Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Kekasihku,
Apakah sesungguhnya makna liburan itu sejatinya? Apakah menghabiskan uang? Tentu saja perlu uang, tapi aku tak setuju menyebut "menghabiskan". Karena menghabiskan berarti tidak menukarnya dengan apapun juga. Dan tidak ada apapun yang tidak ditukar dengan apapun. Tidak ada satu halpun di dunia ini yang memberi saja atau menerima saja. Guru yang tidak dibayar sekalipun, sesungguhnya ia mendapat kebahagian dari apa yang sudah ia berikan. Dan apalah artinya uang itu menemukan fungsinya yang sejati, kecuali ditukar dengan pengalaman.
Pengalaman adalah hal yang membuat manusia menemukan dinamikanya. Tuhan menciptakan manusia berumur pendek. Sehingga masing-masing dari mereka tak mungkin menjelajahi keseluruhan dari dunia. Namun Tuhan juga menciptakan kelima indra bersama memori untuk menyimpan ingatan. Sehingga apa yang dilihat oleh masing-masingnya, bisa dibagi ke orang lain yang tidak mengalami. Demikian indahnya kehidupan ini, salah satunya. Artinya, apakah itu makna liburan, selain demi kita menyerap pengalaman agar dibagi pada yang lainnya? Bahwa sesungguhnya kita menukar uang kita untuk memperkaya pandangan manusia satu dengan manusia lain?
Maka itu manusia seyogianya tak perlu bertengkar. Karena barangkali ada pengalaman berbeda yang membangun masing-masingnya.
Apa artinya sebuah liburan juga, jika bukan untuk mengambil jarak dari keseharian. Untuk meneropong kehidupan dari kejauhan. Untuk beristirahat sejenak dari yang menyibukkan. Maka jika liburan menjadi bertambah tekanan, maka tinggalkan! Sesungguhnya dalam liburan tiada tuntutan. Alangkah sahnya jika kamu tiduran seharian. Tidak perlu khawatir akan tuntutan jalan-jalan, dalam liburan akhirnya kamu punya momen dimana kehidupanmu boleh-boleh saja tak bertujuan.
Akhirnya aku akan mengakhiri liburanku di Korea, dengan rasa puas dan bahagia oleh sebab dua hal tadi: mendapatkan pengalaman dan istirahat yang cukup. Tidaklah liburan itu berhasil jika tak sanggup menyeimbangkan antara jalan-jalan dan istirahat. Sekarang aku siap kembali ke Bandung, ke keseharian yang menyibukkan. Tidak ada alasan untuk lelah dan berleha-leha jika ibarat batre HP sudah di-charge penuh sampai full.
Aku juga sudah melihat keseharianku dari jauh. Menyadari bahwa manusia itu dalam kegilaan yang nyata. Bahwa rutinitas membunuh kesadaran. Maka itu, sayangku, pesanku, mesti pandailah mengatur liburan. Dan jangan sampai liburan menjadi suatu rutinitas yang baru. Jika itu terjadi, namanya kegilaan berlipat-lipat.
Aku pulang, aku kembali. Kelak nanti kita akan pergi, ke tempat ini lagi. Tapi bersama.

Pengalaman adalah hal yang membuat manusia menemukan dinamikanya. Tuhan menciptakan manusia berumur pendek. Sehingga masing-masing dari mereka tak mungkin menjelajahi keseluruhan dari dunia. Namun Tuhan juga menciptakan kelima indra bersama memori untuk menyimpan ingatan. Sehingga apa yang dilihat oleh masing-masingnya, bisa dibagi ke orang lain yang tidak mengalami. Demikian indahnya kehidupan ini, salah satunya. Artinya, apakah itu makna liburan, selain demi kita menyerap pengalaman agar dibagi pada yang lainnya? Bahwa sesungguhnya kita menukar uang kita untuk memperkaya pandangan manusia satu dengan manusia lain?
Maka itu manusia seyogianya tak perlu bertengkar. Karena barangkali ada pengalaman berbeda yang membangun masing-masingnya.
Apa artinya sebuah liburan juga, jika bukan untuk mengambil jarak dari keseharian. Untuk meneropong kehidupan dari kejauhan. Untuk beristirahat sejenak dari yang menyibukkan. Maka jika liburan menjadi bertambah tekanan, maka tinggalkan! Sesungguhnya dalam liburan tiada tuntutan. Alangkah sahnya jika kamu tiduran seharian. Tidak perlu khawatir akan tuntutan jalan-jalan, dalam liburan akhirnya kamu punya momen dimana kehidupanmu boleh-boleh saja tak bertujuan.
Minum bir dengan sahabat, Rony. Kegiatan seperti ini amat mengembalikan kewarasan.
Akhirnya aku akan mengakhiri liburanku di Korea, dengan rasa puas dan bahagia oleh sebab dua hal tadi: mendapatkan pengalaman dan istirahat yang cukup. Tidaklah liburan itu berhasil jika tak sanggup menyeimbangkan antara jalan-jalan dan istirahat. Sekarang aku siap kembali ke Bandung, ke keseharian yang menyibukkan. Tidak ada alasan untuk lelah dan berleha-leha jika ibarat batre HP sudah di-charge penuh sampai full.
Aku juga sudah melihat keseharianku dari jauh. Menyadari bahwa manusia itu dalam kegilaan yang nyata. Bahwa rutinitas membunuh kesadaran. Maka itu, sayangku, pesanku, mesti pandailah mengatur liburan. Dan jangan sampai liburan menjadi suatu rutinitas yang baru. Jika itu terjadi, namanya kegilaan berlipat-lipat.
Aku pulang, aku kembali. Kelak nanti kita akan pergi, ke tempat ini lagi. Tapi bersama.



Insya Allah..
ReplyDeletePulanglah dengan selamat. Terima kasih atas perjalanan indah sebelas hari di Korea. Terima kasih atas rangkaian surat cintanya. Sampai bertemu, tak sabar lagi, di Bandung, di rumah kita. :-)
Tulisan tentang perjalanannya menarik banget mas, hehe.. :D
ReplyDeleteWaaah ... kalian manis sekali.
ReplyDeleteKomentar klise: ditunggu undangannya =D
@detta: terima kasih.. :)
ReplyDelete@sundea: hahaha iya, segera Dea!