Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Alasan Mengapa Inglourious Basterds adalah Film yang Sangat Keren

Inglourious Basterds adalah film tahun 2009 berlatar Perang Dunia II yang disutradarai dan ceritanya ditulis oleh Quentin Tarantino. Saya adalah penggemar film-film Tarantino, tetapi hanya Basterds yang membuat saya bisa berkali-kali menonton klip-klipnya karena demikian kagum dengan karyanya yang satu ini. Pertama, tentu saja, karena tokoh Hans Landa yang diperankan secara brilian oleh Christoph Waltz. Landa adalah Kolonel SS yang dikenal karena kemampuannya dalam mengetahui segala informasi terkait orang-orang Yahudi yang diburu oleh Nazi. Selain skill multibahasanya yang mengagumkan (dalam Basterds, Landa diperlihatkan mampu berbicara bahasa Jerman, Inggris, Itali, dan Prancis), Landa juga mampu membangun percakapan yang ramah dan intimidatif sekaligus. Adegan pembuka dalam Basterds memperlihatkan pesona akting Waltz yang membuat kita merasakan ketegangan dalam setiap gerakan, perubahan mimik, dan intonasi yang diperagakan oleh Landa. 

Kepiawaian Tarantino dalam menyutradarai juga turut menciptakan suspens serius dalam penampilan Landa. Misalnya, saat Landa berbincang dengan Emmanuele Mimieux (nama lain dari Shosanna) di meja makan (adegan strudel), terlihat bahwa alur pembicaraan seringkali diinterupsi oleh kedatangan pelayan sehingga ketegangannya justru terasa lebih alamiah. Landa juga kelihatannya digambarkan sebagai Nazi yang keji justru bukan dari penampilan yang seram, melainkan justru dari kesopanan dan kepintaran, yang dalam titik tertentu malah menunjukkan kesan psikopat. 

Kedua, kemampuan membangun percakapan lagi-lagi menjadi kekuatan Tarantino yang memang selalu ditampakkan dalam setiap filmnya. Percakapan dibuat sealamiah mungkin, seperti kita biasa ngobrol diselipi basa-basi, justru supaya setiap konflik yang muncul terasa mengejutkan, seperti keributan yang tiba-tiba hadir di tengah "kehidupan apa adanya". Misalnya, dalam adegan tembak-tembakan di bar, semuanya diawali dari kehidupan biasa-biasa: ada prajurit Jerman yang sedang merayakan kelahiran anak pertamanya, sambil minum bir, lalu ada meja lain yang sedang main kartu. Semua dibuat menyenangkan dengan humor yang asik. Tak ada yang mengira bahwa logat bicara mata-mata Basterds, Letnan Archie Hicox, kemudian menimbulkan kecurigaan bagi Sturmbannführer Dieter Hellstrom. Setelah kecurigaan itu muncul, mereka melanjutkan main kartu dan lagi-lagi Tarantino menghanyutkan kita pada suatu percakapan yang asyik, sebelum kita tahu, diakhiri oleh tragedi "angka tiga" yang berujung pada mexican standoff (ini juga khas Tarantino yang diadopsinya dari film-film Spaghetti Western). 

Ketiga, jangan ragukan kemampuan Tarantino dalam teknik pengambilan gambar. Beberapa adegan begitu berkesan bagi saya karena memperlihatkan skill Tarantino dalam montage dan mise en scène seperti misalnya: zoom in pada perubahan raut muka Landa di adegan pembuka bersama petani bernama Perrier LaPadite; gerakan kamera yang berpindah dari orang ke orang tanpa ada perubahan adegan pada saat Letnan Aldo Reine mengintegorasi tentara Jerman dengan bantuan penerjemah Wilhelm Wicki; kamera yang berputar saat "adegan Itali", tepatnya saat Landa ngobrol dengan Bridget von Hammersmark; visual memikat yang memperlihatkan Shosanna Dreyfus pada awal Chapter Five; momen penembakan yang dilakukan Omar dan Donowitz terhadap Hitler di bioskop dengan kamera yang bergerak cepat seolah-olah kamera itu sendiri sudah "tidak sabar" untuk mengeksekusi sang Führer; dan banyak lainnya, yang membuat saya tak pernah bosan mengulang-ulang klip adegan dari Basterds.  

(Paragraf ini mengandung spoiler yang agak berat) Keempat, secara keseluruhan, cerita dalam Basterds yang ditulis oleh Tarantino juga sangat absurd. Bayangkan, Tarantino membuat versi alternatif kematian Hitler yang bukan di bunker, melainkan di bioskop! Tarantino juga tidak menjadikan sosok tertentu sebagai pahlawan untuk bertahan hingga akhir cerita. Shosanna yang dizalimi dari awal pada akhirnya mati, sebagian besar Basterds yang sempat diglorifikasi juga mati, bahkan Sergeant Wilhelm yang kita dibuat bersimpati karena anaknya baru lahir pun mati. Malah Landa, yang begitu jahat, bertahan hingga akhir dengan hanya menyisakan luka di keningnya. Kita benar-benar disuguhi pikiran liar Tarantino tentang siapa yang mati dan siapa yang tetap hidup, seolah-olah hendak mengatakan: dalam perang, semua pihak mengalami kehancuran. Bahkan mereka yang tetap hidup pun, seperti Landa, punya luka yang akan selalu dibawa-bawa.

Terakhir, dan ini saya baru tahu, bahwa ada film berjudul Inglourious Bastards (bukan Basterds) yang dirilis tahun 1978. Basterds-nya Tarantino memang bukan remake dari Bastards yang disutradarai oleh Enzo G. Castellari.  Namun lagi-lagi kita bisa menemukan humor Tarantino di sini: Enzo G. Castellari memiliki nama lahir Enzo Girolami. Ya, membuat kita teringat adegan Itali di film Basterds: "Gorlooomiii."

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...