Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Surat Cinta dari Korea (4)


Patung Boddhisatva, koleksi paling berharga National Museum of Korea



Pertama-tama, bersyukurlah karena kamu punya ibu yang berprofesi sebagai guru sejarah. Sejarah, menurutku, adalah hal yang sangat penting. Kenapa? Karena tiada sesuatupun di luar sejarah. Masa depan kita semua berpijak dari sejarah. Dan kita hari ini sedang berusaha membuat sejarah, agar siapapun di masa depan kelak mengenang kita. Manusia mesti secara teratur mempunyai waktu untuk melihat ke masa lalu. Selain kontemplasi diri, tentunya ada cara lain yang lebih "sederhana" untuk melakukan itu, yaitu pergi menengok ke museum, atau belajar dari guru sejarah yang cakap seperti ibumu.

Aku mengunjungi museum tadi pagi. Namanya standar tapi kita bisa membayangkan keluasan isinya: National Museum of Korea. Museum ini, Sayang, Masya Allah, besarnya luar biasa. Hotel Hilton mungkin yang paling mewah di Bandung, tapi museum ini beberapa kali lipat lebih besar dan mewah. Sang pemandu berkata, "Ini museum nomor empat terbesar di dunia, untuk mengelilinginya kamu butuh delapan belas jam."

Tahukah kamu, Sayang, bahwa sejarah, meskipun penting, tapi kita agaknya setuju bahwa hal tersebut mesti disajikan secara menarik. Rupanya hal ini sudah sangat dipikirkan dalam museum mega itu. Display artefaknya sangat bagus, sign system-nya sangat informatif, dan penerangannya begitu anggun dan elegan. Kalaupun iya (kita boleh curiga), bahwa sejarah yang disajikannya bukan suatu kebenaran, maka itu tak jadi soal karena aku pribadi sudah terpikat pada segala-gala yang ada di tempat itu.

Lagipula, ada satu hal yang sangat menarik. Sang tour guide, bercerita dengan sangat bergairah. Seolah-olah ia berada di masa lampau dan menyaksikan benda-benda yang ia ceritakan itu dalam kondisi asli pada jamannya berada. Membuat aku ternyata menyimpan cita-cita ingin seperti dia, ingin seperti ibumu, menjadi seseorang yang mengajak siapapun menaiki mesin waktu ke masa lalu. Hanya saja, tour guide sedikit lebih beruntung dari segi penyajian ketimbang guru sejarah. Karena barang-barangnya ada tersedia di sana. Lagipula, perjuangan ibumu patut diacungi jempol. Karena ibu mendatangkan sejarah ke kelas yang mungkin berisi anak-anak yang siap menguap di tengah pelajaran. Sedangkan tour guide, pengunjunglah yang mendatangi sejarah. Sehingga mungkin antusiasmenya sudah ditumbuhkan dari awal. Jadi, sekali lagi, bersyukurlah punya ibu yang sedemikian hebatnya. Tanpa barang-barang display, ibumu menyajikan masa lampau murni melalui bahasa.


Sang
tour guide menerangkan pagoda sepuluh tingkat.

Setelah dari sana, kami mengunjungi istana raja Korea purba bernama Gyeongbokgung Palace. Esensinya sama, kami mengunjungi masa lalu dari suatu bangsa. Hanya saja kalau museum nasional diliputi suasana modern, sedangkan yang ini sangat tradisional dan segalanya betul-betul dipelihara keasliannya. Mulai dari bentuk bangunan hingga interiornya. Membuat alam imajinasi kita terlempar, membayangkan betul-betul ada raja duduk di sana beserta para pengawal-pengawalnya. Meski demikian, tempat ini ternyata pernah nyaris dibumihanguskan oleh Jepang. Sehingga banyak bagian sudah direvitalisasi oleh pemerintah Korea.


Demikian, sayang, betapa sejarah yang dikelola secara serius, punya andil dalam membentuk bangsa yang hebat. Apa yang bisa kita lakukan sekarang? Tidak perlu repot-repot menembok bangunan museum di Indonesia yang menyedihkan. Kita cukup mengenang masa lalu kita, dari mulai PDKT, masa-masa bertengkar, hingga persiapan pernikahan macam belakangan ini. Dengan demikian kita akan sanggup menjadi pasangan yang menebar energi positif bagi sesama.

Dan itulah awal mula, cikal bakal, perbaikan dunia.

Comments

  1. And now I love my mom and u much much more.. =)
    Mari kita membangun museum untuk anak2 kita nanti! =D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...