Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Downfall (2004): Menengok Sisi Lain Sang Diktator

Downfall (2004)

 

Sudah lama saya ingin menonton film Downfall (2004) setelah entah berapa kali menonton parodinya di YouTube. Bahkan sempat dalam beberapa minggu, ritual saya sebelum tidur adalah menonton parodi Downfall hingga mengantuk. Parodi-parodi tersebut begitu lucu dan kreatif, hingga kadang terlalu kejam karena nilai-nilai dalam filmnya menjadi terdistorsi. Dalam adegan-adegan yang mestinya tegang, secara otomatis saya langsung ingat versi parodinya sehingga alih-alih ikut tegang, malah jadi tertawa geli. 

Downfall adalah film yang menceritakan tentang babak akhir Perang Dunia II saat baik pasukan Sekutu maupun pasukan Uni Soviet sudah makin mendekat ke Berlin. Adolf Hitler, pemimpin partai Nazi yang terkenal dengan kediktatorannya, menyusun strategi pamungkas bersama para jenderalnya untuk mengatasi serbuan tersebut. Sebagaimana film yang mengangkat tema perang, Downfall juga menyajikan adegan tembak menembak dan pengeboman. Namun bukan itu yang menjadi fokus utamanya, melainkan bagaimana suasana mencekam di Führerbunker, tempat berlindung terakhir bagi Hitler, para jenderal, maupun petinggi partai. 

Dalam kondisi terdesak, kita dapat melihat bagaimana sifat naluriah manusia untuk bertahan hidup bermunculan dan pada akhirnya bagi sebagian orang, ideologi dikesampingkan. Hal inilah yang kelihatannya ingin diperlihatkan oleh sutradara Oliver Hirschbiegel, bahwa Hitler dan orang-orang dekatnya adalah manusia biasa dengan segala ketakutannya akan mati. Bahkan orang sedingin Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Nazi, tampak terguncang saat memutuskan harus membunuh anak-anaknya sendiri dengan sianida. 

Harus diakui bahwa film ini menjadi dramatis karena peran aktor Bruno Ganz yang bermain sebagai Hitler. Ekspresi yang ditampilkan oleh aktor asal Swiss itu begitu kuat sehingga menimbulkan perasaan campur aduk atas pandangan saya atas sosok sang diktator. Perasaan benci tentu mendominasi, tetapi ada sisi kasihan, dalam artian, orang ini "sakit", ia terpenjara impiannya sendiri tentang Third Reich sehingga meski sudah sangat terdesak, Hitler tidak mau percaya bahwa kekalahannya akan terjadi dalam hitungan jam. Satu per satu pengikutnya pergi, ada yang pamit baik-baik, ada juga yang berkhianat diam-diam, dan Hitler tetap berpegang teguh pada prinsipnya, ibarat Sokrates yang memilih untuk mati ketimbang menerima pendapat orang lain bahwa selama ini ia telah keliru. 

Kebetulan saya punya semacam fetish terhadap segala sesuatu yang berbau Perang Dunia II. Asal-usul fetishisme ini entah darimana, yang pasti, saya rajin sekali nonton film-film dengan tema tersebut, termasuk yang ditampilkan dengan gaya dokumenter. Bagi saya, Downfall adalah salah satu film terbaik yang mengambil latar Perang Dunia II. Alasannya, kita diajak menengok situasi perang sebagai hal yang bangkrut dari peradaban, lewat penggambaran dari orang per orang, bukan dari sebuah lanskap pertempuran.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...