Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Cerita Sahur untuk N #3

Cerita Sahur adalah kumpulan e-mail pribadi yang dikirimkan pada kekasih saya, N, setiap harinya selama Ramadhan 2025. Beberapa diantaranya diunggah di blog atas seizin N. 

N, kekasihku, Tapi apa itu cinta? Aku gak ngerti. Apa arti "aku mencintaimu"? Aku juga gak ngerti. Mungkin ungkapan2 seperti itu nyaris gak ada maknanya, sama seperti kita mengatakan "semua udah ada yang ngatur" atau "sabar nanti juga ada hikmahnya". 

Dalam filsafat, pernyataan semacam demikian disebut pernyataan etis (bermuatan moral) atau bisa disebut juga pernyataan estetis (bermuatan keindahan) yang tidak punya truth value. Beda dengan pernyataan semacam "hari ini hujan" atau "di dompetku ada uang 5000" punya truth value karena bisa dicek kebenarannya. 

Tapi, apakah sungguh2 pernyataan "aku mencintaimu" gak punya truth value? 

Kita bisa artikan statement itu macam-macam: 

aku mencintaimu = aku mau kita saling melengkapi dalam pelanggengan private property (Engels) 

aku mencintaimu = aku ingin ngewe denganmu 

aku mencintaimu = aku mau hidup bersamamu 

aku mencintaimu = aku mau berbagi banyak hal denganmu 

aku mencintaimu = aku mengarahkan perhatian dan perasaanku spesifik padamu 

aku mencintaimu = aku hanya ingin menghiburmu dengan katakata manis karena ini cuma skenario bumble yang tak nyata 

Tidak ada yang pasti dengan pernyataan tersebut karena definisinya pun tidak jelas. Maka itu aku menjadi bertanya-tanya, ketika aku mengucapkan/ menuliskan "aku mencintaimu", apakah sebenarnya yang aku maksud? Tetapi untuk menjawab maksud itu, kita harus tahu apa arti "cinta" karena kata itu juga tidak jelas. Tuhan katanya cinta pada kita, tapi cinta-nya Tuhan itu bisa berupa bencana dan penderitaan. Cinta juga bisa berupa reaksi dari hormon oksitosin, yang secara biologis bisa ditambahkan seperti dosis obat. Cinta juga bisa berupa "sparks", suatu percikan gaib yang mungkin didorong impresi singkat tentang fisik, gestur, atau lalala lainnya. 

Maka kalau aku mau ngebreakdown nya jadi sesuatu yang real dan tidak bernuansa puitis, maksud dari perkataanku adalah sebagai berikut: 

Aku mencintaimu, N: 

- Aku bersedia untuk turut memikirkan apa yang menjadi masalahmu dan mencarikan jalan keluarnya 

- Aku bersedia untuk bareng-bareng kamu dalam kesenangan maupun kesusahan 

- Aku bersedia untuk turut peduli dan merawat Baby O 

- Aku bersedia untuk menerima sepaket sifatmu yang manis maupun yang pahit 

- Aku bersedia untuk bertahan selama mungkin sampai tak mungkin lagi 

- Aku bersedia untuk sungguh-sungguh mempelajari relasi ini sampai masuk akal buatku dan aku bisa menjalaninya dengan pemahaman yang sempurna

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...