Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Cerita Sahur untuk N #20

Cerita Sahur adalah kumpulan e-mail pribadi yang dikirimkan pada kekasih saya, N, setiap harinya selama Ramadhan 2025. Beberapa diantaranya  diunggah di blog atas seizin N.

 

Ini adalah surat imajiner untuk Kang D, mantan suami N:


Kang D, 

Kalau manggil A, rasanya terlalu akrab ya, soalnya kita belum pernah bertemu. Saya suka kepoin IG Akang, senang sekali melihatnya. Cita-cita saya juga ingin jadi musisi, Kang. Dulu pernah belajar gitar klasik dan jazz, tapi ya manggung seadanya saja, banyak yang jauh lebih jago, terutama anak-anak muda sekarang, hehehe. Jadi pas lihat Akang, wah keren sekali, bisa mengejar passion sampai ke Bali. 

Kang D, ini N—yang biasa Akang panggil dengan apa ya—sekarang, Insya Allah, saya yang menjaganya. Akang bisa tenang mengejar cita-cita Akang. Walaupun hati N sudah banyak luka dari masa lalu, saya menerima segala kurang lebihnya. Saya pun bukan tanpa kesalahan. Pernah menikah dua kali, keduanya gagal, jadi sudah pasti pernah punya pengalaman menggoreskan luka di hati seorang perempuan. 

Begitu juga dengan Baby O, Insya Allah saya jaga. Setiap akhir pekan, dia datang ke rumah saya. Baby O sering sekali mengingat Daddy, katanya “pelawak,” suka tertawa sendiri kalau ingat lelucon bapaknya. Ah, anak ini baik dan pintar, tak akan melupakan bapaknya meski sudah lama tak ada kabar. Sudahlah, Kang, jangan terlalu dipikirkan, Akang kejar saja cita-cita, mengamen dari satu tempat ke tempat lain di Pulau Dewata. 

Anak ini sepertinya berbakat dalam sejarah dan geografi. Dia sering mengobrol dengan saya tentang Perang Dunia dan ibu kota negara-negara di dunia. Saya sempat memberinya topi dengan simbol palu arit, dan dia pakai ke mana-mana, sampai akhirnya ibunya melarang, takut ditangkap tentara. 

Kang D, kalau suatu saat nanti Akang sedang beristirahat dari manggung dan hati sedang lapang, sesekali mungkin bisa menjenguk Baby O. Kalau soal N, saya paham, pasti tidak bisa langsung, karena masih ada rasa kesal di sana. Tapi kalau boleh saya sampaikan, kalau Baby O bisa tumbuh baik dan pintar sampai hari ini, sehat walafiat, itu semua berkat ibunya yang bekerja dari pagi sampai malam, banting tulang, jungkir balik, agar bisa menyediakan ayam kesukaan Baby O setiap hari. 

Kang D, meskipun sekarang mereka sudah saya jaga sebisa mungkin, semoga Akang tetap menyempatkan doa untuk keselamatan N dan Baby O. Sebesar apa pun kekesalan dan kekecewaan Akang, mereka berdua pernah menjadi bagian dari hidup Akang selama belasan tahun. Semoga Akang juga selalu dalam lindungan dan keselamatan.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...