Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Cerita Sahur untuk N #22


Cerita Sahur adalah kumpulan e-mail pribadi yang dikirimkan pada kekasih saya, N, setiap harinya selama Ramadhan 2025. Beberapa diantaranya diunggah di blog atas seizin N. 

Selama kamu sakit kemarin-kemarin, aku total tiga kali pulang jalan kaki dari Cilentah ke Rebana selepas antar makanan. Jaraknya lumayan, mungkin hampir dua kilo, tapi entah rasanya ringan saja. Mungkin karena jalurnya lurus-lurus saja, atau karena jalan pulang memang selalu lebih ringan. 

Pergi juga dalam waktu-waktu tertentu, sebenarnya ringan-ringan saja. Aku sering jalan kaki dari jam 6-an untuk jemput Baby O alias Si Bocil. Perasaanku juga ringan karena tahu Si Bocil akan mampu menyuntikkan keceriaan dalam waktu singkat perjalanan kami dari Cilentah ke Bhayangkari. Celotehannya yang ajaib selalu mampu meredakan segala keletihan, mengubahnya menjadi kebahagiaan. 

Namun perginya aku untuk merawat N sedikit punya perasaan yang berbeda. Ada sense of emergency. Selain memang N yang sehat pun punya natur gak sabaran, N yang sedang sakit pastilah lebih tak sabaran karena sambil menahan rasa tidak enak. Dalam kondisi demikian, aku gak mungkin leyeh-leyeh berjalan kaki sambil sekadar memandangi perjalanan. Aku harus satset dan sebisa-bisa cepat sampai agar obat/ makanan bisa langsung dikonsumsinya. 

Setelah berhasil mengantarkan apapun itu dan melihat N barang beberapa detik masih bisa berdiri meski dengan wajah yang mengkerut, perasaan khawatir langsung banyak berkurang. Aku bisa pulang dengan perasaan ringan. Jalan kaki pun tak masalah. 

Ah tapi bukankah demikian natur dari sebuah jalan pulang? Kita bisa pergi ke Subang dengan perasaan gelisah dan terasa lama karena khawatir dengan ketidaktahuan sepanjang perjalanan dan apa yang menanti di tujuan. Tetapi setelah tiba di sana dan melaksanakan apa yang telah direncanakan, kita bisa pulang dengan perasaan santuy karena kita melewati jalan yang pernah dilalui (maka itu tidak lagi menjadi misteri) dan tujuannya jelas: rumah, tempat kita bermukim dan bisa tidur lebih nikmat. 

Itu sebabnya, meski perjalanan kita kerap terjal dan berkelok-kelok, tapi sejatinya tak ada yang benar-benar misteri, karena inilah jalan pulang, tempat kita kembali setelah berkelana menuju serba ketidakpastian. Meski perjalanan kita masih panjang, tapi tujuan kita jelas. Meski di jalan banyak rintangan, tapi tujuan kita penuh klaritas. Itu sebabnya pada suatu masa, ketimbang bicara I Love You yang lebih bertendensi hasrat bertualang, lebih baik aku katakan: Welcome Home, sayang. 

Pulang, yuk kita pulang. Kalau masih belum puas mainnya, tidak apa-apa mampir sebentar ke rest area kita makan padang dan beli cemilan. Maen-maen sebentar keluar jalan tol bermukim semalam dua malam di Purwakarta atau Padalarang. Di sana ada hotel namanya Pak F, rumah makan namanya Dokter W, taman ria namanya FS, kedai remang-remang namanya G, dan alun-alun namanya M. Selebihnya, setelah menyambangi itu semua, pulang, yuk kita pulang. Karena rumah kita sudah disiapkan. Tempat tiada lagi hasrat untuk bepergian. 

Dalam hati lelaki ini sudah disiapkan: tempat tidurmu, ayam ungkep untuk hari-hari Si Bocil, serta meja dan laptop untuk kamu membaca dan menulis. Listrik aman, kali-kali aja bunyi kalau kita lagi gak punya wang. Tapi mudah-mudahan, rumah itulah sebaik-baiknya tempat kembali. Pulang, yuk kita pulang.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...