Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Otentisitas > Pengalaman Estetik (?)

Made You Look: A True Story About Fake Art

Beberapa hari yang lalu, dalam rangka persiapan mengisi forum tentang seni rupa kontemporer, saya menonton dan membaca beberapa hal terkait seni, baik yang berhubungan langsung dengan seni rupa kontemporer maupun yang tidak langsung. Saya membuka Netflix dan tertarik dengan film dokumenter berjudul Made You Look: A True Story About Fake Art (2020). Mungkin tidak berhubungan langsung dengan seni rupa kontemporer, tetapi saya menemukan sejumlah hal menarik (dan pada akhirnya bisa dihubung-hubungkan). 

Film dokumenter yang disutradarai oleh Barry Avrich ini menceritakan tentang kasus lukisan palsu yang menyerang galeri Knoedler di New York, terkait berbagai transaksi yang dilakukan oleh presiden galeri, Ann Freedman, antara tahun 1994 sampai 2009. Lukisan yang dijualnya antara lain karya-karya Jackson Pollock, Mark Rothko, dan Robert Motherwell. Ann Freedman mendapatkan lukisan-lukisan tersebut dari orang bernama Glafira Rosales yang menjualnya dengan harga ratusan ribu dollar, sebelum dijual kembali pada para kolektor dengan harga belasan hingga puluhan juta dollar. 

Meski sempat diklaim sebagai karya-karya asli oleh beberapa ahli, tetapi akhirnya terkuak bahwa lukisan tersebut ditiru oleh seniman asal Tiongkok bernama Pei Shen Qian. Pei Shen Qian memang melakukan peniruan, tetapi tidak dalam konteks kejahatan pemalsuan. Ia hanya melakukannya karena mungkin ada orang yang ingin punya lukisan (seperti) Jackson Pollock atau Mark Rothko di rumahnya, tetapi tidak harus membeli yang asli. Selain itu, menurut pengakuan salah satu informan dalam film, di Tiongkok, tiru meniru karya seni itu "biasa", dan bahkan ada kelas khusus untuk melatihnya. 

Hal yang menarik untuk dibahas adalah bagaimana karya-karya tersebut, sebelum diragukan keasliannya, dianggap indah dan berharga. Namun saat terkuak siapa pembuat aslinya, tiba-tiba menjadi tidak berharga sama sekali. Apakah itu artinya otentisitas mendahului pengalaman estetik? Jika iya, maka seni rupa modern mengandung paradoks: di satu sisi, benar bahwa individualitas, ke-aku-an seniman menjadi penting dan bahkan segala-galanya (semacam antroposentrisme khas modernisme) dan di sisi lain, seni rupa modern juga mengagungkan kemurnian estetika atau keindahan pada dirinya sendiri, yang seharusnya lepas dari hal-hal di luar estetika, termasuk soal otentisitas. 

Di film dokumenter tersebut, diceritakan bagaimana suasana di pengadilan yang menegangkan (karena melibatkan sengketa puluhan juta dollar) tapi sekaligus agak jenaka. Bayangkan, para ahli memeriksa lukisan tersebut, termasuk putra dari Mark Rothko, tetapi terlepas dari apakah lukisan tersebut bukan asli, ada satu hal yang mereka sama-sama setuju: itu lukisan yang indah. Kalau itu lukisan yang indah pada dirinya sendiri, masih pentingkah otentisitas? Atau jangan-jangan, tidak cukup bagi para kolektor itu untuk memiliki karyanya saja. Mereka ingin memiliki hidup sang seniman atau menjadi bagian dari kehidupannya yang penuh glorifikasi. 

Pei Shen Qian, meski keterampilannya tidak bisa diremehkan (bahkan bisa jadi secara kemampuan lebih hebat dari seniman-seniman yang dia tiru), tidak punya nama sebesar Pollock atau Rothko. Itulah sebabnya, karya-karya itu menjadi tidak ada artinya dan bahkan kehilangan pesona estetiknya. Memang iya bahwa karya seni bisa jadi, karena itu merupakan produk manusia, maka sosok manusia sebagai kreator menjadi krusial. Namun ada hal yang bisa dicurigai: bukankah hidup manusia bisa diglorifikasi secara artifisial? misalnya, melalui media ataupun kajian akademis yang menjelma menjadi hegemoni. Mari kita berandai-andai: seandainya Pei Shen Qian lahir dan besar di "Barat" (lalu sukses di sana), mungkin ceritanya menjadi lain.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...