Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Surat Cinta dari Korea (3)

Apa yang aku ceritakan sekarang ini sesungguhnya hanya akan tentang makan dan makan. Kemarin, pagi, siang, malam, kami disuguhi makanan istimewa. Hanya manusia yang bisa memberikan penilaian bahwa suatu makanan disebut istimewa atau tidak, Sayang. Binatang tak punya itu. Bagi mereka, selama makanan sanggup menghilangkan rasa lapar, maka itu sudah cukup.

Sarapan kami istimewa, karena berada di sebuah restoran di lobi hotel dimana makanan terhidang di buffet secara bebas merdeka. Maksudnya, ragamnya berjenis-jenis dan kami boleh ambil seenaknya. Ada kentang, sosis, omlet, roti, buah, susu, jus, dan juga salad. Tentunya cerita ini semacam flashback. Setelah sarapan raja tersebut, kami berangkat ke galeri Hangaram dan memulai kegiatan “Sangkuriang membuat perahu” seperti yang kuceritakan sebelum ini.

Pasca display kebut selesai, kami dijamu makan siang di gedung seberang. Restoran itu aku tak tahu apa namanya, karena bertulisan bahasa Korea yang bagiku hanya terlihat seperti rangkaian garis dan bulatan-bulatan semata. Makanan yang tersaji pun aku tak tahu apa namanya. Jika aku tanyakan pada mereka, mereka akan menjawab dengan ucapan yang tidak sanggup aku pahami dan juga kutulisi di sini. Satu yang menarik adalah nasi kehitaman yang tersaji dalam mangkuk logam ditutupi tutup kayu. Sekilas, nasi itu tak istimewa. Tapi, kata panitia yang mendampingi kami, nasi ini bisa diairi oleh air panas dari teko sehingga nasi itu menjadi bubur. Lihat, Sayang, ketika peribahasa nasi telah menjadi bubur dianggap sebagai ungkapan penuh penyesalan oleh kita, ternyata orang Korea sana dengan sengaja membuburkan nasinya!


Ada satu hal yang menarik, bahwa negara Korea yang sedemikian indah dan barangkali mendekati sempurna dari segi tata kota, ketertiban, kebersihan dan juga keamanan (setidaknya demikian yang aku rasakan sementara ini), panitia pendamping kami itu masih juga mengungkap protes pada pemerintah. Katanya, pemerintah terus saja membangun gedung tinggi-tinggi sementara lingkungan alam tergerus lalu mati. Kami dan kamu mungkin berpikiran sama, tentang dirinya, “Ah, kamu jadi orang cuma kurang bersyukur."

Panitia pendamping yang kurang rasa syukur itu membagikan selebaran kampanye anti pemerintah

Malam hari kami disambut lagi-lagi oleh makanan. Dalam acara welcoming party itu, makanan yang terhidang lagi-lagi mewah gemerlap. Aku kenyang, tapi penasaran, karena banyak makanan yang belum aku kenal. Di meja bundar tempat aku dan kakakku duduk itu juga, terdapat beberapa orang dari delegasi Vietnam dan Singapura yang menawari kami bir. Kami yang menghormati dan juga menikmati masa muda, menerima tawaran itu dengan tangan terbuka.

Oh iya, sore itu juga adalah peresmian dibukanya acara 26th Asian International Art Exhibition (nama resmi acara yang kami ikuti). Dengan pidato yang tak kupahami dan performa pembuka dari kelompok perkusi yang tidak istimewa, pameran resmi dibuka untuk disaksikan siapa saja. Sebelum itu juga, para seniman dipersilahkan melukiskan cat air pada produk tas Samsonite yang menjadi salah satu sponsor acara ini.


Pak Deden Hendar Durahman melukisi tas Samsonite

Demikian, Sayang, betapa makanan sanggup mengubah wajah kehidupan. Bahwa perut manusia adalah yang utama dipuaskan demi terwujudnya perdamaian dunia. Perang, kerusuhan, atau kejahatan disebabkan oleh sekelompok manusia yang merasa lapar. Atau, mereka sudah kenyang, tapi belum cukup gemuk untuk berhenti.

Ketika aku mengirim surat ini, aku sedang jatuh cinta kepadamu untuk yang pertama kali, perasaan yang sama seperti kemarin, kemarin, kemarinnya lagi, kemarin, dan juga besok, besok, besok, besok dan besok.

Comments

  1. Dalam keadaan kekenyangan berkat kolaborasi ikan pesmol dan sayur lodeh ini, aku masih jatuh cinta padamu. Lagi, lagi, lagi dan lagi.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...