Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Menjadi Caregiver



Bulan Juli 2025, Nadya, pasangan saya, divonis mengalami depresi. Klaim ini bukan muncul dari pengakuannya semata, melainkan berdasarkan diagnosis profesional dari psikiater. Sebelumnya saya sempat cukup skeptis terhadap berbagai klaim gangguan kejiwaan, karena tidak jarang orang mengaku mengalami depresi tanpa pemeriksaan ahli (“saya depresi loh”). Menurut saya, pengakuan tanpa dasar medis seperti itulah yang perlahan merusak pemahaman publik tentang depresi. Padahal depresi merupakan persoalan serius dan tidak semestinya diklaim begitu saja hanya berdasarkan gejala yang dirasakan secara subjektif. 

Dengan vonis tersebut, akhirnya saya memposisikan diri sebagai caregiver atau orang yang merawat Nadya. Kondisinya itu membuat Nadya belum memungkinkan untuk bekerja kantoran, kena tekanan berat, dan berada dalam kerumunan. Kami akhirnya memutuskan untuk berdagang kuliner (ayam crispy), dengan harapan Nadya sebagai owner bisa mengatur waktu kapanpun untuk beristirahat karena saya yang lebih terlibat di lapangan. 

Karena perkara masalah mental ini dialami oleh orang terdekat, maka pandangan saya benar-benar berubah tentang penyakit ini, dari yang tadinya skeptis, menjadi belajar berempati dari hari ke hari. Depresi bukanlah seperti penyakit fisik yang gejala-gejalanya lebih jelas. Pada orang depresi, gejalanya kadang bisa tidak kelihatan sama sekali: Nadya terlihat gembira, ngobrol biasa-biasa saja, diajak ngobrol topik rumit pun bisa. Namun dalam satu waktu, dia bisa tiba-tiba menghilang atau mendapati perasaannya drop, inginnya tidur saja, atau bisa juga tiba-tiba meledak marah-marah. Sejauh ini, tidak ada jalan lain kecuali minum obat dari psikiaternya, itu pun kadang hanya membuatnya jadi terlelap lebih lama. 

Menjadi caregiver adalah semacam peran yang bersitegang terus-terusan antara kapan mesti merawat sepenuh hati dan kapan juga mesti bersikap "tega" supaya Nadya ada kemauan untuk bangkit tanpa terus-terusan diayomi. Belum lagi fisik dan mental saya juga tidak selalu berada dalam kondisi prima. Kadang lelah, kadang mempertanyakan segala (kenapa nasib saya jadi begini?), dan ujung-ujungnya kami bertengkar gara-gara emosi keduanya tak bisa didamaikan. Saya sering juga merasa kesepian kalau Nadya sedang tidur panjang atau emotionally unavailable

Ah, tapi semua ini adalah tantangan yang membuat hidup terasa nikmat dari hari ke hari. Sudah tidak relevan lagi bagi saya untuk mencari apa itu "kenyamanan diri" karena mencintai tak selalu koheren dengan kenyamanan. Mencintai adalah tindakan yang bagi saya, dalam konteks ini, sepaket dengan penderitaan, yang dari sana lahir welas asih, yang membuat segala perih menjadi "bermakna". 

Hal yang lebih sulit sebenarnya adalah menjaga diri agar tidak terjebak dalam label “penyelamat” (saviour). Perasaan menjadi sosok heroik di tengah hari-hari yang berat memang bisa terasa memabukkan. Padahal, mungkin yang lebih sehat adalah memandang hubungan seperti ini: aku tumbuh bersamamu, dan melalui cinta ini, aku ikut berkembang.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...