Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Surat Cinta dari Korea (1)

Annyeong Haseo!

Sebetulnya, ini belum sampai, Sayang. Ini aku online dari bandara di Kuala Lumpur yang entah namanya apa. Yang aku tahu, di sini makanannya tidak enak, nama-namanya hasil plagiat, dan harganya agak mahal dengan disertai tatapan mata dari sekeliling yang seolah berkata, "Dasar Indonesia."

Dengan waktu transit nyaris empat jam, tentunya aku mengisi dengan makan. Aku akan perlihatkan padamu, foto makanan bernama Nasi Lemak Chicken Rendang yang kontemporer dan posmodern:


Makanan ini tadinya dingin, dipertontonkan dari balik etalase yang membuat kita menyangka makanan ini terbuat dari lilin. Seketika dipesan, pelayan langsung memasukkan makanan ini ke dalam microwave dan menyetel pemanasnya selama dua menit. Bodohnya, plastik bumbunya ia masukkan pula tanpa dibuka. Sehingga ketika nasi dan ayam ikut panas, bumbu yang tersimpan dalam plastik tersebut masih tetap dingin. Rasanya? Kamu tidak ingin tahu. Masih jauh lebih enak nasi uduk tiga ribuan yang ada di jalan Bangreng tempat kita sarapan.

Perjalanan ini berisikan hmmmm sembilan orang. Semuanya hangat dan kompak, berbagi cerita dan pulpen jika diperlukan. Kami ini ceritanya delegasi Indonesia, bersiap untuk mengikuti pameran Asia tahunan yang kebetulan kali ini diselenggarakan di Korea (Selatan). Karena ongkos pengiriman karya yang bisa mencapai belasan juta, kami memilih untuk membawa karya-karya kami ini sendiri. Memilih untuk menentengnya sendiri dengan resiko dipandang curiga ketimbang harus berhadapan dengan bea cukai yang juga penuh curiga.


Sang Ketua Delegasi, Pak Setiawan Sabana


Sepanjang perjalanan dari Jakarta tadi, aku membaca buku "Rp 3 Juta Keliling Korea dalam 9 Hari" karya Claudia Kaunang. Di sana aku sudah membayang-bayangkan tempat yang akan dituju nantinya di sana. Pertama, jika aku punya nyali, aku akan ikut tur ke area pemisah antara Korea Selatan dan Korea Utara. Katanya, sebelum pergi, aku harus menandatangani perjanjian untuk tidak menuntut jika nantinya ada kontak senjata. Kedua, yang ini aku pasti punya nyali, aku akan mendatangi Pohon Gembok Cinta di NSeoul Tower. Di pohon tersebut tertampung gembok segala rupa yang sudah ditulisi kata-kata cinta. Dipercaya bahwa ketika gembok itu terkunci, maka pasangan tak akan terpisah untuk selamanya. Kalau iya aku mencapai sana, akan kugembok tulisan untuk kita:

"Dega & Syarif. Insya Allah akan bersama-sama ke tempat ini nanti."

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...