Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Cintaku,
Tahun 1998 aku pernah punya impian. Aku akan menabung empat tahun lamanya, agar pada tahun 2002 aku bisa pergi ke Jepang dan Korea menyaksikan Piala Dunia. Tapi impian tinggal impian, cita-cita tak terlaksana dan aku hanya menyaksikan dari televisi di Indonesia. Namun bukanlah suatu dosa jika apa yang kuimpikan baru terwujud sembilan tahun kemudian. Tadi sore, aku melaporkan dengan bangga kepadamu bahwa aku telah berhasil menginjak stadion yang aku idam-idamkan. Namanya: Seoul World Cup Stadium!
Bersama Rony, kawanku yang hangat, kami mengitari stadion bersejarah itu. Tahukah kamu, sayang, bahwa Piala Dunia hanya diselenggarakan di dua benua yaitu Amerika dan Eropa, sampai tiba saatnya 2002 bahwa untuk pertama kalinya Asia yang dipercaya. Jepang dan Korea bisa dibilang sangat sukses dalam menyelenggarakannya. Hal tersebut juga diikuti oleh kesuksesan kedua tim tersebut, meskipun Korea jauh lebih melaju dengan posisi akhir juara empat. Dengan pelatih kawakan bernama Guus Hiddink asal Belanda, Korea yang berjuluk Taeguk Warriors, sukses menebas Polandia, Portugal, Italia bahkan Spanyol!
Fasilitas stadion itu sangatlah bagus. Kita pernah sama-sama ke Gelora Bung Karno dan ini tentu saja jauh di atasnya. Di lantai bawah ada museum yang memuat berbagai cerita tentang sepakbola dan khususnya Piala Dunia. Ada juga kisah perjalanan timnas Korea dari masa ke masa. Sebetulnya hari itu seyogianya ada pertandingan yang akan digelar, yaitu partai antara FC Seoul dan FC Busan. Tapi kami urung masuk akibat harga tiketnya yang agak-agak mahal (14.000 won). Apapun itu, menginjakkan kaki di stadion tersebut betul-betul menggetarkan perasaan. Membuat aku mau memberitahumu suatu kalimat yang umum tapi aku semakin menyadari kebenarannya, yaitu "Jangan pernah berhenti bermimpi."

Setelah itu, aku dan Rony kembali ke kostnya dan bertemu beberapa orang yang sangat menyenangkan. Mereka adalah Didi dari Semarang, Omar dari Meksiko, Ghuya dari Indonesia (Pacitan), Qi San dari Cina, dan seorang lagi dari Cina yang aku tak tahu bagaimana menuliskannya karena aku tak bisa menangkap omongan ia ketika memperkenalkan diri. Kami semua, kecuali Omar yang berubah pikiran di tengah jalan, menaiki tangga yang amat banyak untuk mencapai satu misi suci yang kuniatkan dari awal: N Seoul Tower. Di sana, aku tak mau apa-apa kecuali mengaitkan gembok cinta kita.
Mitos? Takhayul? Memang iya, memang konyol dan tak punya dasar. Dari ribuan gembok yang terkait di sana, memangnya kita bisa pastikan semua hubungannya langgeng? Tapi apa yang kulakukan sebetulnya tiada punya hubungan dengan kepercayaan bahwa hubungan ini akan langgeng selama gembok masih terkunci rapat di sana. Tapi suatu hari ketika badai tengah mengolengkan bahtera cinta kita, ingatlah pada suatu malam berangin yang pernah membuat hati kita sedemikian berbunga-bunga karenanya. Yaitu hari ketika aku mengaitkan sebuah gembok yang kuat bertuliskan kata-kata cinta pada pohon berbentuk cemara. Kadang kita butuh air dari masa silam untuk membasahi jiwa yang kering di hari ini.

Bersama Rony, kawanku yang hangat, kami mengitari stadion bersejarah itu. Tahukah kamu, sayang, bahwa Piala Dunia hanya diselenggarakan di dua benua yaitu Amerika dan Eropa, sampai tiba saatnya 2002 bahwa untuk pertama kalinya Asia yang dipercaya. Jepang dan Korea bisa dibilang sangat sukses dalam menyelenggarakannya. Hal tersebut juga diikuti oleh kesuksesan kedua tim tersebut, meskipun Korea jauh lebih melaju dengan posisi akhir juara empat. Dengan pelatih kawakan bernama Guus Hiddink asal Belanda, Korea yang berjuluk Taeguk Warriors, sukses menebas Polandia, Portugal, Italia bahkan Spanyol!
Fasilitas stadion itu sangatlah bagus. Kita pernah sama-sama ke Gelora Bung Karno dan ini tentu saja jauh di atasnya. Di lantai bawah ada museum yang memuat berbagai cerita tentang sepakbola dan khususnya Piala Dunia. Ada juga kisah perjalanan timnas Korea dari masa ke masa. Sebetulnya hari itu seyogianya ada pertandingan yang akan digelar, yaitu partai antara FC Seoul dan FC Busan. Tapi kami urung masuk akibat harga tiketnya yang agak-agak mahal (14.000 won). Apapun itu, menginjakkan kaki di stadion tersebut betul-betul menggetarkan perasaan. Membuat aku mau memberitahumu suatu kalimat yang umum tapi aku semakin menyadari kebenarannya, yaitu "Jangan pernah berhenti bermimpi."
Setelah itu, aku dan Rony kembali ke kostnya dan bertemu beberapa orang yang sangat menyenangkan. Mereka adalah Didi dari Semarang, Omar dari Meksiko, Ghuya dari Indonesia (Pacitan), Qi San dari Cina, dan seorang lagi dari Cina yang aku tak tahu bagaimana menuliskannya karena aku tak bisa menangkap omongan ia ketika memperkenalkan diri. Kami semua, kecuali Omar yang berubah pikiran di tengah jalan, menaiki tangga yang amat banyak untuk mencapai satu misi suci yang kuniatkan dari awal: N Seoul Tower. Di sana, aku tak mau apa-apa kecuali mengaitkan gembok cinta kita.
Mitos? Takhayul? Memang iya, memang konyol dan tak punya dasar. Dari ribuan gembok yang terkait di sana, memangnya kita bisa pastikan semua hubungannya langgeng? Tapi apa yang kulakukan sebetulnya tiada punya hubungan dengan kepercayaan bahwa hubungan ini akan langgeng selama gembok masih terkunci rapat di sana. Tapi suatu hari ketika badai tengah mengolengkan bahtera cinta kita, ingatlah pada suatu malam berangin yang pernah membuat hati kita sedemikian berbunga-bunga karenanya. Yaitu hari ketika aku mengaitkan sebuah gembok yang kuat bertuliskan kata-kata cinta pada pohon berbentuk cemara. Kadang kita butuh air dari masa silam untuk membasahi jiwa yang kering di hari ini.
Amiiiin.. =)=)=)
ReplyDeleteDan terima kasih untuk yang satu ini: "Jangan pernah berhenti bermimpi." I won't. ;)