Skip to main content

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Surat Cinta dari Korea (10 - selesai)



Sungai Han yang Menenangkan


Kekasihku,

Apakah sesungguhnya makna liburan itu sejatinya? Apakah menghabiskan uang? Tentu saja perlu uang, tapi aku tak setuju menyebut "menghabiskan". Karena menghabiskan berarti tidak menukarnya dengan apapun juga. Dan tidak ada apapun yang tidak ditukar dengan apapun. Tidak ada satu halpun di dunia ini yang memberi saja atau menerima saja. Guru yang tidak dibayar sekalipun, sesungguhnya ia mendapat kebahagian dari apa yang sudah ia berikan. Dan apalah artinya uang itu menemukan fungsinya yang sejati, kecuali ditukar dengan pengalaman.

Pengalaman adalah hal yang membuat manusia menemukan dinamikanya. Tuhan menciptakan manusia berumur pendek. Sehingga masing-masing dari mereka tak mungkin menjelajahi keseluruhan dari dunia. Namun Tuhan juga menciptakan kelima indra bersama memori untuk menyimpan ingatan. Sehingga apa yang dilihat oleh masing-masingnya, bisa dibagi ke orang lain yang tidak mengalami. Demikian indahnya kehidupan ini, salah satunya. Artinya, apakah itu makna liburan, selain demi kita menyerap pengalaman agar dibagi pada yang lainnya? Bahwa sesungguhnya kita menukar uang kita untuk memperkaya pandangan manusia satu dengan manusia lain?

Maka itu manusia seyogianya tak perlu bertengkar. Karena barangkali ada pengalaman berbeda yang membangun masing-masingnya.

Apa artinya sebuah liburan juga, jika bukan untuk mengambil jarak dari keseharian. Untuk meneropong kehidupan dari kejauhan. Untuk beristirahat sejenak dari yang menyibukkan. Maka jika liburan menjadi bertambah tekanan, maka tinggalkan! Sesungguhnya dalam liburan tiada tuntutan. Alangkah sahnya jika kamu tiduran seharian. Tidak perlu khawatir akan tuntutan jalan-jalan, dalam liburan akhirnya kamu punya momen dimana kehidupanmu boleh-boleh saja tak bertujuan.

Minum bir dengan sahabat, Rony. Kegiatan seperti ini amat mengembalikan kewarasan.

Akhirnya aku akan mengakhiri liburanku di Korea, dengan rasa puas dan bahagia oleh sebab dua hal tadi: mendapatkan pengalaman dan istirahat yang cukup. Tidaklah liburan itu berhasil jika tak sanggup menyeimbangkan antara jalan-jalan dan istirahat. Sekarang aku siap kembali ke Bandung, ke keseharian yang menyibukkan. Tidak ada alasan untuk lelah dan berleha-leha jika ibarat batre HP sudah di-charge penuh sampai full.

Aku juga sudah melihat keseharianku dari jauh. Menyadari bahwa manusia itu dalam kegilaan yang nyata. Bahwa rutinitas membunuh kesadaran. Maka itu, sayangku, pesanku, mesti pandailah mengatur liburan. Dan jangan sampai liburan menjadi suatu rutinitas yang baru. Jika itu terjadi, namanya kegilaan berlipat-lipat.

Aku pulang, aku kembali. Kelak nanti kita akan pergi, ke tempat ini lagi. Tapi bersama.



Comments

  1. Insya Allah..
    Pulanglah dengan selamat. Terima kasih atas perjalanan indah sebelas hari di Korea. Terima kasih atas rangkaian surat cintanya. Sampai bertemu, tak sabar lagi, di Bandung, di rumah kita. :-)

    ReplyDelete
  2. Tulisan tentang perjalanannya menarik banget mas, hehe.. :D

    ReplyDelete
  3. Waaah ... kalian manis sekali.

    Komentar klise: ditunggu undangannya =D

    ReplyDelete
  4. @detta: terima kasih.. :)
    @sundea: hahaha iya, segera Dea!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...