Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Sejak akhir Desember 2025 kemarin, Nadya dan saya memutuskan untuk berdagang. Kapok dengan dagang roti tahun 2024 yang kurang laku, akhirnya kami memutuskan berdagang yang "aman-aman saja" yaitu ayam crispy. Ayam crispy ini kami beli lisensi atau franchise saja supaya tidak ribet. Bahan-bahan sudah ada, kami tinggal masak. Nama produknya Pride Chicken. Setelah survei sana-sini, kami memutuskan untuk menyewa tempat di daerah Ujungberung. Wilayah yang sebenarnya jauh dari lokasi kediaman kami, tetapi tidak apa-apa, siapa tahu hoki kami ada di sana.
Singkat cerita, saya mengikuti training sekitar empat hari sebelum akhirnya pihak Pride Chicken mengirimkan gerobak ke lokasi tempat kami berjualan. Seminggu awal, saya kuat berjualan sendirian. Saya menggoreng ayam, melayani pembeli, dan beres-beres. Namun lama kelamaan, badan ini remuk juga. Apalagi untuk sampai ke lokasi jualan, perlu sambung menyambung ojek baik online maupun offline.
Akhirnya kami memutuskan merekrut pegawai dan memantau ke lapak sesekali saja.
Dagangannya tidak bisa dibilang laku-laku amat. Padahal rasa ayamnya sudah oke dengan tambahan bumbu chili oil yang khas. Mungkin tempatnya yang kurang menarik atau ah, entahlah, berdagang itu ada unsur untung-untungan juga. Berbeda dengan bekerja dan dapat gaji, berdagang rasanya perlu berharap dan berdoa setiap hari. Bisa dikatakan bahwa berdagang lebih mungkin membuat orang lebih dekat pada Tuhan karena setiap harinya diliputi ketidakpastian.
Ujung-ujungnya, kegiatan berdagang kami bukanlah perkara mengejar cuan. Melainkan cara kami dalam memaknai hidup yang senantiasa bergerak, meski tertatih-tatih, jatuh lagi dan lagi. Setiap hari kami diliputi perasaan lelah, ragu, dan godaan untuk menyerah. Namun nyatanya, selalu ada alasan kecil untuk kembali membuka lapak keesokan harinya. Ah, seru ya, Nad!

Comments
Post a Comment