Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Surat Cinta dari Korea (6)

Adakah yang lebih indah dari Tuhan? Ada, jawabnya. Yaitu, persahabatan. Dan jangan-jangan, Tuhan adalah persahabatan itu sendiri. Kita bisa mengenali suatu konsep timbal balik dengan Tuhan, saling mengisi, saling meyakini, saling percaya, mungkin diawali dari pengetahuan kita akan persahabatan dengan manusia.

Di Seoul yang jauh ini, aku bertemu dengan teman-teman dari Indonesia. Adakah diantara kami dahulunya akrab? Bisa ya, bisa tidak. Bisa dibilang, kami diakrabkan oleh satu hobi dan kesenangan yang sama: gitar. Andri, adalah rival lama ketika kami masih rajin mengikuti kompetisi gitar. Sedangkan Rony, kurang lebih sama, kami bertemu dalam suatu kompetisi gitar di Yogyakarta. Andri asal Jember, Rony asal Semarang. Tapi harus diakui bahwa frekuensi jumpa kami tak seberapa. Kami hanya berkirim salam sesekali, bertemu jika ada keperluan, dan tidak tiba-tiba bertandang jika tak punya kepentingan. Namun pertemuan dengan keduanya di Seoul ini mengubah segalanya. Kami mendadak menjadi hangat dan merasa seperti saudara. Kami merasakan suatu perasaan rindu yang aneh.

Aku sudah merenungkan dengan serius, sayang. Bahwa bahasa adalah cara kita berada di dunia. Lewat bahasa, kita menjadi ada. Maka itu di Korea, sendirian, aku merasa tak terikat dengan dunia karena tidak terkoneksikan oleh bahasa. Orang-orang bicara terasa seperti bebunyian saja. Tapi dengan adanya sesama Indonesia, kami meng-ada-kan satu sama lain.

Pertama adalah Andri. Ia menemui kami di parkiran hotel Hamilton di kawasan Itaewon. Ia sudah empat tahun bekerja di Korea. Ia tengah menjadi pria siaga, istrinya berstatus hamil lima bulan. Andri menemui kami dengan hangat, pun istrinya yang menyusul kemudian. Mereka berdua mengajak kami makan di sebuah restoran Arab-India yang spicy dan lebih cocok bagi lidah kami. Setelah itu mereka berdua memandu kami berbelanja di kawasan Namdaemun dan Myeongdong. Namdaemun itu agak-agak mirip dengan kawasan Pasar Baru di Bandung, sedang Myeongdong sedikit lebih elit, mungkin bisa disamakan dengan daerah Sukajadi.


Andri Mahendra, kawan dari Jember.

Setelah kaki pegal dan kantong yang ditenteng semakin mengganggu perjalanan, kami memutuskan untuk berhenti dan pulang ke hotel. Kebetulan, malam ini adalah malam dimana aku berpisah dengan kedua orangtua karena mereka memutuskan untuk pulang ke Indonesia lebih awal. Andri dan Anggi, istrinya, pun memutuskan untuk sampai di situ saja karena jalur subway mereka berbeda. Tapi bagiku, mereka berjanji untuk menemuiku lagi karena aku masih akan di sini untuk seminggu ke depan.


Didi (kiri menghadap kamera) dan Rony (menengok kanan), kawan dari Semarang.

Aku sekarang di sini, bersama Rony, kawanku dari Semarang. Aku diijinkan ikut menginap di kostnya untuk beberapa hari. Kostnya bersama banyak orang asing lainnya. Juga hadir bersamaku seorang yang hangat juga, dari Semarang juga, namanya Didi. Meskipun sedih karena berpisah dengan orangtua, tapi aku sekaligus senang. Bagiku inilah awal mula petualangan di Korea. Ketika uang harus mulai diirit dan kemana-mana mesti membaca peta. Tempat yang kukunjungi pun harus efektif karena jika tidak, uang juga yang jadi korban. Aku sekarang akan bersenang-senang, sayang. Rony menjamuku dengan bir dan soju. Kami bukan ingin mabuk, hanya ingin merayakan persahabatan. Kalau Tuhan marah karena aku minum soju, maka ia bukan Tuhan. Karena kalau ia betul-betul Tuhan, pasti ia sungguh mengerti makna persahabatan.


Kamu adalah soju-ku, yang selalu memabukkan.


Comments

  1. Persahabatan, salah satu keajaiban yang juga memabukkan. ;)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...