisbon. Waktu itu dia masih diplot di sayap kanan dan penilaian saya: Ini orang footwork oke, trik dahsyat, terus? Iya, Ronaldo muda memang banyak gaya. Namun dari musim ke musim, ketika ia mulai digeser ke posisi sayap kiri supaya bisa cut-inside dan menendang dengan kaki kanan favoritnya, permainannya tampak lebih efektif. Berbeda dengan posisi pertamanya yang membuat Ronaldo mesti menari-nari untuk melewati bek sayap lawan dan memberi umpan silang, dari sayap kiri, dia harus dengan cepat menciptakan ruang untuk menembak bola tanpa mampu ditutup oleh pertahanan musuh. Dari posisi sayap kiri inilah, Ronaldo menjelma menjadi mesin gol Manchester United. Apalagi Sir Alex kemudian berani mendorongnya lebih maju untuk menggedor lini belakang lawan bersama Rooney dan Tevez. 

Karirnya di Real Madrid bisa dibilang menjadi puncak karirnya. Rajin beroperasi di ujung tombak, gol-gol Real Madrid antara tahun 2009 sampai 2018 banyak lahir dari kaki dan kepalanya. Pasca petualangannya di Spanyol, CR7 singgah di Italia, kembali ke MU, dan akhirnya berkarir di Al-Nassr hingga sekarang. Di usia kepala empat, Ronaldo tidak mendiskon staminanya. Ia hampir selalu tampil penuh di level klub, yang membuat pelatih Portugal, Roberto Martinez, percaya sepenuhnya pada CR7 untuk menjadi penyerang tunggal di timnas, mengalahkan nama-nama striker lain yang lebih muda dan segar. 

Bukan pemain favorit saya, tapi karirnya yang panjang dan brilian bikin nama ini tidak bisa luput untuk dibahas. Ronaldo pemain yang super komplit, tetapi ia seperti lahir di periode yang "keliru" karena Messi juga brilian di periode yang sama. Apa yang mampu dicapai Ronaldo, selalu bisa dilebihi oleh Messi. Bahkan ada ungkapan: meski CR7 adalah pemain dengan kepala dan kedua kaki yang komplit, Messi bisa tampil lebih dahsyat cuma dengan kaki kirinya saja! Dengan pencapaian Messi yang makin gacor setelah menjuarai Piala Dunia 2022 dan tetap prima di helatan turnamen tahun ini dengan gol-golnya yang masih lancar meski sudah berusia 39 tahun, para pencinta bola tampak makin menyudahi perdebatan Messi vs Ronaldo karena prestasinya kian jelas berat ke arah mana. 

Hal yang membuat saya agak iba tentang Ronaldo, adalah profilnya yang mewakili kerja keras dan profesionalisme. Berada di level top dunia lebih dari dua puluh tahun bukanlah pencapaian yang main-main. Dibutuhkan latihan super keras dan mental baja supaya tak dihempaskan oleh persaingan dengan pemain muda dan tren permainan sepakbola yang kian cepat. Lalu iba nya di sebelah mana? Di sisi lain, Messi tampil dengan citra pemain effortless, seperti titisan dewa yang tak perlu susah-susah berlatih demi memperoleh kekuatan super. Hal ini dikonfirmasi dalam wawancara dengan para pemain yang pernah latihan bersama Messi seperti Yaya Toure atau Thiery Henry yang mengatakan bahwa Messi sering terlihat santai-santai dan lebih banyak dipijat ketimbang menjalani etos seperti Ronaldo yang datang ke sesi latihan "paling duluan dan pulang paling akhir".

Mungkin Messi juga bekerja keras, kita tidak tahu, tapi jika testimoni Yaya dan Titi itu benar, kadang hidup memang setidakadil itu. Orang bisa kerja begitu keras, berambisi begitu tinggi, tetapi karirnya disaingi oleh orang lain yang lebih effortless dan Messi memiliki privilege itu dalam bentuk "bakat alam". Pada akhirnya pecinta bola tak selalu memandang siapa yang lebih bekerja keras, tapi hasil akhirnya berupa prestasi, dan Messi lebih unggul soal ini. 

Meski sejarah tampaknya akan lebih mengingat Messi sebagai salah satu pemain terhebat sepanjang masa, kita tidak bisa begitu saja melupakan Cristiano Ronaldo sebagai simbol manusia yang menolak menyerah pada waktu. Ia bukan tipe pemain yang memilih berhenti ketika dunia sudah memberinya segala sesuatu. Di usia ketika banyak orang mulai menikmati hasil kerja kerasnya, Ronaldo justru masih mengejar standar yang ia tetapkan sendiri. Hidup memang tidak selalu adil, dan kerja keras tidak selalu menjamin kemenangan, tetapi mungkin persoalannya adalah: kemenangan seperti apa yang kita cari? Ronaldo mungkin kalah dalam perbandingan statistik dengan Messi, tetapi ia memenangkan pertarungan melawan dirinya sendiri, melawan usia, dan melawan godaan untuk berhenti. Rupanya, bagi CR7, sepakbola bukan sekadar profesi, melainkan sesuatu yang masih layak diperjuangkan bahkan ketika dunia sudah tidak menuntutnya lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...