Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Nam June Paik

Siapa itu Nam June Paik? Sekarang saya tahu, dia seorang Amerika kelahiran Korea yang dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan konsep video art. Ia pernah membuat karya fenomenal bernama TV Cello. Yaitu tiga tumpuk televisi dengan ukuran berbeda dan diberi senar sehingga bisa digesek layaknya cello. Ia berpartisipasi pada suatu gerakan seni yang cukup populer di tahun 1960-an, namanya Fluxus. Tapi sebelumnya, saya cuma sering mendengar orang bernama Nam June Paik. Sejak saya kecil nama itu terngiang-ngiang. Saya tidak ingat, tapi rasanya bapak saya kerap mengucap nama tersebut tanpa saya paham siapa dia. Nam June Paik. Nam June Paik.

Singkat cerita, saya mendapat undangan berbicara di sebuah penutupan pameran. Tepatnya bukan undangan, tapi kehormatan untuk menggantikan bapak yang seharusnya bicara, tapi urung hadir dan akhirnya didelegasikan pada saya. Saya kelabakan karena jarak dari pemberitahuan ke acara itu hanya sekitar lima hari. Saya sama sekali tidak mendalami seni rupa, dan rasanya bapak membuat kesalahan besar dengan meminta saya menggantikan beliau.

Namun nasi sudah menjadi bubur, tugas saya adalah memberinya cakue, kacang, kerupuk dan kaldu ayam sehingga menjadi bubur ayam. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, saya dengan sengaja melihat dunia seni rupa secara lebih intens. Saya membaca beberapa buku, menonton film How Art Made the World, ngobrol dengan kurator Heru Hikayat, dan tunggu.. dia menyebut nama itu lagi: Nam June Paik.

Setelah nama itu keluar, saya memilih untuk menutup buku, menyetop film, dan memejamkan mata untuk belajar dari perjalanan masa kecil saya. Memang iya, saya tidak mendalami seni rupa, tapi ada fakta bahwa saya dibesarkan dalam lingkungan seni rupa yang kuat dari bapak. Bapak sendiri bukan sekali dua kali mengajak saya ke forum seni rupa, melainkan sering sekali. Bukan sekali dua kali beliau meminta saya memberi komentar atas karyanya, melainkan sering sekali. Pengalaman tidak selalu tersimpan di memori, seringnya ia menjadi daging yang menubuhi kita. Atas dasar itu saya maju saja dengan modal seadanya ke forum untuk berbicara, mencoba berbagi pengetahuan tidak cuma lewat kata-kata, tapi juga pengalaman yang mendagingi saya dari kecil hingga sekarang. Berhasil tidaknya bukan saya yang menilai, tapi saya merasa cukup lancar dan pengalaman-pengalaman masa lampau tersebut tak kesulitan untuk dikeluarkan. Keseluruhan indra saya ikut bicara.

Setelah acara itu selesai, saya pulang ke rumah dan menemukan ibu saya duduk sendiri di meja makan. Saya duduk dan mendatanginya, bertanya perlahan, pura-pura belum baca wikipedia "Mah, Mamah tahu Nam June Paik?" Ia menjawab sambil tersenyum kecil, matanya menerawang ke alam kenangan, "Tentu saja. Ketika seumurmu, bapak sering dipanggil forum-forum untuk membicarakan Nam June Paik." Ia melanjutkan dengan tawa, "Kalau bukan karena bicara di forum tentang Nam June Paik, kita tidak akan sanggup bayar DP kendaraan. Hehe."

Demikian barangkali yang disebut butterfly effect. Apa yang dilakukan Nam June Paik di Amerika sana, bisa berdampak pembelian kendaraan di keluarga kami! Lebih dari itu, nama Nam June Paik merangsang saya untuk menyelami masa kecil dan melipatgandakan respek saya pada bapak. Bayangkan, hari ini saya menjadi pembicara dengan enaknya menaiki kendaraan pribadi, dengan enaknya telepon sana sini menggunakan hape, tanpa betul-betul menyelami dunia seni rupa itu seperti apa. Yang kerja keras adalah bapak. Beliau memodali saya dengan pengalaman sensor total masa kecil, dan kemudian dari waktu ke waktu akhirnya sanggup meminjami saya kendaraan. Di dalamnya terselip andil seorang: Nam June Paik.




Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...