Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Romantisme


Saya terinspirasi menulis ini setelah menonton Milan Glorie vs Indonesia All-Star Legends yang berakhir 5-1 untuk para bintang dari Italia. Bersama Pirhot, kawan saya, kami menyaksikan pertandingan tersebut sambil terbahak-bahak oleh sebab usia mereka yang tak lagi muda, namun harus menghibur penonton yang mengenang masa jaya mereka-mereka. Satu per satu komentator menyebut nama besar seperti "Baresi," "Costacurta," "Lentini," "Massaro," "Papin," hingga "Eranio." Di sisi lain, meskipun berbeda kelas, namun auranya tetap nostalgik, yaitu, "Ansyari," "Rochi," "Widodo," "Aji," hingga "Fachri." Sebutan-sebutan pesepakbola tersebut mengingatkan pada masa kecil hingga remaja saya, ketika televisi berada di kamar. Dini hari, jika terbangun, sering dengan sengaja saya setel televisi demi mendengar suara-suara komentator meninabobokan tidur saya kembali.

Obrolan antara saya dengan Pirhot lantas berlanjut ke segala hal yang berbau sepakbola masa silam. Mulai taktik 5-3-2 yang akrab masa itu, lalu revolusi ke 4-4-2 yang mengandalkan empat bek sejajar dan dua striker, hingga kecenderungan sepakbola hari ini yang kerap memainkan 4-3-3. Perbincangan juga masuk ke gaya rambut pesepakbola, yang dulunya gandrung berambut gondrong, sekarang banyak yang pendek-pendek. Di tengah-tengah perbincangan tersebut selalu terucap ungkapan-ungkapan romantik, bahwa, "Dulu mah, asik yah."

Hampir dalam segala hal, setelah direnungkan, ternyata masa lalu selalu dibicarakan secara menyenangkan, betapa buruknya itu. Ketika membicarakan masa lalu, seolah-olah masa sekarang menjadi buruk adanya. Sama halnya ketika membicarakan Star Wars episode IV, V, VI yang notabene dibuat tahun 70-an hingga 80-an, lantas dicap keren ketimbang Star Wars episode I, II, III yang dibuat lebih kekinian. Argumennya, "Lihat jaman dulu, teknologi masih sederhana, tapi film bisa canggih begitu." Atau dalam diskusi mengenai kaset di komunitas di Tobucil, sering sekali dikatakan bahwa, "Orang dulu mau berjuang demi kaset, nabung. Tapi sekarang lagu didapat di mana saja secara gratis. Jadinya orang kurang menghargai musik." Dalam aspek kehidupan yang lebih religius, orang sering merindukan jaman ketika Nabi berkuasa. Sehingga dengan begitu, masa sekarang orang menjadi "gatal" ingin menegakkan negara khilafah. Yang kalau boleh saya tebak, pasti juga sangat terpengaruh oleh romantisme masa silam.

Inilah mengapa, bagi saya, isu "jaman edan" atau "tanda-tanda kiamat" selalu relevan. Para "peramal" dari masa silam selalu mengatakan, "Akan datang jaman dimana manusia bermoral rendah, kacau, dan yang demikian adalah tanda-tanda berakhirnya dunia." Walhasil, ramalan demikian akan selalu relevan dimanapun ia dibaca. Orang yang berpijak di waktu dan tempat manapun selalu menganggap dirinya berada pada situasi jaman edan atau tanda-tanda kiamat.

Tanpa romantisme, peradaban tidak mungkin maju. Romantisme membuat kehidupan mau, seperti kata Hegel, berdialektik. Ada proses pembaruan, ada proses revolusi, ada proses penengahan, dan semuanya sah jika berbasiskan satu kata, romantisme. Romantisme membuat orang rindu akan suatu jaman di masa lalu, yang kemudian ia tuangkan dalam kegelisahan jaman sekarang. Dalam kegelisahannya itu ia berontak menuntut perubahan, agar yang kini kembali menjadi yang lalu. Demikian seterusnya, tanpa henti, mungkin juga tanpa ujung. Agama-agama semit barangkali lelah menafsirkan romantisme ini, sehingga ia membuat konsep eskatologi atau akhir dunia.

Jika masa lalu selalu indah, maka saya seyogianya mengingat bahwa yang hari ini kerap akan menjadi masa lalu juga. Orang akan dengan manis mengenang jaman ini, dimana segalanya mudah diketahui secara transparan, dimana popularitas mudah timbul tenggelam sesuai dengan media yang ingin mengungkapkan, dimana citra lebih penting ketimbang substansi, dimana Barat menengok ke Timur, dimana manusia senang mengintip satu sama lain, dimana bla bla bla, dimana bla bla bla. Semua akan diceritakan secara indah, setelah jaman sudah berubah.

#Sambil bernostalgia, menyaksikan Youtube berisikan video kejayaan Franco Baresi. Jika Messi berhadapan dengan Baresi, mungkin Messi yang menang. Tapi romantisme barangkali haram hukumnya ditempelkan dengan masa kini. Konteksnya berbeda, tantangan jamannya berbeda.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...