Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Sejak akhir Desember 2025 kemarin, Nadya dan saya memutuskan untuk berdagang. Kapok dengan dagang roti tahun 2024 yang kurang laku, akhirnya kami memutuskan berdagang yang "aman-aman saja" yaitu ayam crispy. Ayam crispy ini kami beli lisensi atau franchise saja supaya tidak ribet. Bahan-bahan sudah ada, kami tinggal masak. Nama produknya Pride Chicken. Setelah survei sana-sini, kami memutuskan untuk menyewa tempat di daerah Ujungberung. Wilayah yang sebenarnya jauh dari lokasi kediaman kami, tetapi tidak apa-apa, siapa tahu hoki kami ada di sana.
Singkat cerita, saya mengikuti training sekitar empat hari sebelum akhirnya pihak Pride Chicken mengirimkan gerobak ke lokasi tempat kami berjualan. Seminggu awal, saya kuat berjualan sendirian. Saya menggoreng ayam, melayani pembeli, dan beres-beres. Namun lama kelamaan, badan ini remuk juga. Apalagi untuk sampai ke lokasi jualan, perlu sambung menyambung ojek baik online maupun offline.
Akhirnya kami memutuskan merekrut pegawai dan memantau ke lapak sesekali saja.
Dagangannya tidak bisa dibilang laku-laku amat. Padahal rasa ayamnya sudah oke dengan tambahan bumbu chili oil yang khas. Mungkin tempatnya yang kurang menarik atau ah, entahlah, berdagang itu ada unsur untung-untungan juga. Berbeda dengan bekerja dan dapat gaji, berdagang rasanya perlu berharap dan berdoa setiap hari. Bisa dikatakan bahwa berdagang lebih mungkin membuat orang lebih dekat pada Tuhan karena setiap harinya diliputi ketidakpastian.
Ujung-ujungnya, kegiatan berdagang kami bukanlah perkara mengejar cuan. Melainkan cara kami dalam memaknai hidup yang senantiasa bergerak, meski tertatih-tatih, jatuh lagi dan lagi. Setiap hari kami diliputi perasaan lelah, ragu, dan godaan untuk menyerah. Namun nyatanya, selalu ada alasan kecil untuk kembali membuka lapak keesokan harinya. Ah, seru ya, Nad!

Comments
Post a Comment