Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Surat Cinta dari korea (8)

Sayangku, setelah seminggu lebih aku di sini, adakah yang berubah terhadap caraku berpikir? Ada. Terlebih tentang teknologi. Di sini, teknologi sangatlah canggih. Semua serba terprediksi, serba komputerisasi, serba cepat dan akurat. Segala aktifitas manusia betul-betul difasilitasi. Aku juga meralat ketika mengatakan sign system di sini jelek. Setelah bimbingan Rony dan akhirnya aku mencobanya sendiri, ternyata lama kelamaan aku sadar kalau sign system di sini sangatlah jelas! Dalam subway sekalipun, peta ditempelkan hampir di setiap kita mau menaiki tangga ke jalan raya. Ketika aku menuliskan ini aku baru saja pulang jalan-jalan sendiri untuk pertama kalinya, tidak ikut rombongan, dan sukses meskipun sempat nyasar-nyasar hingga kaki pegal-pegal.
Justify Full

Kembali ke teknologi. Apa sesungguhnya hakikat teknologi? Teknologi adalah sesuatu yang mempermudah kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan yang aku sebutkan adalah kebutuhan fisik. Dulu orang makan dengan berburu, tapi karena berburu berbahaya, mereka menemukan teknologi pertanian. Dulu orang kesana kemari menggunakan kuda, sekarang menggunakan mobil. Tapi apalah artinya semua itu kecuali berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan tubuh manusia. Tapi teknologi sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan spiritual manusia. Kebutuhan spiritual diraih bisa dengan vertikal maupun horizontal, bisa lewat Tuhan maupun manusia. Teknologi memudahkan segala, membuat semuanya bisa dilakukan sendiri, maka itu kadang-kadang hubungan dengan yang lain tak seberapa diperlukan.

Inilah yang kemudian aku bisa syukuri dari Indonesia. Kemanapun dimanapun, orang kita kerap senang berkumpul, ngobrol, nongkrong, yang mana segala itu merupakan suatu cara tersendiri untuk memenuhi kebutuhan batin. Orang kita (meskipun ini tentu saja generalisasi, karena sudah banyak diantara kita yang individualistis) begitu percaya bahwa kemiskinan tiada masalah selama jalinan tali persaudaraan masih kuat dengan sesama. Paling gampang adalah supir angkot di Bandung. Mereka jelas, dengan tetap menjadi supir angkot, kemungkinan memang tiada peningkatan signifikan dalam hidupnya. Tapi mereka merasa aman dan tenteram, berbagi rokok dan penumpang jika yang lain berkekurangan. Mereka percaya dengan memberi, akan menerima juga. Aku pernah lihat supir angkot yang digebuki karena ia ogah bersosialisasi. Ingin jadi individual, ingin berdikari.

Di sini, tempat yang aku sering kunjungi tentu saja subway. Orang-orang di subway, mungkin mirip dengan Trans Jakarta, hanya sibuk sendiri. Untungnya, di sini mereka sibuk sendiri menonton televisi dari HP, sedang di TJ mungkin orang sibuk sendiri merenungi nasib. Tidak ada tegur sapa, tidak ada saling memandang, tidak ada senyuman, dan hening tiada obrolan. Yang berisik cuma bunyi rel dan suara komputer digital yang bersahut-sahutan dengan pengumuman pemberhentian.


Inilah potret modernitas yang barangkali "sesungguhnya", ketika semua rapi jali, teratur, mekanik, dan manusia pun ikut mekanis. Ketika orang-orang merokok dalam waktu yang akurat (disini orang merokok seperti kepanasan oleh rokok itu sendiri sehingga dua menit sudah habis), ketika semua orang memakai standar waktu yang sama, ketika kehidupan bergantung pada ketepatan tibanya subway dan metro.

Jika nanti kita sudah bersama, jangan pernah lupa waktu untuk bercengkrama. Pada situasi itulah manusia bisa kembali mengenali dirinya. Dalam bercengkrama itu juga, jadilah manusia sebenarnya: marah, gembira, sedih, menangis, romantis. Jangan berbicara tentang fenomena apa adanya, jangan juga bercinta tanpa rasa, seolah memenuhi kebutuhan badan semata. Kita ini manusia, punya hasrat, gairah, dan cita-cita. Raih itu seolah-olah kita akan hidup seribu tahun lagi. Memikirkan berapa harga cabe jelas harus, tapi tetap letakkan impian di sudut hatimu. Terangi ia selalu, agar Tuhan akhirnya melirik jua.

Comments

  1. Siaaapp!!! Impian sudah kusebar,sinarilah bak lentera. :-)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...