Skip to main content

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Surat Cinta dari Korea (2)

"It's more than an airport. It's beyond expectation"


Akhirnya, hampir dua belas jam perjalanan yang melelahkan, sampai juga pada Incheon International Airport. Kalimat itu tertulis pada kereta yang mengantar kami dari wing satu ke wing yang lainnya (saking besarnya bandar udara ini). Katanya, ini bandara terbaik dunia, walaupun aku tak sempat menelusurinya karena kelelahan. Perjalanan ini harusnya tak selama ini, jika bukan oleh sebab transit di Malaysia hampir empat jam dan membuat perutku kerubukan. Makanannya menggelikan, bahkan mereka tak mampu membuat minuman kaleng yang enak. Kamu tahu semboyanku, bahwa cuma ada dua makanan di dunia: "Enak" dan "Enak sekali". Tapi Malaysia di luar opsi, aku menyematkan label "Tidak enak". Walaupun tentu saja ini generalisasi, aku belum pernah melihat keseluruhan Malaysia.

Sesampainya, aku mula-mula menyewa HP dulu dengan harga mencekik. Sekitar 3000 won atau 25rb an per hari. Biaya telepon 10 won per detik, dan sms 100 won sekali. SMS pun katanya tidak bisa internasional. Tapi aku lakukan itu untuk menemukan dua orang kawanku di Korea sini, yaitu Andri dan Roni. Tanpa nomor telepon Korea, aku agak sulit mengontak mereka karena aku kesulitan menggunakan telepon umum di sini!

Sayangku, cintaku, perjalanan satu setengah jam kemudian adalah dari Incheon menuju Seoul. Kami betul-betul kelelahan dan suasana mobil betul-betul seperti biara yang sunyi. Tempat kami menginap bernama Seoul KyoYuk MunHwa Hoekwan Hotel (bagaimana membacanya?). Hotel yang aku perkirakan sekitar bintang empat dengan fasilitas standar dan televisi semuanya berbahasa Korea (bahkan film Top Gun-nya Tom Cruise pun di-dubbing jadi Korea!)

Cerita hotel tentu saja tidak menarik, Sayang, seperti halnya kita bercerita tentang harga gedung dan catering. Tidakkah lebih baik kita berbincang tentang yang romantis, tentang bagaimana kita akan hidup hingga hari tua? Aku akan bercerita sesuatu yang romantis sekarang, yaitu perjuangan para delegasi Indonesia:

Berbeda dengan negara lain, Indonesia belum memasang karya-karya oleh sebab biaya pengiriman yang mahal. Kami memilih menenteng karya sendiri dan memasangnya di detik-detik akhir. Karena kami percaya, Sangkuriang pun membuat perahu dalam semalam. Kami dengan cekatan menggelarnya di lantai, memasangnya di dinding, hingga membuat delegasi lain terkagum-kagum. Apakah mereka tidak tahu, sayangku, bahwa kita adalah bangsa hebat, bisa mengatasi keterdesakan dengan gembira dan bahagia.



Sibuknya delegasi Indonesia di menit-menit akhir

Demikian yang aku bisa ceritakan hari ini. Betapa kami senang bisa bertemu seniman se-Asia dan semua bertegur ramah oleh sebab ada satu yang menyatukan kita: "kegelisahan akan dunia". Demikian seniman itu gelisah selalu, karena ia menganggap apa yang dia rasakan seharusnya dirasakan juga oleh banyak orang di dunia. Delegasi Indonesia, yang kerap terpinggirkan (ini suudzon aku saja, Sayang, karena kami selalu ditempatkan di bis paling belakang dengan sesama negara berkembang seperti Vietnam atau Filipina), selalu sanggup menunjukkan jatidirinya yang aseli ketika terdesak. Dalam dua jam kurang, simsalabim, karya kami siap dipertunjukkan!

From the corner of the cafe, in the corner of Seoul, with all my heart.


Patra Aditia tengah memasang karyanya







Comments

  1. From the center of the office, in the center of Jakarta, with all my heart.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...