Saya melewatkan final Piala Dunia 1994. Masih kecil. Baru masuk SD. Waktu itu saya diajak Papap tiduran depan televisi, tak ingat apa-apa kecuali ekspresi kecewa pemain berkucir berkostum biru. Iya, kami lebih banyak tertidur daripada nonton. Mungkin bagi Papap sendiri, Piala Dunia adalah peristiwa yang gak penting-penting amat. Beliau mengajak saya nonton karena ya ikut hype saja. Mungkin supaya Papap ada bahan obrolan di tengah tongkrongan teman-temannya yang hobi nonton sepakbola. Bagi Papap sepertinya masih lebih penting ngantor di pagi harinya. Waktu tidur lebih berharga daripada begadang nonton bola. Yang penting ada niat untuk setidaknya berada di depan televisi pas partai pemuncak. Edisi Piala Dunia sesudah itu, saya tak pernah absen nonton final dari mulai 1998 sampai 2022. Saya ingat sundulan Zidane yang meruntuhkan mental tim Brasil; ingat betul Ronaldo yang dicukur seperti Gogon melesakkan dua gol ke gawang Oliver Khan; apalagi Itali pas juara dunia 2006, sampai sekar...
Bulan Juli 2025, Nadya, pasangan saya, divonis mengalami depresi. Klaim ini bukan muncul dari pengakuannya semata, melainkan berdasarkan diagnosis profesional dari psikiater. Sebelumnya saya sempat cukup skeptis terhadap berbagai klaim gangguan kejiwaan, karena tidak jarang orang mengaku mengalami depresi tanpa pemeriksaan ahli (“saya depresi loh”). Menurut saya, pengakuan tanpa dasar medis seperti itulah yang perlahan merusak pemahaman publik tentang depresi. Padahal depresi merupakan persoalan serius dan tidak semestinya diklaim begitu saja hanya berdasarkan gejala yang dirasakan secara subjektif.
Dengan vonis tersebut, akhirnya saya memposisikan diri sebagai caregiver atau orang yang merawat Nadya. Kondisinya itu membuat Nadya belum memungkinkan untuk bekerja kantoran, kena tekanan berat, dan berada dalam kerumunan. Kami akhirnya memutuskan untuk berdagang kuliner (ayam crispy), dengan harapan Nadya sebagai owner bisa mengatur waktu kapanpun untuk beristirahat karena saya yang lebih terlibat di lapangan.
Karena perkara masalah mental ini dialami oleh orang terdekat, maka pandangan saya benar-benar berubah tentang penyakit ini, dari yang tadinya skeptis, menjadi belajar berempati dari hari ke hari. Depresi bukanlah seperti penyakit fisik yang gejala-gejalanya lebih jelas. Pada orang depresi, gejalanya kadang bisa tidak kelihatan sama sekali: Nadya terlihat gembira, ngobrol biasa-biasa saja, diajak ngobrol topik rumit pun bisa. Namun dalam satu waktu, dia bisa tiba-tiba menghilang atau mendapati perasaannya drop, inginnya tidur saja, atau bisa juga tiba-tiba meledak marah-marah. Sejauh ini, tidak ada jalan lain kecuali minum obat dari psikiaternya, itu pun kadang hanya membuatnya jadi terlelap lebih lama.
Menjadi caregiver adalah semacam peran yang bersitegang terus-terusan antara kapan mesti merawat sepenuh hati dan kapan juga mesti bersikap "tega" supaya Nadya ada kemauan untuk bangkit tanpa terus-terusan diayomi. Belum lagi fisik dan mental saya juga tidak selalu berada dalam kondisi prima. Kadang lelah, kadang mempertanyakan segala (kenapa nasib saya jadi begini?), dan ujung-ujungnya kami bertengkar gara-gara emosi keduanya tak bisa didamaikan. Saya sering juga merasa kesepian kalau Nadya sedang tidur panjang atau emotionally unavailable.
Ah, tapi semua ini adalah tantangan yang membuat hidup terasa nikmat dari hari ke hari. Sudah tidak relevan lagi bagi saya untuk mencari apa itu "kenyamanan diri" karena mencintai tak selalu koheren dengan kenyamanan. Mencintai adalah tindakan yang bagi saya, dalam konteks ini, sepaket dengan penderitaan, yang dari sana lahir welas asih, yang membuat segala perih menjadi "bermakna".
Hal yang lebih sulit sebenarnya adalah menjaga diri agar tidak terjebak dalam label “penyelamat” (saviour). Perasaan menjadi sosok heroik di tengah hari-hari yang berat memang bisa terasa memabukkan. Padahal, mungkin yang lebih sehat adalah memandang hubungan seperti ini: aku tumbuh bersamamu, dan melalui cinta ini, aku ikut berkembang.

Comments
Post a Comment