Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

The Irishman (2019): Kegelisahan Gangster di Usia Senja


The Irishman
(2019)

Setelah lama tidak menonton film yang durasinya panjang-panjang, akhirnya saya memutuskan untuk menonton The Irishman (2019). Mengapa saya memilih film bertema mafia tersebut? Dari dulu memang saya mengagumi karya-karya Martin Scorsese dari mulai Taxi Driver (1976), Raging Bull (1980), Goodfellas (1990) hingga Casino (1995). Selain itu, saya juga penasaran melihat bagaimana akting Al Pacino, Robert de Niro dan Joe Pesci di usia 70-an akhir.  

The Irishman adalah film yang berpusat pada Frank Sheeran (Robert de Niro), pengantar daging turunan Irlandia yang menjadi eksekutor bagi kelompok mafia Russell Bufalino (Joe Pesci). Dianggap bagus dalam menjalankan tugas-tugasnya, Frank kemudian dihubungi oleh presiden serikat Teamster bernama Jimmy Hoffa (Al Pacino) untuk menyelesaikan beberapa masalahnya. Hoffa sendiri, meski mempunyai posisi legal, sering berurusan dengan mafia sehubungan dengan Teamster yang banyak membawahi buruh-buruh di bidang transportasi dan pengangkutan yang wilayah operasinya memang banyak dikuasai oleh mafia. Scorsese kemudian diangkat menjadi semacam penasihat dan pengawal pribadi Hoffa, dan sering memberitahu bosnya untuk tidak terlalu ambisius soal Teamster, karena mafia di sekelilingnya, termasuk Anthony Provenzano (Stephen Graham) mengincar Hoffa sehubungan dengan dana pensiun senilai miliaran dollar yang ada di bawah penguasaan Hoffa. 

Sekitar 45 menit terakhir film ini, seperti umumnya film mafia lainnya, menunjukkan antiklimaks dari kiprah gangster itu sendiri. Dalam Godfather part III, kita bisa melihat bagaimana Michael Corleone dihantui rasa bersalah setelah membunuh kakaknya sendiri, Fredo, sebelum akhirnya meninggal dalam kesendirian. Dalam Scarface, Tony Montana mati di rumahnya setelah menghadapi berondongan tembakan seorang diri. Dalam Donnie Brasco, Lefty Ruggiero secara implisit akan dieksekusi setelah diketahui bahwa Donnie Brasco, yang ia ajak masuk ke keluarga Bonanno, ternyata adalah agen FBI. Demikian halnya pada The Irishman, ketika para gangster itu sudah begitu sepuh, maka yang tersisa adalah hidup yang kian jauh dari gemerlap uang dan perebutan kekuasaan. Mereka mulai ke gereja dan menyesali masa mudanya yang penuh darah. 

Film berdurasi tiga setengah jam ini temponya memang agak lambat. Namun tidak akan terlalu terasa lambat jika sudah terbiasa nonton film-film Scorsese seperti Casino atau Goodfellas, yang memang tidak hanya menampilkan tembak-tembakan antar geng, tetapi juga segala obrolan penuh intrik yang tidak hanya dalam konteks serius, tetapi juga komedi, yang tentunya adalah komedi gelap. Pada Casino misalnya, kita bisa melihat bagaimana Nicky Santoro, yang diperankan oleh Joe Pesci, sebagai sosok yang jenaka, ternyata mampu membuat orang sekitarnya merasa ngeri. Dialog kecil yang menghadirkan paradoks itu yang seringkali diangkat oleh Scorsese, yang membuat film menjadi terasa lambat, padahal sedang membangun keseluruhan suasana dari kehidupan mafia yang membuat kita tidak bisa dengan mudah menilainya secara hitam putih. Misalnya, dalam The Irishman, selain dinginnya Sheeran dalam melakukan eksekusi, Scorsese juga menampilkan sisi lain, yaitu bagaimana sang eksekutor mengalami masalah dalam komunikasi dengan putrinya. 

Memang ada hal yang "gitu-gitu aja" dalam film tentang gangster, yang membuat kurang lebih segala sesuatunya dapat ditebak, termasuk seputar intrik apa yang disajikan. Urusannya pasti soal perebutan bisnis dan jabatan dengan tambahan adanya polisi busuk di sekitar yang bekerjasama dengan para mafia. Namun memang ada hal yang berbeda dalam The Irishman ini, yaitu karena kenyataan bahwa hampir semua aktor utamanya adalah aktor berusia senja, maka dihadirkan pula problematika hidup di usia senja. 45 menit terakhir film bagi saya begitu berkesan karena tidak hanya menghadirkan masalah eksistensial dari para mafia saat menjelang kematian, tetapi mewakili manusia secara umum. Perasaan menyesal, kesepian, dan ketakutan, mewarnai batin para gangter yang masa mudanya dipenuhi kehidupan yang gemerlap dan hedonistik. The Irishman mungkin merepresentasikan kegelisahan yang nyata dari para aktor, termasuk sutradara, yang bisa jadi ada di ujung karir sinemanya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...